Selasa, 02 Mei 2017

Ngantuk

Aku menyeka air di sudut mata. Entah sudah berapa kali aku menguap. Aku melirik jam di dinding, baru pukul delapan. Semalam memang aku tidak tidur sampai subuh. Badanku malah pegal-pegal berbalik kiri kanan kayak sate yang lagi dibakar. Sate aja nggak sampai semalaman di bolak balik. Huh, mana aku harus begadang malam ini buat selesaikan tugas yang sudah di ujung deadline. Wajah sudah kubasuh berkali-kali, kopi kental sudah habis kuteguk. Hanya mata yang tidak mau kompromi.
Hoammm, sekali lagi aku menutup mulut dengan punggung tangan kiri. Kali ini dibarengi dengan air kelenjar yang keluar cukup banyak. Buru-buru kulap dengan ujung lengan baju, sebentar kalau ada yang lihat dikiranya aku nangis gara-gara apa. Ah, sudahlah, mungkin saatnya tidur walau hanya semenit. Kata mama, nggak boleh paksakan diri, nanti malah sakit. Yang repot siapa coba?
Mataku segera merapat seiring kepala menyentuh benda empuk di ujung tempat tidur. Keesokan harinya, aku gelagapan melihat jam di handphoneku. Pukul 12.00.

Bintang

Aku baru tahu kalau bintang yang bercahaya paling terang di angkasa adalah juga yang paling cepat mati. Suhu yang sangat tinggi membuat massanya cepat habis dan lama-lama hilang. Tapi sayangnya, aku terlanjur mengagumi bintang yang paling terang. Menatap dan berandai-andai bisa memetiknya. Ah, pikiran bodoh. Meski begitu, aku rasa justru itu keistimewaannya. Hadirnya cuma sebentar, tapi cahayanya mampu menenangkan jutaan hati yang sedang jatuh pada kedalaman yang sangat gelap.

Minggu, 30 April 2017

Kematianku

Sekuat apa kau mengusirku, sekuat itu pula rantai-rantai pemberat mengikat kakiku, mencegahku melarikan diri darimu. Lalu apa yang harus aku lakukan ketika bayang-bayang menertawakan secercah cahaya di gelap kesadaranku. Percuma juga rintih itu, sia-sia juga teriakan yang meronta dalam diam itu. Kini, api yang membakar mulai padam. Meninggalkan segenggam abu yang siap kau hanyutkan di kedalaman arus jiwamu. Biarkan ia di situ, lama, dan akhirnya mengendap tak berbentuk. Biarkan ia menjelma peri kecil yang menemanimu menertawakan sebening air yang jatuh di pipiku, membantumu mempertebal kabut di pelupuk mataku. Dan akhirnya membuatku buta. Sebuah keadaan yang kuyakini akan berujung bahagia bagimu. Katamu, mataku adalah racun, maka musnahnya menerbitkan kegirangan dalam hatimu. Ah, selamat bagimu. Kau kini berhak bersorak atas kematianku. Tapi sayangnya, meski aku telah mati, jantungku masih berdenyut meneriakkan sebuah nama yang persis namamu. Mataku masih mencari-cari di mana matamu. Pikiranku masih sibuk mencemaskan bagaimana kabarmu. Dan itulah saat aku mati dalam keadaan tidak tenang.

Rabu, 26 April 2017

Suara Keagungan

Alam menyuarakan keagungan Tuhan dipadu merdu adzan yang bersahutan. Malam segera menjelang... Namun apakah telah tunai tugas hamba dari terang mentari pagi hingga tenggelam di ufuk barat? Atau masih meminta jatah waktu hingga pekat nanti sebab ternyata lebih banyak tumpukan kewajiban dibanding waktu yang tersedia? Dan ketika deadline mengejar, bersemangatlah dan berkawan baiklah dengan detik-detik yang memburu.

Tawa Waktu

Waktu terus menertawaiku. Seperti kau yang dengan teganya menertawai tangisanku. Tidak cukupkah masa yang berteriak patah-patah oleh kenangan yang kian menguat? Apa sabar perlu diuji, sedang marah masih basah oleh kata maaf?

Senyum Bijak

Dari jauh kulihat dia mengepalkan kedua tangan dan menghentakkan sedikit ke arah pinggang. Dia tidak sedang memenangkan sebuah pertandingan yang membuatnya melakukan pose seperti itu sambil berkata "yes", tapi saat melihatku sedang kepayahan menyelesaikan tugasku, dia memandangku sesaat melakukan pose seperti itu sambil melempar senyum khasnya yang bijak. 
"Semangat! Kamu bisa,," Begitu kira-kira terkaanku soal pikirannya yang tak sempat dia teriakkan, dia berada di seberang jalan yang memisahkan kami dengan banyaknya kendaraan lalu lalang. Dia sepertinya sadar bahwa aku selalu dapat menerka maksud isyaratnya meski tak perlu teriakan kencang untuk meyakinkanku. Sungguh, terimakasih untuk dukungannya selama ini. Aku merasa kuat meski hanya melihat senyum bijakmu itu.

Menunggu

Rasa-rasanya wajahku sudah terlipat-lipat tak beraturan ditambah mataku yang tinggal 5 watt yang buramnya tidak ketulungan. Tubuhku ikut-ikutan lemas sebab belum sesuap makanan pun masuk sekedar singgah sebentar di lambungku. Sekali lagi kulirik jam yang ada di handphoneku. Sudah 5 jam aku menunggunya. Bayangkan, subuh-subuh buta dia menelponku mengajak bertemu jam 8 pagi tadi, dan sekarang sudah pukul 13.30. Kelewatan. Buku setebal 200 halaman saja sudah habis kulahap sejak satu jam yang lalu. Sisa baterai handphoneku juga tinggal 10%, sebentar kalau dia menghubungiku dan handphoneku sudah mati, yah salah siapa? Dia selalu begitu, terlalu tega membuatku menunggu tanpa ada kabar. Sejak pagi tadi hampir 20 kali aku mencoba menghubunginya. Dari 20 panggilan, hanya 2 yang dia jawab. Pertama, saat dia masih sarapan, tenang sekali dia makan sedang aku, minum segelas air putih saja belum. Yang kedua, dia mengkonfirmasi sedang OTW, On The Way ke toilet mungkin.
Sebentar kalau dia datang, tunggu saja, akan kubuat dia babak belur. Subuh tadi, saat nyawaku belum sepenuhnya terkumpul, dia membuatku hampir sakit jantung. Katanya ada hal yang gawat, dia tak bisa menceritakannya lewat seluler, harus bertemu langsung dan dengan sepihak dia membuat janji bertemu jam 8. Jam 8 dengkulnya? Ini saja matahari sudah terik-teriknya. Jika lima menit lagi dan dia belum datang, sumpah, aku akan cabut segera. Terserah, pokoknya aku sudah capek, juga lapar, juga ngantuk. Dia nggak tahu saja, orang yang lapar plus ngantuk biasanya mau makan orang.
Baru saja aku menyampirkan tas kecilku di bahu bermaksud kembali ke rumah, dari jauh kulihat dia seperti berlari terburu-buru. Aku seketika berdiri sambil bersedekap dada dan membuang muka, aku lupa tentang ingin membuatnya babak belur.
"Ma...maaf, aku telat." katanya membungkuk terbatuk-batuk seraya memegangi kedua lututnya. Aku hanya terdiam, kebiasaan jika terlalu marah, semua kata-kata jelek yang memenuhi kepalaku yang sudah kurancang untuk kutumpahkan padanya akhirnya hanya mengendap di dasar kepala. Dengan masih membungkuk, satu tangannya terangkat menjulur ke arahku, di genggamannya ada dua bungkus cokelat. Ah, yang benar saja, dia kira aku anak kecil yang bisa diiming-imingi dengan benda seperti itu? Sekali lagi aku hanya diam tak bergerak dengan memasang tampang paling jelek sejagad raya.
Menyadari aku hanya terdiam dari tadi, dia akhirnya meluruskan tubuhnya. Sambil menggaruk kepalanya yang aku yakini tidak gatal sama sekali, dia sekali lagi menyodorkan 2 bungkus cokelat besar yang ada di tangan yang satunya sambil memohon maaf berkali-kali. Aku menarik nafas panjang sambil menurunkan tanganku yang beralih menggenggam tali tasku, siap menumpahkan segala protes-protesku. Belum sepatah katapun yang keluar dari mulutku, tiba-tiba ada yang berbunyi yang asalnya dari perutku. Membuatnya yang tadinya siap kumarah-marahi, malah tertawa terbahak-bahak demi mendengar suara perutku yang kelaparan.
"Tuh kan perutmu saja sudah tidak sabar ingin mengambil cokelat ini, jangan marah. Maaf, hahahaha." Meski marah, aku tetap saja malu dengan keadaan seperti itu, aku hanya menggeram dan menggigit bibir bawahku.
Tujuh menit kemudian, 2 bungkus cokelat telah habis kulahap, disertai omelan panjang yang rasanya tak berujung.
"Jadi, apa yang gawat?"