Rabu, 12 April 2017

Ada Rindu

Ada yang tumpah ruah karena sudah terlalu penuh dari dalam hatiku yaitu rindu.
Ada yang menyesak mencoba meloloskan diri menembus dinding-dinding sukmaku yaitu lagi-lagi rindu.
Ada yang kelelahan bahkan berpeluh-peluh tak beraturan menyisakan detak kencang yang saling bersahutan dan itu sekali lagi adalah rindu.
Dan ada yang tetap bertahan tak ingin berhenti, walau akal selalu menyerangnya dengan logika yang paling mematikan sekalipun, yaitu keyakinan yang bermesraan dengan pengertian.
Mereka selalu memaksa dan menyuruh untuk berharap meski dengan teganya menciptakan air mata. Herannya, pada setiap waktu yang bersarang kata tunggu masih juga tak mau mengalah hanya karena marah dan cemburu.
Kekuatan apa yang hati miliki sehingga begitu perkasa menjaga percaya meski tak pernah ada kata "jangan menyerah"...darimu. Sekali lagi aku bertanya kekuatan apa, hm?

Minggu, 09 April 2017

Menahan Diri

Tadi siang sempat emosi, walau tak sampai ngomel ngedumel nggak jelas yang ujung-ujungnya bakalan menambah hati yang terluka. Hanya helaan nafas panjang ditambah pengumuman kecil yang sedikit mengarah ancaman. Hal sepele memang, HP terreset ulang yang membuat segala data yang tersimpan hangus, hilang tak berjejak disertai semua aplikasi ludes yang butuh didownload dan diinstal ulang. Penyebabnya sederhana, seorang eh, tidak beberapa orang adik di sini yang memang tangannya super jahil, akibat tidak mendapat izin mengeksplor isi dalam smartphoneku. Maka, mereka mencoba berbagai pola pada sistem keamanan untuk mencoba membuka kuncinya. Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang suka membuat pola, sandi, pin dsb untuk mengamankan smartphone yang ujung-ujungnya sebenarnya bikin rempong diri sendiri. Tapi, di sini ada beberapa aturan yang memaksa untuk membuat pola-pola rumit tersebut. Dan hasilnya, hari ini harus mengelus dada berkali-kali, bukan adegan sedang menenangkan diri untuk menguat-nguatkan hati. Tapi memang belakangan jika sedang marah besar, serasa ada yang menekan aorta jantung, membuatnya berdebar begitu kencang dan menyisakan denyut kecil di dada. Eh, agak lebay, tapi sepertinya hal itu yang membuat tak bisa melakonkan peran mak emak yang harus volume besar saat ingin memarahi anaknya yang sedang berbuat ulah.
Tapi, di balik peristiwa tidak mengenakkan, selalu ada hikmah yang tersembunyi di sana. Hanya kita saja yang harus jeli menemukannya. Jadi begini, akibat smartphone yang tiba-tiba tereset tadi, maka semua aplikasi yang sudah terinstal ulang adalah bentuk perbaikan terbaru yang kemarin-kemarin ingin saya perbaharui tapi tidak bisa dikarenakan tidak ada lagi ruang penyimpanan. Masalah data yang hilang, yah palingan cuma foto produk yang ingin diiklankan yang besok-besok juga bisa dilakukan lagi prosesi pemotretannya, dan bisa jadi menghasilkan foto yang lebih bagus. Positif thinking ajalah. Yang bikin sedih mungkin adalah beberapa episode terbaru Naruto yang sudah saya download dan belum dipindahkan ke laptop juga raib. Eh, eh kan masih bisa download ulang ding, haha.
Yah, poin pentingnya adalah dikasih kesempatan untuk belajar menahan diri untuk tidak mencak-mencak di hadapan adik-adik yang bertangan jahil. Kan, setiap orang adalah ujian bagi orang lain yah. Jadi yah nikmati saja dan kalau perlu tertawai saja kejahilan mereka. Toh, mereka kan juga masih anak-anak. :D :D :D

Kau

Kau yang ambil paru-paruku. Kau juga yang bertanya kenapa aku tercekik kehabisan napas.
_Brian Khrisna, Merayakan Kehilangan

Gamang

Pada satu waktu tertentu, tiba-tiba ada keadaan dimana hanya bisu dan khawatir berlebih yang tidak tahu asalnya dari mana. Mau bilang "Apa kabar, semua baik-baik saja?" rasanya gagu. Sekiranya ketika kening menyentuh lantai surau dan membisikkan pada diri bahwa semua baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja, itu membuat sejenak resah hilang bersama hembusan angin di sela-sela raka'at. Sebab pada Dia tempat mengadu, kita yakini bahwa setiap waktu Dia mencurahkan penjagaannya pada tiap jiwa yang hamba.

Jumat, 07 April 2017

Mama, Bagaimanalah Bentuk Baktiku Padamu?

Mama, apa kabarmu di sana? Mungkin jika kau sedang menghubungiku dan ingin menanyakan kabarku melalui pesan singkat ke nomor teleponku, maafkan aku. Sebab dari dua hari yang lalu handphoneku ketinggalan di suatu tempat, dan sepertinya sudah kehabisan baterai, tapi tenang saja, kecerobohanku yang selalu kau khawatirkan tentang barang-barangku yang mudah sekali hilang, kali ini aku sedikit berkabar bahwa semuanya aman. Mungkin besok aku akan mengambilnya. Mama, sehat? Sungguh aku ingin sekali menelponmu malam ini. Sekedar berbagi bahwa aku di sini sehat, atau sekedar menerangkan bahwa aku sungguh sudah sangat baik-baik saja di sini.
Mama, maafkan jika belum menjadi anak yang berbakti seutuhnya padamu. Masih jauh dari yang kau harap. Mama, ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Harits Nu'man namanya. Suatu hari ketika Rasulullah sedang berada di surga, Rosulullah mendengar sebuah bacaan Al-Qur'an yang sangat merdu, kemudian beliau bertanya.
"Siapa yang membacanya?".
"Ya Rosulullah, ini adalah bacaan Harits Bin Nu'man."
"Harits?" Tanya Rosulullah heran. "Bukannya dia ada di Madinah, dia belum meninggal tapi bagaimana bisa bacaannya bisa terdengar sampai di surga?."
"Yaa Rosulullah." Jawab malaikat. "Dia berbakti kepada ibunya, sehingga Allah ridho bahwa ketika Harits membaca Al-Qur'an, semua penduduk surga akan mendengarnya." MaasyaaAllah.
Maka, bagaimanalah aku yang kadang masih membuatmu darah tinggi karena ulahku, kadang masih menoreh luka dan membuatmu harus berlinang air mata. Bagaimanalah aku mama, bagaimana?
Mama, suatu hari Rosulullah SAW bersabda seperti ini kepada Umar RA. "Umar, dalam hidupmu akan datang seseorang bernama Uwais, sukunya adalah Amir, keluarganya adalah Qarni, warna kulitnya hitam, tingginya sedang, dan di punggungnya ada titik putih. Ketika dia datang, maka mintalah do'a padanya. Kau, Umar, andaikan ada Nabi lagi setelahku, maka dialah orangnya Umar." Dan kita tahu bersama mama, siapa orang-orang mulia yang selalu bersama Rosulullah, Abu Bakar dan Umar. Dua sahabat yang berada dalam genggaman tangan Rosulullah kelak ketika mereka berdiri saat hari pembangkitan. Dan Uwais, siapa sahabat mulia ini mama?
"Umar, mintalah do'a pada Uwais."
"Yaa Rosulullah, mengapa aku harus meminta Uwais melakukan itu?" Tanya Umar sedikit heran.
"Dia memperlakukan ibunya dengan sangat baik sehingga ketika dia mengangkat tangannya, Allah tidak akan mengembalikannya dalam keadaan hampa." Sabda Rosulullah.
Maka datanglah zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Ketika berhaji, ia berseru "Adakah Uwais Al Qarni dari suku Amir?". Uwais tidak ikut berhaji. Pada suatu riwayat pada tahun itu, Uwais seharusnya berangkat haji namun ibunya memintanya menemaninya. Maka Uwais memilih tinggal di rumah melayani ibunya, tidak meninggalkannya meski untuk sebuah ibadah haji. Maka tahun berikutnya Umar kembali berhaji, dia mengumpulkan seluruh jamaah di depan gunung Abi Qubais.
"Semua penduduk Yaman berdiri, yang lain duduk." Serunya kemudian. Maka penduduk Yaman tetap berdiri.
"Semua penduduk Yaman silahkan duduk kecuali ibnu Amir."
"Semua Ibnu Amir duduk, Al-Qarni tetap berdiri." Maka hanya ada seorang Al-Qarni yang berdiri yang lainnya duduk.
"Kau Qarni"? Tanya Umar. "Ya"
"Apa kau kenal Uwais?"
"Ya, dia keponakanku. Putra dari saudara kandungku. Tapi dia gila, kenapa kau menanyakan tentangnya?". Mendengar itu, Umarpun menangis.
"Dia tidak gila, kaulah yang gila. katakan padaku, apakah dia berhaji?"
"Ya, dia datang" Jawab lelaki yang adalah paman Uwais.
"Di mana dia sekarang?"
"Dia menuju Arafat, membawa untanya merumput di sana."
Mandengar itu, Umar RA dan Ali RA langsung berlari menuju Arafat. Sesampainya di sana, mereka menemukan seseorang sedang berdiri dalam sholat di bawah sebuah pohon sedang di sekitarnya ada unta yang sedang merumput. Umar dan Ali lantas duduk di dekatnya menunggu lelaki ini selesai sholat. Menyadari ada orang, Uwais memperpendek sholatnya. Setelah selesai, Umar langsung bertanya padanya. "Siapa dirimu?".
"Aku seorang pekerja, hamba Allah". Jawab Uwais
"Maksudku nama yang diberikan oleh ibumu, siapa?" Tanya Umar penuh rasa ingin tahu.
"Mengapa engkau mewawancaraiku?" Tanya balik Uwais yang tidak mengatahui jika yang ada di hadapannya adalah dua orang Sahabat Rosul yang seorang di antaranya adalah seorang Khalifah. Uwais adalah seorang penduduk Yaman yang baru sekali ini menginjakkan kakinya di Mekkah. Mana dia tahu wajah mereka, yang dia tahu hanya nama mereka.
"Dia adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab dan aku adalah Ali bin Abi Thalib." Ali yang menjawab kemudian. Mendengar itu, seketika tubuh Uwais gemetar dan lantas memohon maaf dan mengucap salam kepada mereka berdua.
"Nama yang diberikan oleh ibuku adalah Uwais." Ucapnya mengenalkan diri.
"Tanggalkan pakaian dari punggungmu." Seru Umar. Uwais pun membuka bajunya dari punggungnya dan di sana ada titik putih.
"Yaa Uwais, angkatlah tanganmu dan berdo'alah untuk kami berdua." Pinta Umar setelah meyakini bahwa laki-laki di depannya adalah laki-laki yang pernah dinubuatkan oleh Rosulullah.
"Aku?" Tanya Uwais seakan tak percaya "Aku bahkan tak sebanding dengan debu yang ada di kakimu." Lanjutnya dengan haru. "Bagaimana mungkin aku mendo'akan kalian yang lebih mulia dariku." Air matanya tak mampu lagi dibendungnya. Permintaan sang khalifah seketika mengharukan batinnya. Ia merasa tidak pantas. Seorang yang bahkan disangka gila oleh pamannya sendiri.
"Kau harus melakukannya. Rosulullah memberitahu kami bahwa baktimu kepada ibumu telah meninggikan derajatmu. Jika kau berdo'a, Allah berfirman 'Labbaik' ". Maka dengan penuh haru menyelimuti hatinya, Uwais mengangkat tangannya dan mendo'akan dua orang sahabat Rosulullah yang ada di hadapannya, Umar dan Ali. MaasyaaAllah.
Mama, bagaimanalah bentuk bakti yang bisa kupersembahkan padamu. Bahkan aku sangat jarang menanyakan kabarmu di sana. Apalagi sekedar pulang dan mencium punggung tanganmu. Dan ketika aku di rumah, justru aku lebih banyak mendapat pelayanan darimu. Kadang malah menyusahkanmu dan hanya malas-malasan. Bagaimana aku mendekati surga, jika surgaku di bumi yang adalah engkau saja jarang kusambangi. Mama, maafkan aku. Sungguh anakmu ini masih banyak belajar dan berusaha sebaik mungkin menjadi anak. Sedang engkau, meski tak kuminta. Kau selalu ada untukku. Selalu ada. Mama, aku ingin mencintaimu seutuh kau mencintaiku. Aku ingin selalu ada di sampingmu saat kau butuh, seperti engkau yang siap meninggalkan apapun yang kau kerjakan demi hanya untukku. Tapi aku di sini bahkan kadang lalai menyebutmu dalam do'aku. Do'a yang sejatinya berharap mampu melipat jarak yang memisahkan kita. Dengan menyebut namamu dalam do'aku setidaknya kumohon kepada Allah agar dengan itu, mampu mendekatkanku sedikit saja menuju surgaNya.
Mama, baik-baiklah di sana. Aku malam ini sebenarnya sedang merindumu. Rindu yang selalu malu-malu kusebut saat kita berbicara dalam ruang udara. Do'akan aku agar bisa melakukan bakti sebaik mungkin padamu. Selalu. Hingga nanti kita berkumpul kembali di Jannah.

Rona Jingga

Matahari begitu bersyukur hari ini, awan membantunya, teriknya tak terlalu menyiksa manusia. Dan selepas sore, dia bertanya-tanya telah tertunaikankah dengan baik tugas dari Tuhan untuknya. Pada jedah menunggu hingga beberapa detik kemudian untuk terbenam di ufuk barat, dia masih merasa legah setelah menggores kaki langit barat dengan sinar orange yang memesona. Kita kadang lupa berterimakasih padanya. Kadang malah merutuki teriknya yang tak terlalu menyiksa. Bahkan hadirnya telah menyinari kehidupan seluruh makhluk bumi bukan? Dan hingga detik-detik kepergiannya yang perlahan-lahan dan menyisakan takjub pada penghuni bumi, ia mampu menyadarkan kita bahwa ada Zat Maha Kuasa Yang memperjalankannya dengan sangat teratur.

Rabu, 05 April 2017

Hakikat Umur

Dan kadang kita bertanya bahkan meragukan atas mengapa Tuhan hanya menciptakan waktu 24 jam sehari semalam. Mengingat begitu banyak pe er yang menunggu untuk diselesaikan. Nyatanya adalah kita saja yang tidak cakap mengatur waktu. Pada 24 jam itu, telah sempurna pembagian waktu yang Allah siapkan bagi sesiapa yang pintar memanfaatkannya. Maka, tentang umur atau udzur atau mungkin kita mengenal kata "ajal", kemarin dulu saya dapat materi menarik soal ini. Mungkin kita akan sering mengucapkan doa semoga dipanjangkan umur pada yang sedang milad. Dan pertanyaannya adalah, apakah ketika misalnya doa kita terijabah, betulkah umur kita akan diperpanjang? Contoh: umur kita sudah ditentukan sejak kita masih dalam kandungan 60 tahun, dan setiap tahun begitu banyak yang mendoakan agar dipanjangkan umur bahkan malaikatpun mengaminkan. Jika terijabah apakah akan bertambah setahun sehingga umur kita menjadi 61 tahun? Dan kemarin dulu misteri pertanyaan ini terjawab.
Dengan sebuah hadis yang berbunyi "Barang siapa menyambung tali silaturahim maka akan ditambah rezekynya dan dipanjangkan umurnya" si ibu yang memberi materi membuka kajian. Dan memberi pertanyaan seperti pertanyaan saya di atas. Kami yang sedang melingkar ada yang menjawab sekenanya, menebak dan menerka bahwa mungkin saja, karena Allah Maha Segala. Pun dalam soal umur, Allah mudah saja akan menambahnya.
Dan inilah jawaban sang Em Er yang bikin saya juga akhirnya ber "ohhhh" yang sangat panjang. Semoga saya tidak lupa kata-katanya soalnya belakangan seperti sedang diserang malas menulis di setiap pertemuan pekanan. #JanganDitiru.
"Udzur atau umur atau waktu hingga ajal datang adalah sebuah perjalanan diri. Bukan lamanya kita hidup di dunia tapi sepanjang apa perjalanan yang kita telusuri." Masih bingung? Saya pada poin ini pun sedikit bingung. Biar lebih mudah mungkin seperti ini. Umur kita telah tercatat jelas di lauh mahfudz dan beserta catatan sehari-hari kita. Nah umur yang sebenarnya adalah bukan pada angka hari tapi pada angka sejauh mana tapak kaki, sejauh mana kebermanfaatan tiap detik itu. Sebagai contoh, mungkin ada yang seharian tidur saja di rumah hingga malam lagi. Tanpa berbuat apa-apa. Tanpa melakukan kebermanfaatan. Nah, maka catatan kehidupannya pada lembar-lembar diarynya sangat pendek. Misalnya tertulis tanggal 5 april si fulan tidur sampai siang, bangun makan tidur lagi hingga malam. Malam hari begadang nonton film korea sampai subuh. Nah, inilah udzur yang dimaksud betapa pendek catatan hidupnya. Berbeda mungkin bagi yang bangun sebelum subuh melakukan ini itu, selesai subuh langsung berangkat menunaikan kewajiban, silarurahim kesana kemari, menyapa si ini si itu. InsyaaAllah catatan kehidupannya panjang sekali kan? Nah, inilah umurnya, umurnya sehari itu berlembar-lembar.
Nah, jika kita memikirkan hal ini, maka akan sinkronlah dengan hadis pembuka tadi "barang siapa yang menyambung tali silaturahim akan ditambah rezekynya dan dipanjangkan umurnya." Maka, sesiapa yang menyambung tali silarurahim, setiap hari bertandang ke sana ke sini, menyapa si itu si ini. Jelaslah, umurnya panjang.
Bukan mau menceramahi yah, semoga saja ada manfaatnya. Waktu memang seperti anak panah, melesat begitu cepat dan tak terasa umur kita sehari telah ditebasnya. Maka panjangkan langkah-langkah, sambungkan berbagai bentuk silaturahim. Semoga dengan itu, catatan kehidupan kita kelak, ketika dibuka, begitu panjang berisi kebermanfaatan.
Wallahu'alam bisshowwab.