Rabu, 19 Desember 2018

Jawaban Atas Doa-doa

Suatu hari sehabis sholat berjamaah berdua dengan seorang Ummi di sebuah pesantren. Dengan menahan-nahan air mata untuk jatuh (lagi). Lagi? Iyyah, karena kemarin-kemarinnya puncak dari kemewekan saya yang kalau masih diingat sih kadang masih sesak.

Saya bilang begini sama Ummi
"Ummi, orang-orang di sini kuat-kuat yah. Kok saya kayak lemah sekali di antara mereka. Ummi, ria harus bagaimana?" dan mengalirlah curhatan saya yang gag panjang-panjang amat sih karena takut air mata saya jebol. Hehe, cengeng beudh gue yak.

Lalu ummi bilang gini
"Ria harus sabar dan yakin bahwa ini adalah yang terbaik dari Allah. Bisa jadi, dengan di sini salah satu doa ria terkabul." Lalu saya mikir kerasssss sekali, doa saya yang mana yang dikabulkan Allah? Lah, hampir setiap hari di sini saya kayak mau nangis saja. Bahkan mau melarikan diri (ihhhh ketahuan) 😝😝

"Iyyah, karena kita kadang tidak tahu, doa kita yang mana, atau doa orang yang mana untuk kita yang terkabul sehingga kita diperjalankan Allah ke suatu tempat." Ummi seperti membaca pikiran saya yang masih merenung.

"Jangan salah, kalau misalnya ria menganggap bahwa ini semua beban. Bukan, ini bukan beban. Ini adalah salah satu cara Allah untuk menguatkan. Menguatkan ummi-ummi di sini"

Maka saya teringat dengan doa yang hampir tak pernah luput dalam sujud "Allah kuatkan hamba, Allah kuatkan hamba"

Lalu, apa dengan berdoa seperti itu lantas bisa langsung kuat? NOOOO... Kamu harus melewati banyak ujian, memikul banyak beban, ditempa banyak rasa (cemas, takut, sesak, sedih, kecewa, marah, dll). Barulah kamu setelah lulus dari itu semua menuai sesuatu yang namanya "strong"

Selain itu, kamu harus bisa keluar dari zona nyamanmu. Selama ini, saya hidup di antara orang-orang baik. Yang suaranya lembut, sikapnya baik sekali, setiap hari bareng mereka saya bisa bebas berhaha hihi. Bebas jadi diri sendiri.

Dan keluar dari sana. Bertemu dengan orang baru. Dengan orang yang suaranya keras banget (sumpah, hati saya dulu rapuh betul ketemu sama orang kayak gini, kayak dimakan setiap hari hiks). Ketemu sama tipe manusia yang suka melempar kata-kata pedas (gag sepedas mie pedas level 10 sih) tapi bikin jantung deg deg an, bukan karena jatuh cinta yek, tapi perasaan yang kayak diperas peras. Duh, curhat bu? Dan pelakunya adalah anak-anak. Tambah kerdil gueh.

Nah, kira-kira begitulah hukum doa berlaku. Sunnahtullah gays, gag instan juga. Kayak kamu minta uang yang banyak, yah usaha dulu. Kayak, kamu minta jodoh, yah jemputlah ehmmm.

Tapi satu yang pasti Allah Maha Mengabulkan. Minta aja terus, minta aja lagi, minta minta minta sama Allah. Dan yakin saja kalau di tempatmu sekarang berdiri adalah salah satu proses yang harus kamu lalui untuk menuju doamu itu. Atau bisa jadi, kamu sedang berdiri di atas doamu yang telah terkabul.

Yah karena ternyata bukan doa yang kita panjatkan saja yang akan balik sama kita. Tapi ada doa doa orang baik juga yang terselip, maka jangan ragu minta didoakan.

Seperti kalau ada yang lagi safar, saya suka minta oleh-oleh. Oleh-olehnya apa? Do'a. Suatu hari teman saya nanya "Loh, kok oleh-oleh do'a, yang lain kek"

"Lu kayak orang kaya aja mau beliin gue macam-macam. Doain ajalah, kan do'a orang yang lagi safar itu makbul, kudu diijabah sama Allah"

Atau saya bilang gini
"Wah, lagi jalan-jalan. Oleh-oleh yah. Satu karung. Isinya doa semua. Macam-macam, pokoknya mereknya ada nama saya di dalamnya"

As simple like that. Makanya, kalau mau mengeluh kenapa Allah kirim saya ke sini? Di sini hanya ada bla bla bla. Ingat lagi sama pesan ummi "Mungkin itu adalah jawaban atas doa doamu. Berprasangka baik sama Allah. Allah sesuai prasangka hambaNya"

r.i.a

Minggu, 16 Desember 2018

Crazy Rich (Orang kaya yang gila atau orang gila yang kaya?)

Jangan tanya apa yang terjadi di sini jika siang-siang. Cuacanya ekstrim gays. Alhamdulillah panas, kalau gak kipasan, banjir keringatlah. Punya mimpi bakalan tidur nyenyak sih, masih bisa, kalau ukuran saya yang nempel di bantal melayang sudah hehe. Yah, karena siang tadi benar-benar panas alhamdulillah lagi yah. Dan saya tidak kebagian angin dari kipas ukuran sedang, jadi saya memilih menonton film saja. Menikmati hidup.

Crazy Rich Asians. Filmnya sudah lama rilis, termasuk yang punya rating hight juga. Tapi sebagai pecinta film family romance, menurut saya sih biasa-biasa saja. 🤗🤗

Nick adalah pria tiongkok yang memiliki saham di mana-mana. Keturunan orang tajir pake banget. Kalau ditaksir hampir sebagian besar bisnis di cina adalah milik keluarganya. Hotel, maskapai penerbangan service VVIP, bungalow, travel dll dsb.

Ada satu kesalahan yang dilakukan Nick. Dia bertemu dengan seorang wanita di New York, Rachel namanya, keturunan tionghoa juga sih dan dia jatuh cinta padanya. Nick tidak menjelaskan asal usul keluarganya dengan gamblang kepada Rachel sebelumnya. Yah, sesederhana itu kesalahannya.

Hingga suatu hari ketika mereka sudah memiliki cinta yang dalam satu sama lain. Nick mengajak Rachel bertemu keluarganya di Singapura. Sekalian menghadiri pernikahan sahabat Nick. Salah satu pernikahan terwah, terglamor dan orang-orang yang diundang di sana hanya orang-orang kalangan atas.

Skip skip skip yah. Panjang kalau mau direview di sini mah. Pegel ntar jempol saya. Singkat ceritalah. Akhirnya Rachel bertemu dengan keluarga besar Nick yang saat itu juga tengah melakukan party (semacam pertemuan keluargalah) tapi yahh, sekali lagi glamor.

Beruntung Rachel memiliki seorang teman yang membantunya fitting baju, make up segala macamnya. Membuatnya tidak malu-malu amat hadir di party itu.

Ini tidak beda jauh dengan roman picisan ala ala romeo and julietlah. Yang ternyata mencintai orang tajir tidak mudah dan bikin rempong. Meski Rachel adalah seorang profesor di New York dan mengajar di kampus ternama. Itu belum cukup untuk diterima dengan baik oleh kekuarga Nick terutama oleh ibunya.

Mana lagi komentar netijen dengan segala kemaha benarannya. Di dunia dengan tingkat penyebaran info dengan sangat cepat, maka berakhirlah Rachel dengan banyak cap negatif. Bahkan dibully ketika menghadiri party lanjang teman Nick yang mau merid itu. Ah, ribet ey.

Ada satu kisah yang menarik dari film ini. Menurut saya. Aduh saya lupa namanya, kakaknya Nick yang cewek. Ah, dia memiliki suami, anak-anak yang lucu dan kekayaan yang melimpah, tentunya. Tapi ternyata itu belum bisa membuatnya bahagia dan ujung-ujungnya dia mengetahui kalau suaminya selingkuh. Demi apa? Suaminya merasa tidak dihargai, secara dia dari golongan biasa-biasa saja. Dan dia mengetahui bahwa istrinya kalau belanja yang mahal-mahal pasti diumpetin di mana-mana. Di lemari lemari kecil di dapur, di laci-laci yang gak bakalan ditemukan suaminya.

Ini yang membuat suaminya tersinggung. Eh, gimana yah jelasinnya. Pokoknya harga dirinya merasa gimana gituh, kenapa istrinya harus sembunyi-sembunyi segala macam kalau shopping sesuatu yang mewah-mewah.

Dan ternyata, niat istrinya baik loh. Buat menjaga harga diri si suami. Tapi yah, sudah dicurigai duluan jadinya mereka broke. Uh sakit. Tapi si cewek akhirnya bisa jadi dirinya sendiri. Akhirnya bisa make perhiasan senilai milyaran milyaran itu tanpa takut harga diri suaminya terlukai. Yah, terlukailah, itu uang istrinya dipake beli. Bukan uang dari dia. Gengsilah yau. Kira-kira begitu. Hah.

Gak ada yang salah dengan menjadi kaya, tapi yang salah kalau sudah menjadi gila karena kaya. Dan orang di sekitarnya menjadi gila karena kegilaan kekayaannya. Lama-lama orang gila ini jadi oranf kaya. Ngelanturrrrr, maap.

Hiii, ngeri review saya sampai sepanjang ini. Yang baca pasti orang kuat. Dan maaf kalau ada yang gak sesuai. Nonton film yang sama dengan penilaian yang beda, hal yang lumrah kan?

Kalau masih mau lanjut baca silahkan, gag mau juga gak apa-apa. Poin penting buat diri saya sih sehabis ini.

Jadi semalam itu kembali saya meet bareng mbak mbak solihah 3M. Kenapa 3M? Sederhana sih. Nama mereka dimulai huruf M dan masih single single, cantik lagi, awalnya saya merasa heran napa mereka masih betah menjomblo yah? Dan setelah lama suka nongkrong bareng mereka dan mengetahui seluk beluk kehidupan mereka. Jadinya saya faham alasannya. Ini kayaknya nanti mau saya tulis deh dengan judul "Alasan cewek-cewek belum merid". Maafkan mbak mbakku 😉😝

Setiap ketemu mereka pasti ada saja oleh-oleh cerita, motivasi, inspirasi, macam-macamlah. Dan semalam sepertinya pembahasannya tidak jauh dari crazy rich dan crazy poor seperti review di atas.

Dan kubah mesjid sepertinya selalu menjadi saksi ngalor ngidul kami. Karena kita kalau habis sholat di masjid bawaannya mau cerita apa aja sampai malam.

Ada kisah seorang 'pemulunglah' mungkin istilahnya. Mbak M1 (sebut saja begitu dulu yah) baru beberapa hari yang lalu dari samarinda menghadiri wisuda adik perempuannya. Mbak M1 ini orangnya lembut, suaranya halus betul, kentara banget melankolis.

Jadi, kalau dia keluar buang sampah sama adiknya, dia melihat bapak bapak pemulung yang ngorek-ngorek sampah. Mbak M1 ini sama adiknya tidak tahan sampai mewek-mewekan melihatnya sampai dibilangi ibu kos "Loh, pergi buang sampah aja pulang-pulang nangis?"

Karena hari itu Mbak M1 dan adiknya beberes kamar kos karena sudah mau pulkam sekalian, jadi setiap buang sampahnya di depan, bapak-bapaknya pada sumringah kalau dapat barang bekas yang masih layak pakai. Ada sendal sebelah putus, si bapaknya bilang "masih bisa dijahit" dapat yang lain lagi "masih bisa dibawa pulang"

Dan akhirnya mbak M1 ini mengumpulkan semua boneka bonekanya dari jaman kuliah kuliahnya dulu untuk dikasih bapak bapaknya. Dan amat sangat bersyukur bahagia bapak-bapaknya terima. Soalnya ada anak perempuannya di rumah. YaaAllah. Kalau kita mah pasti mikirnya itu barang lama, barang bekas juga. Tapi bagi si bapak, hal luar biasa yang bisa dia bawa pulang untuk putri tercintanya. Cerita mbak M1 lebih sendu sih sebenarnya. Dia cerita sampai berderai-derai dan bikin ikutan mau mewek, tapi ditahan-tahan. 😭😭😭 Masalahnya hari itu bapaknya masih menunggui mbak M1 beberes sampai jam 1 malam dan berharap masih ada yang bisa dia bawa pulang. Akhirnya mbak M1 ini terpaksa bilang sama bapaknya "Pak, ini barang terakhir yang kami punya. Gag apa-apa kalau bapaknya mau pulang." YaaAllah, gag kebayang kalau ada di posisi itu.

Terus ada kisah seorang wanita, pekerjaan keren, gaji 30 jeti sebulan, golongan 4, pertamina gays. Belum honor kalau dinas, dapat belasan sampai puluhan jeti. MaasyaaAllah gaji sebulan kayak gaji guru honorer ditabung bisa sampai 2-3 tahun. Dia temannya mbak M2 (sebut saja sebgitu). Mereka pernah serumah berdua jadi tahu banyaklah. Data akurat nih.

Apa gaji segede itu sudah bikin dia puas? Jawabannya NEHI. Selain itu, dia punya lahan sawit, lahan nanas, usaha ini itu. Sampai masih berharap mau punya ini lagi, ini lagi, ini lagi.

Dan keinginannya yang bikin kita  melongo adalah dia pengen punya suami, gaji di atas gajinya yang 30 jeti itu. Demi apa? Dia berharap suaminya kelak bisa kuliahin adiknya.

"Mbak M2, emang 30 juta itu gag cukup biayain kuliah adiknya?" kalau menurut pikiran sederhana kita nih yah, pasti yah bisa, lebih malah. But why? Entahlah, cuma dia yang tahu dan kita wajib berprasangka baik. Dan akhirnya suatu hari mbak M2 bertanya karena penasaran.

"Emang adiknya mau kuliah dimana mbak?"
"Aku mau adikku kuliah di luar negeri ambil jurusan musik."

Sumvah, sudah yah, otak sederhana kita gag bakalan sampai. Yah sih, dia hidup di keluarga yang berpenghasilan fantastis, elastis, atlantis. Bapaknya kerja di cevron, gajinya lebih gila dari temannya mbak M2 ini. Punya usaha golf segala. Kalau mau haji kapan aja bisa. Haji plus malah yah.

Gays... Kepuasan hidup ternyata terletak pada rasa "cukup". Qona'ah yah. Kalau kita bandingkan sama bapak-bapak pemulung. Timbang bener kan hidup mereka. Tapi tingkat kepuasan hidup, tingkat kecukupan, si bapak pemulung masih juarak.

Saya pernah membaca "Jika qona'ah sudah dicabut dari hati, maka hidup tidak akan kita nikmati"

Qona'ah itu berbanding lurus sama syukur. Makin banyak syukur kita, makin qona'ah kita. Makin gag bersyukur, hidup kita tidak akan kita rasa ada cukup cukupnya walau saldo di rekening bengkak sebengkak bengkaknya.

Seberapapun yang kamu dapat. Sekecil apapun menurut penilaian manusia, tapi jika itu kau syukuri dan kau merasa sangat cukup dengan itu. Hidupmu, yakin deh, HAPPY. Bismillah, semua akan terasa indah saja.

Jangan sampai kita kufur nikmat yah. NGERI. HOROR pokonya mah.

Ada seorang penulis ternama suatu hari menjadi pemateri di sebuah seminar, dia berkata "Bahkan satu nafas kita, sehirup  saja, sudah cukup membuat kita memuji kebesaran Tuhan"

r.i.a

Jumat, 30 November 2018

Perpisahan

Di sebuah padang rumput. Dandelion tumbuh indah memenuhi rerumputan. Ada air mata yang menetes. Lalu angin bertiup. Seketika menerbangkan serbuk putih dandelion beserta titik-titik air mata. Mereka menyatu, berkilauan di antara cahaya matahari. Menari diiringi lagu kesedihan. Sebanyak dandelion yang beterbangan, air mata tak berhenti berderai. Padang rumput yang luas itu diguyur kesedihan dan kehilangan.
.
.
Sungguh, perpisahan terjadi untuk menemukan pertemuan yang baru.
.
.
Kereta datang, dia menoleh ke belakang untuk terakhir kali. Melihat sisa air mata yang telah mengkristal. Air mata perpisahan. Sekali lagi, dia memeluk sesak, mengendapkan kenangan di bagian terdalamnya hati.
.
.
Sungguh, perpisahan akan menuntun dirinya menemukan sebuah pertemuan yang baru.
.
.
Kereta menjauh, mendekati takdir baru. Mungkin akan ada tawa bahagia. Tapi semesta tidak selalu berpihak padanya. Pada akhirnya, perpisahan kembali terjadi. Dandelion akan bertemu dengan bulir air matanya. Sekali lagi. Lalu, berkali-kali.
.
.
Sungguh, perpisahan membawanya pada pertemuan demi pertemuan yang baru.
.
.
Juga, sakit yang baru.
.
.
r.i.a

Rabu, 28 November 2018

Berat Badan

Kadang kita punya kabar bahagia tapi bagi sebagian orang adalah kabar buruk bagi mereka. Pun sebaliknya, kabar bahagia bagi orang lain, ternyata ketika ada di pihak kita menjadi kabar yang tidak bahagia lagi.

Kemarin saya sedikit berbahagia. Maunya tidak berlebihan jadi pake kata "sedikit" yang padahal kabar itu membuat saya ketawa ketiwi sendiri kayak orang gila plus senyum-senyum sampai hidung kayaknya ikut mekar. Mhehehehehe

Jadi ceritanya kemarin ketika mengantar ponakan ke sebuah puskesmas ketika kami sudah berada di UGD. Dan saya lagi dalam keadaan kuker pake banget. Iseng-iseng saya naik ke sebuah timbangan berat badan. Dan seperti mendapat kejutan luar biasa, sambil menutup mulut yang bibir sudah membulat lirih mengucap "Oh", saya seketika berasa berbunga-bunga. Berat badan saya naik 6 kilo. Enam kilo gais. YaaAllah.

Padahal ketika baru datang ke sini, di puskesmas yang sama saya menimbang berat badan yang buat ekspresi saya masih seperti dulu-dulu. Ekspresi "Kapan naik nih berat badan?" Nah, belum juga 2 bulan saya di sini, bisa naik sedrastis itu. Fantastis, elastis, atlantis woy. 😆😆

Jadi, di puskesmas itu sembari menunggu si fifo fifo ditangani para suster yang memasang infus yang bikin fifo nangis sedih banget, mana tidak sedih, sakit ey disuntik di dua punggung tangan dan tidak berhasil juga si susternya (eh, suster jugakah kalau perawatnya cowok?). Yah, pokoknya setelah 3 kali disuntik, akhirnya selang infus afifa berhasil setelah ditusukkan di kaki dekat mata kaki.

Jadi, saya sedihnya pas di situ aja. Abis afifa sudah ditangani, dan mengingat timbangan saya yang naik, saya kembali senyam senyum dan berkata lirih "Timbanganku naik-timbanganku naik-timbanganku naik". Kakak, si bunda fifa langsung bilang "Kayak gimana aja?" Menurutnya ini hal biasa aja. Saya langsung kepikiran. Baru dua bulan kok bisa naik. Saya jadi bertanya-tanya apa jangan-jangan timbangannya salah atau saya salah lihat. Tidak menunggu waktu lama, mumpung masih di ruang yang sama, sekali lagi saya naik ke timbangan pelan-pelan sambil memperbaiki posisi kaki benar-benar. Waktu itu pagi, saya belum sarapan sama sekali, sudah B*B juga, jadi badan dalam kondisi stabil. Dan hasilnya sama. Saya turun dan senyum sekali lagi sama kakakku dan dia meyakinkan kalau timbangannya tidak rusak, lah itu tadi yang dipakai afifa dan beberapa pasien kok.

Saya kemudian mengelus-elus perut, biasanya lemak akan bertumpuk di sana dan membuat berat badan naik. Tapi perut saya masih sama, kayak papan seluncuran. Rata. Saya lalu duduk dan memegang perut. Gag ada lipatan yang berarti. Jadi, di mana letak penambahan berat badan saya? Ah, serahlah yang penting beratnya naik. Titik.

Ngh, padahal malam sebelumnya saya yang diajak makan sama geng 3M, yang akhirnya berganti jadi geng MR karena ada nama saya jadi tambahan hihi. Berusaha untuk tidak lagi sesemangat dulu berharap BB naik. Waktu pesanan kami sudah datang, salah satu teman ternyata tidak pesan makanan. Dan dia mengaku sudah 3 hari gag makan nasi. Saya langsung syok.

"Diet?" Tanya saya sungguh-sungguh. Melihat teman saya badannya bagus, tinggi, berisi dan jauhhhhhhh dari kata "gemuk", "Buat apa diet segala?" tanya dalam hati doang.
"Udah bagus loh badannya"
"Iyyah mbak, tapi BB sudah bla bla bla"

Saya jadi merenung, ada yang susah-susah loh turunin berat badan, ngapa saya harus frustasi setiap dibilangi "Kurus, ringkih, rata" dsb. Dan mengingat pertanyaan mama ke kakak kalau nelpon "Bagaimana ria, masih kurus?" dan tahulah habis itu mereka membahas soal pola makan saya yang kadang cuma sekali, kadang malam doang, yang bagus kalau saya milih puasa saja. Hehe.

Ngh, yah gitu yah. Hidup cuma gitu gitu aja. Kalau gag bisa bersyukur dengan keadaan diri, maka kita akan berharap berada di posisi orang lain. Yang ternyata orang itu menginginkan berada di posisi kita.

Ada seorang ibu yang mengeluh setiap hari stres menghadapi anak-anaknya dengan segudang pekerjaan rumah. Lalu di sudut rumah yang lain, ada seorang wanita yang mendamba segera diberi amanah juga berupa anak.

Ada seorang anak yang ngedumel setiap hari dapat omelan dari orang tuanya. Lalu, di sudut rumah yang lain, ada seorang anak yang menginginkan ada yang mengajarinya banyak hal meski diomeli karena dia sebatang kara.

Ada seorang istri yang mengeluh suaminya bla bla bla. Lalu, di sudut rumah yang lain ada seorang gadis yang merintih kepada Tuhan segera dikirimkan jodohnya.

Ada seorang lelaki yang mengeluh soal pekerjaannya yang segunung. Lalu, di sudut rumah yang lain, ada seorang laki-laki yang menatap sendu berkas lamaran pekerjaannya yang tidak juga memberi kabar baik.

Kalau kita mau saja, menerima keadaan kita apa adanya. Merasa bahagia dengan yang kita punya dan tidak berandai-andai dengan hidup orang lain. Maka, kita akan menikmati hidup dengan lebih bermakna.

Yah, seenggaknya kalau kita kemudian naik level seperti misalnya naik berat badan. Kita akan menemukan sebuah level kebahagiaan baru. Yang kadang menurut orang lain sepele. Tapi bagi kita sangat cukup untuk menambah rasa syukur kita kepada Sang Pemberi Hidup.

r.i.a

Mimpi

Seperti menonton sebuah layar. Ada aku yang menatapmu dengan linangan air mata. Setelah sekian lama. Waktu yang terus masih saja tak bersahabat. Di mimpiku semalam, kita dipertemukan. Tidak dengan keadaan baik-baik saja. Semua penuh drama. Jarak kita begitu dekat. Tapi aku masih sama seperti di mimpi-mimpi sebelum ini, tak bisa menggapaimu.

Bahkan untuk sebuah kata "Hay". Tidak. Kau tidak mengatakan apa-apa. Kau seolah sengaja menjauh. Lalu aku mengejarmu. Langkah yang tak pernah berhenti. Semakin kukejar semakin melesat kau dariku. Menciptakan jarak yang semakin lebar. Kupaksa kaki-kakiku melaju. Kau akhirnya berhenti. Membalikkan wajah dengan gurat yang tidak bisa kueja.

Kusebut namamu, bibirmu berkedut seolah ingin membalas menyebut namaku. Tapi kau menahannya, dengan sekuat tenaga yang kau punya. Aku terisak, kau hanya memandangku (tanpa iba). Aku terduduk, isakanku semakin dalam. Kututupi wajahku yang sudah memerah, sedih, berderai air mata. Kau akhirnya ikut berjongkok. Tapi tak sedikitpun usahamu membuatku merasa lebih baik.

Aku terbangun, untuk kesekian kali. Mengutuk malam yang menghadiahiku mimpi buruk. Sama persis dengan mimpi-mimpi yang hadir sehabis kau mengabaikanku. Mengabaikan perasaanku. Aku paling benci berada di posisi ini. Kau tahu. Ketika aku sudah yakin tidak akan merana ketika mengingatmu lagi. Tapi di sisi lain di hatiku, aku sakit, hanya karena sekali lagi mengingatmu. Mengingat bagaimana tak acuhnya kau padaku. Lebih acuh dibanding dirimu yang ada di mimpiku.

Lalu aku bertanya-tanya pada gelap sisa semalam. Apakah ada sedikit saja waktu, seperti sisa malammu, kau ingat padaku. Sekali saja. Dan kau merasakan hal yang sama. Merasakan ngilu di dada. Perih sampai ke tulang-tulang. Kemudian bibirmu kelu, lirih mengucapkan namaku. Nama yang tak pernah sekali saja kudengar kau menyebutnya. Bahkan dalam sebuah mimpi.

Rabu, 21 November 2018

Papa (2)

Ini sudah tidak bisa terkata. Sungguh, rintik itu begitu memilukan. Menetes di sela tawa, di sela senyum getir. Tanpamu memang aku begitu rapuh. Papa.

Papa

Papa. Selalu ada bagian yang sakit ketika mengingatmu.
Selalu ada titik yang mengalir setiap memandang fotomu.

Papa. 3 tahun ini, adalah tiga tahun terberat dalam hidupku.
Dan aku masih bertanya-tanya "Mengapa engkau pergi secepat itu?"
Aku tidak tahu papa. Tapi aku sangat rindu. Sangat rindu.