Rabu, 07 November 2018

Pengampunan

Surat itu masih tergeletak di atas meja
Sudah lama bahkan telah berdebu ia
Kesepian dan hampir saja menangisi dirinya yang seolah terbuang
Siapa yang tega membiarkannya seperti itu?

Isinya memang banyak yang tidak begitu memahaminya
Bahkan kesulitan membacanya
Penuh teka teki di setiap kata perkatanya
Apa itu alasan yang tepat untuk mengabaikannya?

Bukan, bukan itu
Bukankah sudah banyak yang mengingatkan untuk senantiasa membacanya?
Bahkan setiap detik seharusnya surat cinta yang penuh romansa itu menjadi oksigen di tiap hirup nafas kita

Lalu, imanlah yang semakin tergerus
Sujud-sujud yang sudah tidak lagi panjang
Do'a-do'a yang sekenanya saja terucap
Malah banyak yang tidak lagi melafalkan baris-baris pinta

Sang Penulis Kehidupan, yang merindu
Yang tetap menunggu
Yang tidak berhenti kasih sayangNya
Yang telah dulu memgampuni sebelum istighfar terucap

Yang setiap nafas hidup kita Dia belai dengan sangat lembut
Menuliskan surat cinta itu untuk menghibur hati yang sedang bersedih
Yang memberi petunjuk bagi yang sesat
Yang mengobati si sakit
Merahmati siapapun yang membacanya

Ampuni lalai yang sangat tega ini
Ampuni cinta yang hanya mengaku saja
Ampuni rindu yang tiada lagi tersedu
Ampuni lisan yang tiada lagi basah oleh dzikir
Ampuni mata yang tiada lagi menangisi dosa
Ampuni tangan yang tiada mendekap surat cintaMu
Ampunilah dosa-dosa yang memenuhi hati
Sungguh, hanya Engkau Yang Maha Hebat mengampuni lalai dan segala dosa-dosa.

Lalu jadikanlah kami hambaMu yang paling mencintaiMu
Allahu Robb semesta alam.

r.i.a

Duka itu seperti apa?

Seperti meramu sesuatu pada sebuah wadah ada kadarnya masing-masing, tidak bisa kurang karena tidak pas, tidak bisa berlebih karena akan tumpah. Mungkin seperti itu sebuah duka. Diberi kepada sesiapa sesuai kadar kesanggupan menghadapinya.

Tadi pagi sehabis membaca postingan beberapa teman di fb saya langsung ngomong sama kakak "Masih ingat teman saya yang ngajak ke Toraja dulu? Yang singgah di rumah.  Yang satu-satunya perempuan." Kakak masih ingat. "Hari ini dia menikah, tapi sedihnya pagi ini juga mamanya dipanggil Allah" Saya tidak kuat melanjutkan dan hanya berkaca-kaca. "Wiii, kodong." Lalu kami berdua hanya bisa saling memandang, kakak saya ikutan berkaca-kaca tapi saya sudah tidak kuat, air mata luruh seketika. Beberapa waktu kemudian, ada yang memposting foto di bawah. Saya kembali ke kamar, kembali berderai, dada sesak, membayangkan bagaimana perasaan kakak yang memiliki senyum paling cemerlang ini, punya tawa yang merdu, binar mata yang selalu tersenyum tapi tidak kali ini. Saya sebenarnya sudah siap bilang "Ciye, akhirnya jadi istri" dengan emot mengejek hari ini. Seharusnya di grup "Enrekang Troop" Penuh bullyan ciye ciye tapi kami tahu ini tidak tepat. Kami lalu bingung harus mengatakan apa.

Dia adalah kakak perempuan semesta. Kak Atun. Kami mengenalnya sosok yang kuat. Saya sebenarnya satu almamater dengannya tapi ajaibnya kami baru akrab selepas jadi alumni. Semenjak kuliah saya sudah mengidolakannya sebenarnya. Dari jauh. Dia memiliki tulisan-tulisan yang keceh badai. Pertama kali bertemu ketika ada agenda pengolahan data di dpd, saya malah surprise. Kirain kak Atun orang yang kaku dan semacamnya. Tapi jauh bedaaaa, orangnya humble, rame dan asik. Siapapun yang dekat dengannya akan merasa sangat disayang olehnya.

Sekitar 2 tahun lalu kembali kami dipertemukan dalam sebuah proyek. Sekantor dengan orang-orang hebat lainnya. Beberapa saat kemudian kami yang cuma bertiga perempuan di proyek tersebut memutuskan untuk tinggal bersama. Ah, narasinya tidak begitu. Saya bersama seorang adik partner si Muz yang nebeng di kosan kak Atun dan seorang teman kosnya. Kos pelangi, di tamalanrea. Kami lalu lebih mengenal satu sama lain. Lebih memahami satu sama lain. Sayalah yang paling banyak menyusahkan sebenarnya, paling malas dan paling suka-sukanya. Meski begitu, mereka masih saja sayang. Ada kak Mitha di sebelah. Mereka berdua semacam kakak juga mama. Suka menyuruh-nyuruh sesuatu yang untuk kebaikan saya. Nyuruh mandi, nyuruh sikat gigi sebelum tidur dengan tertib. Kak Atun selalu bilang "Kalau malas dari sekarang sikat gigi, nanti kalau tua baru tau rasa". Nyuruh minum air putih yang banyak. Nyuruh makan, walau saya suka lebih memilih tidur ketika dihadapkan pada dua keadaan, lapar dan ngantuk. Mereka tidak mengizinkan saya tidur kalau belum makan. Bahkan mereka siapkan segala. Hidup hampir 3 bulan bersama lalu mengerjakan hal yang sama dan kemana-mana bersama rasanya kita lebih dari seorang adik kakak saja. Di sebuah kamar di kos pelangi itu setiap hari tawa kami meledak. Saya tidak pernah membayangkan akan hidup dengan seseorang yang dulu adalah idola saya.

Beberapa waktu yang lalu kakak keceh ini menyebarkan undangan pernikahannya. Alhamdulillah. Tidak lupa undangan spesial untuk "Enrekang Troops" itu untuk member yang jalan-jalan ke enrekang dan toraja sekitar 3 bulan lalu. Kami lalu mencie ciekan. Secara, grup itu kakak ini yang paling ditunggu undangannya. Tepat hari ini akadnya.

Tapi apa yang membuat cie cie itu tidak lagi menerbitkan tawa dan serasa hambar bahkan getir? Duka itu. Duka itu datang tepat beberapa jam saja sebelum akad. Pukul 06.30 mama kak Atun, orang yang disayanginya dipanggil oleh Allah selama-lamanya. Membuat ijab kabul itu terasa getir. Bergema di antara isak tangis, di depan jenazah sang mama. 😭😭😭

Kak Atun, perempuan semesta yang kami kenal adalah perempuan yang kuat. Sangat kuat. Yang punya senyum paling cemerlang, tawa yang merdu, binar mata yang selalu tersenyum. Saya pernah mendengar, cobaan besar diberikan kepada orang yang besar, cobaan hebat diberikan kepada orang hebat. Sesuai wadahnya. Kami menyayangimu, tapi Allah Yang Maha Pengasih lebih menyayangimu dengan ujian ini.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wafuanha untuk mamata.

Kakak Atun, selamat sudah jadi istri. Barokah kehidupan baruta. Sakinah mawaddah warohmah. Walau tidak akan sama tapi Allah menghadirkan seseorang yang menyayangimu seperti mama menyayangimu. Uhibbukifillah.

r.i.a

Dukanya pada Idul Adha

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un

Sudah beberapa hari ini langit di atas rumah begitu cerah dan saya sangat suka melihatnya. Tapi tidak sore tadi, tidak sama sekali. Bahkan udara di sekitar tampak begitu berkabut, hujan masih turun rintik-rintik. Sangat nyaman untuk terlelap. Saya sedang bersembunyi di balik selimut tebal ketika tiba-tiba hape saya berdering. "Ada telpon ria, dari Marha" sahut si bontot yang sedang memainkan sebuah game ofline di smartphone saya. Telepon dari seorang ukhty yang suka sekali menanyakan "Sudah makan?" ketika sedang menelpon. Tapi tadi saya tidak mendengar pertanyaannya itu. Dia sedang menangis pedih di ujung sana. Dengan menguat-nguatkan diri dia memberitahu kabar duka itu. Bapaknya dipanggil oleh Allah SWT selama-lamanya. Sejenak saya hanya bisa tertegun, kerongkongan yang tercekat, hampir bingung harus mengatakan apa. Sangat sedih rasanya, kalau bisa saya ada di sana sekarang juga untuk sekadar memeluknya dan memberi kata-kata penguat lainnya. Walau itu tidak banyak membantu, tapi keadaan mengharuskan saya hanya bisa mengatakan beberapa patah kata bela sungkawa dan kata-kata penguat lainnya lewat udara.

Lalu saya sibuk mengabari teman-teman kami tentang berita duka ini. Memohon do'a agar Pak e diterima di sisi Allah, di tempatkan di tempat terbaik. Sungguh, beliau adalah orang yang baik. Sangat baik. Saya tidak mengatakannya begitu saja tanpa merasakan kebaikannya. Ketika Marha saudariku ini menikah awal tahun lalu, saya datang ke rumahnya di Bone-bone. Saya datang lebih dulu, 3 hari sebelum hari H. Saya disambut dengan sangat baik. Diperlakukan seperti anak sendiri, bahkan mereka tidak keberatan ketika saya panggil mereka pak e dan mak e. Sepersis panggilan bapak dan ibu sohib saya ini kepada mereka. Selain mereka begitu takjub, bisa-bisanya kami sangat mirip. Ah, bukan rahasia lagi bahwa saya dan teman saya ini selalu disangka saudara kembar oleh beberapa orang. Lalu, di rumah seketika menjadi heboh, bukde-bukdenya Marha selalu tertawa renyah ketika ada yang salah mengira kalau saya Marha. Saya hanya senyum-senyum malu-malu. Yang lebih parahnya adalah ketika sehari sebelum hari bahagia, kami sedang belajar wedding make up. No no, bukan kami, hanya Marha, make up seadanya, karena di akadnya, dia memoles wajahnya sendiri. Dan ketika hampir selesai memoles wajahnya. Mak e datang. Dan langsung mengajak saya bicara, dikiranya saya Marha dan yang make up an adalah saya. Lalu Mak e tidak berhenti tertawa ketika mengetahui yang mana kami sebenarnya. Mak e dan semua orang di rumah yang ramai waktu itu sangat baik kepada saya. Selalu menyuruh makan, tidak menganggap orang lain dan bahkan ketika saya sudah pulang ke makassar, beliau mencium kedua pipi saya sambil mengucapkan banyak terimakasih padahal saya tidak banyak membantu, membantu mengahabiskan makanan iyyah. Dan saya yakin, sekarang mak e sangat sedih kehilangan pak e. Rasanya ingin kesana sekarang juga dan memeluk mak e biar tidak sedih lagi dan lagi.

Lalu Pak e. Beliau tidak pernah menyangka saya marha. Sepertinya beliau sangat tahu yang mana anak kandungnya. Dan suatu pagi setelah acara pernikahan telah selesai, Pak e sedang makan pisang masak di meja makan. Saya dipanggilnya untuk ikut makan. Saya lantas makan dan dengan bahagianya berkata kalau pisang itu enak sekali. Lalu apa yang dilakukan pak e? Besoknya ketika saya sudah mau balik ke makassar, beliau sibuk memasukkan bersisir pisang teman yang kami makan di meja makan kemarin bersama kue-kue yang disiapkan mak e ke dalam kardus dan membungkusnya sambil berkata "Ini untuk ria" untuk sejenak hati saya begitu hangat dan tidak terasa mata saya berair. Saya mengingat almarhum bapak yang juga suka sekali mengemas apa-apa di kardus untuk saya bawa ke makassar. Dan melihat Pak e melakukannya untuk saya, saya seketika sangat bahagia. Allah, Engkau yang paling tahu seberapa baiknya sosok Pak e, Engkau yang paling tahu di tempat terbaik mana beliau layak ditempatkan.

Dan saya jadi mengerti kenapa langit di atap rumah tiba-tiba berubah menjadi kabut.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihiwa'fu'anhu. Yaa Allah, terimalah segala amal beliau, ampuni dosa-dosanya, lapangkan kuburnya, terangilah dengan cahayaMu dan penuhilah dengan kenikmatan. Allahumma aamiin.

Catatan Sebelum (menuju) Pernikahan

Marriage is a little bit like gambling, isn’t it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. Waktu kita duduk di depan meja poker atau blackjack atau dice, kita bisa memilih ingin mempertaruhkan seberapa banyak. Sedikit, sepertiga, setengah, atau semua. Kemenangan yang bisa kita
peroleh atau kekalahan yang harus kita tanggung semua, tergantung dari seberapa besar risiko yang berani kita
ambil. Tapi pernikahan tidak begitu. Saat kita duduk di depan meja penghulu dan melaksanakan ijab kabul, semua kita ”pertaruhkan”. Cinta, hati, tubuh, pemikiran,
keluarga, idealisme, masa depan, karier, setiap sel keberadaan kita sebagai manusia. Tidak bisa setengah-setengah. Saat menang, kita memang bisa memenangkan jauh
lebih besar daripada yang kita pertaruhkan. Cinta yang kita rasakan bisa berlipat-lipat, tubuh kita tidak lagi satu tapi sudah bisa melahirkan keturunan yang lucu-lucu. In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that.

Note: Kata-kata di atas jelas bukan buah tangan saya. Saya dapat dari catatan yang entah dari mana saya copy. Kalau nggak salah ingat dari novelnya Ika Natassa, yang critical eleven atau antologi rasa. Entahlah. Tapi, jelasnya, saya copy bukan tanpa alasan. Menjadi catatan penting untuk para single. Bahwa hey, nikah gag segampang itu yehhh. Kita kayak mempertaruhkan banyak hal yang kita miliki. Makanya, sebelum deal dealan, lihat-lihat dulu dia kualitasnya kayak gimana. Dannnn, kualitas kita kayak gimana juga. Wajar aja mengharapkan yang sekelas Nabi Muhammad SAW uhuk, tapi apakah kita sudah sebaik Ibunda Khodijah? Nah, lalu bagaimana biar nggak rugi ketika sudah mempertaruhkan segalanya dan nggak menyesal di kemudian hari? Dari diri kita bos. Kalau kita baik, kita akan mendapatkan yang baik pula. Sudah sering dengar kan firman Allah "Wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik dan sebaliknya". Tugas kita setelah mengajak diri kita baik adalah very very believe bahwa Allah gag akan ingkar janji. Jodohmu sesuai dirimu. Itu aja sih. Ahhhhh, maafkan saya yang belakangan ini suka tulis yang beginian, padahal masih unyu-unyu. Peace. Cuma sekadar alarm buat diri, biar makin baik. Etapi, tujuan utama menjadi baik bukan itu yah, tapi mengharapkan ridho dari Allah. Semangat para singlelillah. 😊😊

r.i.a

ISTRI BAHAGIA ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN PERKAWINAN

Saya tidak tahu apakah nanti akhirnya saya bertemu dengan seseorang dan menjalani sebuah pernikahan. Siapa yang tahu. Tapi, sebagai seorang perempuan yang juga mendambakan sebuah ikatan dan menjalankan ibadah yang disebut pernikahan, adalah hal wajar mengetahui ilmu-ilmu seperti ini. Sebenarnya, ini sangat cocok untuk yang sudah menikah. Saya copy dari fb pak Cahyadi Takariawan. Penulis hebat tentang wedding, parenting dan apapun. Bahkan berkali-kali mengadakan seminar tentang itu. Bagi yang sedang galau tentang pernikahannya, bagus membeli bukunya atau paling tidak membuka fbnya beliau saja. Banyak nasihat pernikahan diposting di sana. Dan ini salah satu postingan beliau, baru saja saya baca. Cocoknya buat bapak-bapak sih. Tapi gag ada salahnya semua pihak membacanya.

ISTRI BAHAGIA ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN PERKAWINAN

Ketika Harry Benson  melewati 8 tahun kehidupan perkawinan, Kate, sang istri mengatakan bahwa dia tidak bahagia dalam pernikahannya bersama Harry.

"Kau tahu aku mencintaimu, Harry. Namun setelah kita memiliki anak, aku semakin sulit untuk bicara denganmu. Kita punya hidup yang nyaman, dan kau adalah ayah yang baik. Namun, kelihatannya kau sama sekali tidak tertarik padaku. Kita bukan lagi teman. Aku merasa kesepian dan tidak berharga. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan dalam keadaan ini."

Itulah yang dikatakan Kate pada Harry. Dan hal ini menyadarkan Harry, bahwa hubungan pernikahan mereka berada di ujung tanduk.

"Semua orang tahu bahwa sebuah pernikahan yang berjalan baik, bisa saja memburuk. Tapi kami berpikir bahwa hal tersebut tidak akan terjadi pada kami. Tetapi, secara tidak sadar kami semakin menjauh dari satu sama lain, dan perlahan-lahan mulai menuju ke ambang perpisahan," ungkap Harry.

Istri yang bahagia kunci pernikahan yang sehat

Saat itulah, Harry memutuskan untuk mengutamakan istrinya. Dan ternyata, dia berhasil menyelamatkan pernikahan mereka.

Harry dan Kate melakukan survey pada 300 ibu rumah tangga untuk membuat sebuah buku berjudul What Mums Want (And Dads Need to Know). Mereka menemukan bahwa mayoritas ibu rumah tanga, mengatakan bahwa persahabatan, suami yang perhatian pada istri dan anak-anak adalah sikap terpenting yang mereka hargai dari pasangan.

Harry juga menambahkan, bahwa jika dalam sebuah rumah tangga ada istri yang bahagia, maka seluruh anggota keluarga juga akan bahagia. Itulah mengapa dirinya selalu mengutamakan kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Karena Harry tahu, istri yang bahagia akan membuat rumah tangga berjalan lancar dan langgeng.

Harry mengatakan, "Seperti halnya Kate, kebanyakan wanita menginginkan adanya persahabatan dari sang suami, melebih hal lainnya. Itu saja. Saya belajar cara mencintai Kate dengan benar, dan dia membalas cintaku. Itulah yang benar-benar diinginkan para istri, dan para suami harus mengetahuinya."

Sumber : The Asia Patent online

Senin, 23 Juli 2018

Akhirnya Gatal Juga

Sudah seminggu sejak peristiwa terseret motor sendiri di depan rumah yang mengakibatkan kaki sebelah kanan saya pada luka. Tidak separah yang dibayangkan sih, hanya beberapa titik yang akhirnya perih sebab meluncur sedemikian rupa dan tergores jalan beton. Hari-hari pertama setelah itu adalah betapa tersiksanya saya lalu berpikir sejenak "Banyak dosa nih, makanya dikasih cobaan kayak gini." duh, sadar juga ternyata 😅😅. Tidak ada yang kritis memang, Alhamdulillah, tapi satu luka di lutut yang entah bagaimana begitu lebarnya dan membuat saya harus meringis setiap permukaannya mengenai kain gamis yang saya kenakan. Juga ketika menekuk dan meluruskan kaki adalah semacam penyiksaan yang tiada berujung, ah, lebay deh. Tapi begitulah, ketika waktu sholat tiba, saya harus pakai mode slow motion gitu kalau lagi mau sujud dan si bontot yang sedang nonton korea di sebelah saya malah cekikikan dan mati-matian menahan tawa oleh karena betapa gelinya dia melihat aksi saya. Dan dia semacam menemukan senjata ampuh ketika saya sedang menjahilinya dan saat emosinya memuncak, dia dengan kejengkelan yang telah penuh akan mencoba membalas dengan menyerang lutut saya. Maka jejeritanlah saya berusaha menghindari tangannya yang hampir mendarat di luka, walau saya yakin dia tidak akan setega itu. Lain cerita dengan si mamak. Ketika tengah asyik bercerita di samping, dan hal lucu mulai jadi perbincangan, oh Allah, tiba-tiba saja dengan refleksnya memukul-mukul lutut saya yang sedang terluka, duh, jangan dibayangkan, antara geli dan perih. Dan beberapa adegan besok-besoknya yang dengan tangan lebarnya selalu entah bagaimana menyambar lutut saya. Dan parahnya, si bontot malah ikutan tertawa melihat penderitaan saya. Mereka memang jahat euyyy 😅😅.

Meski begitu, si bontot suka sekali, entahlah, semoga saja, memperhatikan luka saya. Ketika suatu hari, saya dengan cengengnya meniup-niup lutut saya karena sedang perih-perihnya, dia lalu bertanya "Belum gatalkah?". "Belumlah, orang lagi ditiup juga, artinya masih sakit." Arti pertanyaan "Belum gatal?" adalah pasti semua sudah pada mengerti bahwa, ketika kita memiliki luka dan telah berada pada fase luka itu telah gatal, maka itu berarti bahwa sebentar lagi luka itu pasti akan sembuh. Dan hari ini, setelah genap seminggu, Alhamdulillah luka saya telah gatal, yeyhhh, gitu aja bahagia yakh? Sudah bisa berjalan leluasa bahkan bisa meladeni afifa, ponakan saya berlari kesana kemari tadi sambil teriak-teriak "Kekuatan.....super" lalu tangan mungilnya memukul saya dan langsung terbirit-birit ketika saya pura-pura berlari kencang mengejarnya.

Well, pada hakikatnya "Akhirnya gatal juga" adalah semacam simbol dari sebuah babak awal dari bangkitnya kita dari sebuah luka yang baru saja kita alami. Luka akibat "jatuh" secara harfiah dan membuat kita perih a.k.a galau dengan sangat parah. Entah jatuh dari sebuah karier yang bagus, terperosok ke dalam kenestapaan sebab yang diinginkan akhirnya terlepas, atau jatuh lalu patah pada sebuah kisah percintaan. Dan kisah "jatuh" lainnya yang membuat kita akhirnya hanya bisa mengurung diri di kamar dan membiarkan bantal menjadi basah oleh air mata kesedihan. Duh, segalau itukah? Lalu pada satu titik, ketika akhirnya waktu mencoba mengambil bagian sebagai obat dari luka-luka itu, membuat kita "akhirnya gatal juga" untuk segera bangkit dan berlari menggapai yang belum kita gapai. "Akhirnya gatal juga" untuk segera move on dan mencari hal baru yang lebih membahagiakan. Meninggalkan bantal-bantal kesedihan, meraih berbagai harapan baru. Lalu menunggu kita benar-benar telah pulih dan siap untuk memulai pertarungan yang baru. Dan mungkin, di antara waktu menunggu itu, kita bisa menghibur diri dengan menertawakan diri yang terlalu cengeng memanjakan luka selama ini, yang terlalu cengeng ketika ada yang tidak sengaja menambah lukanya. Padahal kita sebenarnya mampu bangkit lebih cepat dari yang kita lakukan. Dan ketika kita telah merasa bahwa luka kita telah betul-betul sembuh, melangkahlah dan yakinlah bahwa Allah telah mempersiapkan hal yang lebih baik dari yang kita lepaskan. Lebih baik dari yang telah kita usahakan dulu. Sebab, setiap takdir detik demi detik kita, telah Allah jaminkan kebaikan di dalamnya. Bahkan untuk sebuah "luka" yang "akhirnya gatal juga" 😅😅

r.i.a

#maafkanAkuYangCurhatIni
#jugaKesimpulanLukaYangApaAdanya 😁😁

Sabtu, 10 Maret 2018

Tunggu

Perihal tunggu menunggu yang membuat kita kadang terjebak dalam roda-roda waktu yang tak menentu itu adalah semacam bias maya-maya yang entah bagaimana bisa memporak-porandakan keyakinan. Keyakinan bahwa sebagai makhluk yang segala jiwa ada dalam genggaman Penciptanya, hanya Dia menjadi tempat menggantung segala apa yang ditunggu dan menunggu. Maka, tak perlulah terlalu atas hal-hal yang belum menjadi milik kita. Sewajarnya saja, jika sudah berada dalam zona waktu yang mengizinkanmu untuk meraihnya, di situlah tugas dan amanah baru menantimu. Yaitu...menjaganya tetap utuh terutama (b)utuh kepada Tuhannya.
.
.
.
Jadi,, siapami?? (look the picture) #ehhhh

r.i.a