Rabu, 26 April 2017

Menunggu

Rasa-rasanya wajahku sudah terlipat-lipat tak beraturan ditambah mataku yang tinggal 5 watt yang buramnya tidak ketulungan. Tubuhku ikut-ikutan lemas sebab belum sesuap makanan pun masuk sekedar singgah sebentar di lambungku. Sekali lagi kulirik jam yang ada di handphoneku. Sudah 5 jam aku menunggunya. Bayangkan, subuh-subuh buta dia menelponku mengajak bertemu jam 8 pagi tadi, dan sekarang sudah pukul 13.30. Kelewatan. Buku setebal 200 halaman saja sudah habis kulahap sejak satu jam yang lalu. Sisa baterai handphoneku juga tinggal 10%, sebentar kalau dia menghubungiku dan handphoneku sudah mati, yah salah siapa? Dia selalu begitu, terlalu tega membuatku menunggu tanpa ada kabar. Sejak pagi tadi hampir 20 kali aku mencoba menghubunginya. Dari 20 panggilan, hanya 2 yang dia jawab. Pertama, saat dia masih sarapan, tenang sekali dia makan sedang aku, minum segelas air putih saja belum. Yang kedua, dia mengkonfirmasi sedang OTW, On The Way ke toilet mungkin.
Sebentar kalau dia datang, tunggu saja, akan kubuat dia babak belur. Subuh tadi, saat nyawaku belum sepenuhnya terkumpul, dia membuatku hampir sakit jantung. Katanya ada hal yang gawat, dia tak bisa menceritakannya lewat seluler, harus bertemu langsung dan dengan sepihak dia membuat janji bertemu jam 8. Jam 8 dengkulnya? Ini saja matahari sudah terik-teriknya. Jika lima menit lagi dan dia belum datang, sumpah, aku akan cabut segera. Terserah, pokoknya aku sudah capek, juga lapar, juga ngantuk. Dia nggak tahu saja, orang yang lapar plus ngantuk biasanya mau makan orang.
Baru saja aku menyampirkan tas kecilku di bahu bermaksud kembali ke rumah, dari jauh kulihat dia seperti berlari terburu-buru. Aku seketika berdiri sambil bersedekap dada dan membuang muka, aku lupa tentang ingin membuatnya babak belur.
"Ma...maaf, aku telat." katanya membungkuk terbatuk-batuk seraya memegangi kedua lututnya. Aku hanya terdiam, kebiasaan jika terlalu marah, semua kata-kata jelek yang memenuhi kepalaku yang sudah kurancang untuk kutumpahkan padanya akhirnya hanya mengendap di dasar kepala. Dengan masih membungkuk, satu tangannya terangkat menjulur ke arahku, di genggamannya ada dua bungkus cokelat. Ah, yang benar saja, dia kira aku anak kecil yang bisa diiming-imingi dengan benda seperti itu? Sekali lagi aku hanya diam tak bergerak dengan memasang tampang paling jelek sejagad raya.
Menyadari aku hanya terdiam dari tadi, dia akhirnya meluruskan tubuhnya. Sambil menggaruk kepalanya yang aku yakini tidak gatal sama sekali, dia sekali lagi menyodorkan 2 bungkus cokelat besar yang ada di tangan yang satunya sambil memohon maaf berkali-kali. Aku menarik nafas panjang sambil menurunkan tanganku yang beralih menggenggam tali tasku, siap menumpahkan segala protes-protesku. Belum sepatah katapun yang keluar dari mulutku, tiba-tiba ada yang berbunyi yang asalnya dari perutku. Membuatnya yang tadinya siap kumarah-marahi, malah tertawa terbahak-bahak demi mendengar suara perutku yang kelaparan.
"Tuh kan perutmu saja sudah tidak sabar ingin mengambil cokelat ini, jangan marah. Maaf, hahahaha." Meski marah, aku tetap saja malu dengan keadaan seperti itu, aku hanya menggeram dan menggigit bibir bawahku.
Tujuh menit kemudian, 2 bungkus cokelat telah habis kulahap, disertai omelan panjang yang rasanya tak berujung.
"Jadi, apa yang gawat?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar