Rabu, 05 April 2017

Hakikat Umur

Dan kadang kita bertanya bahkan meragukan atas mengapa Tuhan hanya menciptakan waktu 24 jam sehari semalam. Mengingat begitu banyak pe er yang menunggu untuk diselesaikan. Nyatanya adalah kita saja yang tidak cakap mengatur waktu. Pada 24 jam itu, telah sempurna pembagian waktu yang Allah siapkan bagi sesiapa yang pintar memanfaatkannya. Maka, tentang umur atau udzur atau mungkin kita mengenal kata "ajal", kemarin dulu saya dapat materi menarik soal ini. Mungkin kita akan sering mengucapkan doa semoga dipanjangkan umur pada yang sedang milad. Dan pertanyaannya adalah, apakah ketika misalnya doa kita terijabah, betulkah umur kita akan diperpanjang? Contoh: umur kita sudah ditentukan sejak kita masih dalam kandungan 60 tahun, dan setiap tahun begitu banyak yang mendoakan agar dipanjangkan umur bahkan malaikatpun mengaminkan. Jika terijabah apakah akan bertambah setahun sehingga umur kita menjadi 61 tahun? Dan kemarin dulu misteri pertanyaan ini terjawab.
Dengan sebuah hadis yang berbunyi "Barang siapa menyambung tali silaturahim maka akan ditambah rezekynya dan dipanjangkan umurnya" si ibu yang memberi materi membuka kajian. Dan memberi pertanyaan seperti pertanyaan saya di atas. Kami yang sedang melingkar ada yang menjawab sekenanya, menebak dan menerka bahwa mungkin saja, karena Allah Maha Segala. Pun dalam soal umur, Allah mudah saja akan menambahnya.
Dan inilah jawaban sang Em Er yang bikin saya juga akhirnya ber "ohhhh" yang sangat panjang. Semoga saya tidak lupa kata-katanya soalnya belakangan seperti sedang diserang malas menulis di setiap pertemuan pekanan. #JanganDitiru.
"Udzur atau umur atau waktu hingga ajal datang adalah sebuah perjalanan diri. Bukan lamanya kita hidup di dunia tapi sepanjang apa perjalanan yang kita telusuri." Masih bingung? Saya pada poin ini pun sedikit bingung. Biar lebih mudah mungkin seperti ini. Umur kita telah tercatat jelas di lauh mahfudz dan beserta catatan sehari-hari kita. Nah umur yang sebenarnya adalah bukan pada angka hari tapi pada angka sejauh mana tapak kaki, sejauh mana kebermanfaatan tiap detik itu. Sebagai contoh, mungkin ada yang seharian tidur saja di rumah hingga malam lagi. Tanpa berbuat apa-apa. Tanpa melakukan kebermanfaatan. Nah, maka catatan kehidupannya pada lembar-lembar diarynya sangat pendek. Misalnya tertulis tanggal 5 april si fulan tidur sampai siang, bangun makan tidur lagi hingga malam. Malam hari begadang nonton film korea sampai subuh. Nah, inilah udzur yang dimaksud betapa pendek catatan hidupnya. Berbeda mungkin bagi yang bangun sebelum subuh melakukan ini itu, selesai subuh langsung berangkat menunaikan kewajiban, silarurahim kesana kemari, menyapa si ini si itu. InsyaaAllah catatan kehidupannya panjang sekali kan? Nah, inilah umurnya, umurnya sehari itu berlembar-lembar.
Nah, jika kita memikirkan hal ini, maka akan sinkronlah dengan hadis pembuka tadi "barang siapa yang menyambung tali silaturahim akan ditambah rezekynya dan dipanjangkan umurnya." Maka, sesiapa yang menyambung tali silarurahim, setiap hari bertandang ke sana ke sini, menyapa si itu si ini. Jelaslah, umurnya panjang.
Bukan mau menceramahi yah, semoga saja ada manfaatnya. Waktu memang seperti anak panah, melesat begitu cepat dan tak terasa umur kita sehari telah ditebasnya. Maka panjangkan langkah-langkah, sambungkan berbagai bentuk silaturahim. Semoga dengan itu, catatan kehidupan kita kelak, ketika dibuka, begitu panjang berisi kebermanfaatan.
Wallahu'alam bisshowwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar