Mama, apa kabarmu di sana? Mungkin jika kau sedang menghubungiku dan ingin menanyakan kabarku melalui pesan singkat ke nomor teleponku, maafkan aku. Sebab dari dua hari yang lalu handphoneku ketinggalan di suatu tempat, dan sepertinya sudah kehabisan baterai, tapi tenang saja, kecerobohanku yang selalu kau khawatirkan tentang barang-barangku yang mudah sekali hilang, kali ini aku sedikit berkabar bahwa semuanya aman. Mungkin besok aku akan mengambilnya. Mama, sehat? Sungguh aku ingin sekali menelponmu malam ini. Sekedar berbagi bahwa aku di sini sehat, atau sekedar menerangkan bahwa aku sungguh sudah sangat baik-baik saja di sini.
Mama, maafkan jika belum menjadi anak yang berbakti seutuhnya padamu. Masih jauh dari yang kau harap. Mama, ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Harits Nu'man namanya. Suatu hari ketika Rasulullah sedang berada di surga, Rosulullah mendengar sebuah bacaan Al-Qur'an yang sangat merdu, kemudian beliau bertanya.
"Siapa yang membacanya?".
"Ya Rosulullah, ini adalah bacaan Harits Bin Nu'man."
"Harits?" Tanya Rosulullah heran. "Bukannya dia ada di Madinah, dia belum meninggal tapi bagaimana bisa bacaannya bisa terdengar sampai di surga?."
"Yaa Rosulullah." Jawab malaikat. "Dia berbakti kepada ibunya, sehingga Allah ridho bahwa ketika Harits membaca Al-Qur'an, semua penduduk surga akan mendengarnya." MaasyaaAllah.
"Siapa yang membacanya?".
"Ya Rosulullah, ini adalah bacaan Harits Bin Nu'man."
"Harits?" Tanya Rosulullah heran. "Bukannya dia ada di Madinah, dia belum meninggal tapi bagaimana bisa bacaannya bisa terdengar sampai di surga?."
"Yaa Rosulullah." Jawab malaikat. "Dia berbakti kepada ibunya, sehingga Allah ridho bahwa ketika Harits membaca Al-Qur'an, semua penduduk surga akan mendengarnya." MaasyaaAllah.
Maka, bagaimanalah aku yang kadang masih membuatmu darah tinggi karena ulahku, kadang masih menoreh luka dan membuatmu harus berlinang air mata. Bagaimanalah aku mama, bagaimana?
Mama, suatu hari Rosulullah SAW bersabda seperti ini kepada Umar RA. "Umar, dalam hidupmu akan datang seseorang bernama Uwais, sukunya adalah Amir, keluarganya adalah Qarni, warna kulitnya hitam, tingginya sedang, dan di punggungnya ada titik putih. Ketika dia datang, maka mintalah do'a padanya. Kau, Umar, andaikan ada Nabi lagi setelahku, maka dialah orangnya Umar." Dan kita tahu bersama mama, siapa orang-orang mulia yang selalu bersama Rosulullah, Abu Bakar dan Umar. Dua sahabat yang berada dalam genggaman tangan Rosulullah kelak ketika mereka berdiri saat hari pembangkitan. Dan Uwais, siapa sahabat mulia ini mama?
"Umar, mintalah do'a pada Uwais."
"Yaa Rosulullah, mengapa aku harus meminta Uwais melakukan itu?" Tanya Umar sedikit heran.
"Dia memperlakukan ibunya dengan sangat baik sehingga ketika dia mengangkat tangannya, Allah tidak akan mengembalikannya dalam keadaan hampa." Sabda Rosulullah.
"Umar, mintalah do'a pada Uwais."
"Yaa Rosulullah, mengapa aku harus meminta Uwais melakukan itu?" Tanya Umar sedikit heran.
"Dia memperlakukan ibunya dengan sangat baik sehingga ketika dia mengangkat tangannya, Allah tidak akan mengembalikannya dalam keadaan hampa." Sabda Rosulullah.
Maka datanglah zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Ketika berhaji, ia berseru "Adakah Uwais Al Qarni dari suku Amir?". Uwais tidak ikut berhaji. Pada suatu riwayat pada tahun itu, Uwais seharusnya berangkat haji namun ibunya memintanya menemaninya. Maka Uwais memilih tinggal di rumah melayani ibunya, tidak meninggalkannya meski untuk sebuah ibadah haji. Maka tahun berikutnya Umar kembali berhaji, dia mengumpulkan seluruh jamaah di depan gunung Abi Qubais.
"Semua penduduk Yaman berdiri, yang lain duduk." Serunya kemudian. Maka penduduk Yaman tetap berdiri.
"Semua penduduk Yaman silahkan duduk kecuali ibnu Amir."
"Semua Ibnu Amir duduk, Al-Qarni tetap berdiri." Maka hanya ada seorang Al-Qarni yang berdiri yang lainnya duduk.
"Kau Qarni"? Tanya Umar. "Ya"
"Apa kau kenal Uwais?"
"Ya, dia keponakanku. Putra dari saudara kandungku. Tapi dia gila, kenapa kau menanyakan tentangnya?". Mendengar itu, Umarpun menangis.
"Dia tidak gila, kaulah yang gila. katakan padaku, apakah dia berhaji?"
"Ya, dia datang" Jawab lelaki yang adalah paman Uwais.
"Di mana dia sekarang?"
"Dia menuju Arafat, membawa untanya merumput di sana."
"Semua penduduk Yaman berdiri, yang lain duduk." Serunya kemudian. Maka penduduk Yaman tetap berdiri.
"Semua penduduk Yaman silahkan duduk kecuali ibnu Amir."
"Semua Ibnu Amir duduk, Al-Qarni tetap berdiri." Maka hanya ada seorang Al-Qarni yang berdiri yang lainnya duduk.
"Kau Qarni"? Tanya Umar. "Ya"
"Apa kau kenal Uwais?"
"Ya, dia keponakanku. Putra dari saudara kandungku. Tapi dia gila, kenapa kau menanyakan tentangnya?". Mendengar itu, Umarpun menangis.
"Dia tidak gila, kaulah yang gila. katakan padaku, apakah dia berhaji?"
"Ya, dia datang" Jawab lelaki yang adalah paman Uwais.
"Di mana dia sekarang?"
"Dia menuju Arafat, membawa untanya merumput di sana."
Mandengar itu, Umar RA dan Ali RA langsung berlari menuju Arafat. Sesampainya di sana, mereka menemukan seseorang sedang berdiri dalam sholat di bawah sebuah pohon sedang di sekitarnya ada unta yang sedang merumput. Umar dan Ali lantas duduk di dekatnya menunggu lelaki ini selesai sholat. Menyadari ada orang, Uwais memperpendek sholatnya. Setelah selesai, Umar langsung bertanya padanya. "Siapa dirimu?".
"Aku seorang pekerja, hamba Allah". Jawab Uwais
"Maksudku nama yang diberikan oleh ibumu, siapa?" Tanya Umar penuh rasa ingin tahu.
"Mengapa engkau mewawancaraiku?" Tanya balik Uwais yang tidak mengatahui jika yang ada di hadapannya adalah dua orang Sahabat Rosul yang seorang di antaranya adalah seorang Khalifah. Uwais adalah seorang penduduk Yaman yang baru sekali ini menginjakkan kakinya di Mekkah. Mana dia tahu wajah mereka, yang dia tahu hanya nama mereka.
"Dia adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab dan aku adalah Ali bin Abi Thalib." Ali yang menjawab kemudian. Mendengar itu, seketika tubuh Uwais gemetar dan lantas memohon maaf dan mengucap salam kepada mereka berdua.
"Nama yang diberikan oleh ibuku adalah Uwais." Ucapnya mengenalkan diri.
"Tanggalkan pakaian dari punggungmu." Seru Umar. Uwais pun membuka bajunya dari punggungnya dan di sana ada titik putih.
"Yaa Uwais, angkatlah tanganmu dan berdo'alah untuk kami berdua." Pinta Umar setelah meyakini bahwa laki-laki di depannya adalah laki-laki yang pernah dinubuatkan oleh Rosulullah.
"Aku?" Tanya Uwais seakan tak percaya "Aku bahkan tak sebanding dengan debu yang ada di kakimu." Lanjutnya dengan haru. "Bagaimana mungkin aku mendo'akan kalian yang lebih mulia dariku." Air matanya tak mampu lagi dibendungnya. Permintaan sang khalifah seketika mengharukan batinnya. Ia merasa tidak pantas. Seorang yang bahkan disangka gila oleh pamannya sendiri.
"Kau harus melakukannya. Rosulullah memberitahu kami bahwa baktimu kepada ibumu telah meninggikan derajatmu. Jika kau berdo'a, Allah berfirman 'Labbaik' ". Maka dengan penuh haru menyelimuti hatinya, Uwais mengangkat tangannya dan mendo'akan dua orang sahabat Rosulullah yang ada di hadapannya, Umar dan Ali. MaasyaaAllah.
"Aku seorang pekerja, hamba Allah". Jawab Uwais
"Maksudku nama yang diberikan oleh ibumu, siapa?" Tanya Umar penuh rasa ingin tahu.
"Mengapa engkau mewawancaraiku?" Tanya balik Uwais yang tidak mengatahui jika yang ada di hadapannya adalah dua orang Sahabat Rosul yang seorang di antaranya adalah seorang Khalifah. Uwais adalah seorang penduduk Yaman yang baru sekali ini menginjakkan kakinya di Mekkah. Mana dia tahu wajah mereka, yang dia tahu hanya nama mereka.
"Dia adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab dan aku adalah Ali bin Abi Thalib." Ali yang menjawab kemudian. Mendengar itu, seketika tubuh Uwais gemetar dan lantas memohon maaf dan mengucap salam kepada mereka berdua.
"Nama yang diberikan oleh ibuku adalah Uwais." Ucapnya mengenalkan diri.
"Tanggalkan pakaian dari punggungmu." Seru Umar. Uwais pun membuka bajunya dari punggungnya dan di sana ada titik putih.
"Yaa Uwais, angkatlah tanganmu dan berdo'alah untuk kami berdua." Pinta Umar setelah meyakini bahwa laki-laki di depannya adalah laki-laki yang pernah dinubuatkan oleh Rosulullah.
"Aku?" Tanya Uwais seakan tak percaya "Aku bahkan tak sebanding dengan debu yang ada di kakimu." Lanjutnya dengan haru. "Bagaimana mungkin aku mendo'akan kalian yang lebih mulia dariku." Air matanya tak mampu lagi dibendungnya. Permintaan sang khalifah seketika mengharukan batinnya. Ia merasa tidak pantas. Seorang yang bahkan disangka gila oleh pamannya sendiri.
"Kau harus melakukannya. Rosulullah memberitahu kami bahwa baktimu kepada ibumu telah meninggikan derajatmu. Jika kau berdo'a, Allah berfirman 'Labbaik' ". Maka dengan penuh haru menyelimuti hatinya, Uwais mengangkat tangannya dan mendo'akan dua orang sahabat Rosulullah yang ada di hadapannya, Umar dan Ali. MaasyaaAllah.
Mama, bagaimanalah bentuk bakti yang bisa kupersembahkan padamu. Bahkan aku sangat jarang menanyakan kabarmu di sana. Apalagi sekedar pulang dan mencium punggung tanganmu. Dan ketika aku di rumah, justru aku lebih banyak mendapat pelayanan darimu. Kadang malah menyusahkanmu dan hanya malas-malasan. Bagaimana aku mendekati surga, jika surgaku di bumi yang adalah engkau saja jarang kusambangi. Mama, maafkan aku. Sungguh anakmu ini masih banyak belajar dan berusaha sebaik mungkin menjadi anak. Sedang engkau, meski tak kuminta. Kau selalu ada untukku. Selalu ada. Mama, aku ingin mencintaimu seutuh kau mencintaiku. Aku ingin selalu ada di sampingmu saat kau butuh, seperti engkau yang siap meninggalkan apapun yang kau kerjakan demi hanya untukku. Tapi aku di sini bahkan kadang lalai menyebutmu dalam do'aku. Do'a yang sejatinya berharap mampu melipat jarak yang memisahkan kita. Dengan menyebut namamu dalam do'aku setidaknya kumohon kepada Allah agar dengan itu, mampu mendekatkanku sedikit saja menuju surgaNya.
Mama, baik-baiklah di sana. Aku malam ini sebenarnya sedang merindumu. Rindu yang selalu malu-malu kusebut saat kita berbicara dalam ruang udara. Do'akan aku agar bisa melakukan bakti sebaik mungkin padamu. Selalu. Hingga nanti kita berkumpul kembali di Jannah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar