Minggu, 30 April 2017

Kematianku

Sekuat apa kau mengusirku, sekuat itu pula rantai-rantai pemberat mengikat kakiku, mencegahku melarikan diri darimu. Lalu apa yang harus aku lakukan ketika bayang-bayang menertawakan secercah cahaya di gelap kesadaranku. Percuma juga rintih itu, sia-sia juga teriakan yang meronta dalam diam itu. Kini, api yang membakar mulai padam. Meninggalkan segenggam abu yang siap kau hanyutkan di kedalaman arus jiwamu. Biarkan ia di situ, lama, dan akhirnya mengendap tak berbentuk. Biarkan ia menjelma peri kecil yang menemanimu menertawakan sebening air yang jatuh di pipiku, membantumu mempertebal kabut di pelupuk mataku. Dan akhirnya membuatku buta. Sebuah keadaan yang kuyakini akan berujung bahagia bagimu. Katamu, mataku adalah racun, maka musnahnya menerbitkan kegirangan dalam hatimu. Ah, selamat bagimu. Kau kini berhak bersorak atas kematianku. Tapi sayangnya, meski aku telah mati, jantungku masih berdenyut meneriakkan sebuah nama yang persis namamu. Mataku masih mencari-cari di mana matamu. Pikiranku masih sibuk mencemaskan bagaimana kabarmu. Dan itulah saat aku mati dalam keadaan tidak tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar