Minggu, 30 April 2017

Kematianku

Sekuat apa kau mengusirku, sekuat itu pula rantai-rantai pemberat mengikat kakiku, mencegahku melarikan diri darimu. Lalu apa yang harus aku lakukan ketika bayang-bayang menertawakan secercah cahaya di gelap kesadaranku. Percuma juga rintih itu, sia-sia juga teriakan yang meronta dalam diam itu. Kini, api yang membakar mulai padam. Meninggalkan segenggam abu yang siap kau hanyutkan di kedalaman arus jiwamu. Biarkan ia di situ, lama, dan akhirnya mengendap tak berbentuk. Biarkan ia menjelma peri kecil yang menemanimu menertawakan sebening air yang jatuh di pipiku, membantumu mempertebal kabut di pelupuk mataku. Dan akhirnya membuatku buta. Sebuah keadaan yang kuyakini akan berujung bahagia bagimu. Katamu, mataku adalah racun, maka musnahnya menerbitkan kegirangan dalam hatimu. Ah, selamat bagimu. Kau kini berhak bersorak atas kematianku. Tapi sayangnya, meski aku telah mati, jantungku masih berdenyut meneriakkan sebuah nama yang persis namamu. Mataku masih mencari-cari di mana matamu. Pikiranku masih sibuk mencemaskan bagaimana kabarmu. Dan itulah saat aku mati dalam keadaan tidak tenang.

Rabu, 26 April 2017

Suara Keagungan

Alam menyuarakan keagungan Tuhan dipadu merdu adzan yang bersahutan. Malam segera menjelang... Namun apakah telah tunai tugas hamba dari terang mentari pagi hingga tenggelam di ufuk barat? Atau masih meminta jatah waktu hingga pekat nanti sebab ternyata lebih banyak tumpukan kewajiban dibanding waktu yang tersedia? Dan ketika deadline mengejar, bersemangatlah dan berkawan baiklah dengan detik-detik yang memburu.

Tawa Waktu

Waktu terus menertawaiku. Seperti kau yang dengan teganya menertawai tangisanku. Tidak cukupkah masa yang berteriak patah-patah oleh kenangan yang kian menguat? Apa sabar perlu diuji, sedang marah masih basah oleh kata maaf?

Senyum Bijak

Dari jauh kulihat dia mengepalkan kedua tangan dan menghentakkan sedikit ke arah pinggang. Dia tidak sedang memenangkan sebuah pertandingan yang membuatnya melakukan pose seperti itu sambil berkata "yes", tapi saat melihatku sedang kepayahan menyelesaikan tugasku, dia memandangku sesaat melakukan pose seperti itu sambil melempar senyum khasnya yang bijak. 
"Semangat! Kamu bisa,," Begitu kira-kira terkaanku soal pikirannya yang tak sempat dia teriakkan, dia berada di seberang jalan yang memisahkan kami dengan banyaknya kendaraan lalu lalang. Dia sepertinya sadar bahwa aku selalu dapat menerka maksud isyaratnya meski tak perlu teriakan kencang untuk meyakinkanku. Sungguh, terimakasih untuk dukungannya selama ini. Aku merasa kuat meski hanya melihat senyum bijakmu itu.

Menunggu

Rasa-rasanya wajahku sudah terlipat-lipat tak beraturan ditambah mataku yang tinggal 5 watt yang buramnya tidak ketulungan. Tubuhku ikut-ikutan lemas sebab belum sesuap makanan pun masuk sekedar singgah sebentar di lambungku. Sekali lagi kulirik jam yang ada di handphoneku. Sudah 5 jam aku menunggunya. Bayangkan, subuh-subuh buta dia menelponku mengajak bertemu jam 8 pagi tadi, dan sekarang sudah pukul 13.30. Kelewatan. Buku setebal 200 halaman saja sudah habis kulahap sejak satu jam yang lalu. Sisa baterai handphoneku juga tinggal 10%, sebentar kalau dia menghubungiku dan handphoneku sudah mati, yah salah siapa? Dia selalu begitu, terlalu tega membuatku menunggu tanpa ada kabar. Sejak pagi tadi hampir 20 kali aku mencoba menghubunginya. Dari 20 panggilan, hanya 2 yang dia jawab. Pertama, saat dia masih sarapan, tenang sekali dia makan sedang aku, minum segelas air putih saja belum. Yang kedua, dia mengkonfirmasi sedang OTW, On The Way ke toilet mungkin.
Sebentar kalau dia datang, tunggu saja, akan kubuat dia babak belur. Subuh tadi, saat nyawaku belum sepenuhnya terkumpul, dia membuatku hampir sakit jantung. Katanya ada hal yang gawat, dia tak bisa menceritakannya lewat seluler, harus bertemu langsung dan dengan sepihak dia membuat janji bertemu jam 8. Jam 8 dengkulnya? Ini saja matahari sudah terik-teriknya. Jika lima menit lagi dan dia belum datang, sumpah, aku akan cabut segera. Terserah, pokoknya aku sudah capek, juga lapar, juga ngantuk. Dia nggak tahu saja, orang yang lapar plus ngantuk biasanya mau makan orang.
Baru saja aku menyampirkan tas kecilku di bahu bermaksud kembali ke rumah, dari jauh kulihat dia seperti berlari terburu-buru. Aku seketika berdiri sambil bersedekap dada dan membuang muka, aku lupa tentang ingin membuatnya babak belur.
"Ma...maaf, aku telat." katanya membungkuk terbatuk-batuk seraya memegangi kedua lututnya. Aku hanya terdiam, kebiasaan jika terlalu marah, semua kata-kata jelek yang memenuhi kepalaku yang sudah kurancang untuk kutumpahkan padanya akhirnya hanya mengendap di dasar kepala. Dengan masih membungkuk, satu tangannya terangkat menjulur ke arahku, di genggamannya ada dua bungkus cokelat. Ah, yang benar saja, dia kira aku anak kecil yang bisa diiming-imingi dengan benda seperti itu? Sekali lagi aku hanya diam tak bergerak dengan memasang tampang paling jelek sejagad raya.
Menyadari aku hanya terdiam dari tadi, dia akhirnya meluruskan tubuhnya. Sambil menggaruk kepalanya yang aku yakini tidak gatal sama sekali, dia sekali lagi menyodorkan 2 bungkus cokelat besar yang ada di tangan yang satunya sambil memohon maaf berkali-kali. Aku menarik nafas panjang sambil menurunkan tanganku yang beralih menggenggam tali tasku, siap menumpahkan segala protes-protesku. Belum sepatah katapun yang keluar dari mulutku, tiba-tiba ada yang berbunyi yang asalnya dari perutku. Membuatnya yang tadinya siap kumarah-marahi, malah tertawa terbahak-bahak demi mendengar suara perutku yang kelaparan.
"Tuh kan perutmu saja sudah tidak sabar ingin mengambil cokelat ini, jangan marah. Maaf, hahahaha." Meski marah, aku tetap saja malu dengan keadaan seperti itu, aku hanya menggeram dan menggigit bibir bawahku.
Tujuh menit kemudian, 2 bungkus cokelat telah habis kulahap, disertai omelan panjang yang rasanya tak berujung.
"Jadi, apa yang gawat?"

Senin, 17 April 2017

Ngambek

Dengan terpaksa kututup wajahku dengan buku yang masih terbuka di tangan, mencoba memejamkan mata, tidur. Mungkin sudah 100 kali namaku dia sebut. Ah, bodo amat, hari ini aku lagi tidak mau diganggu oleh siapapun. Dan juga aku lagi malas bangkit dari kasur dan mengenakan jilbab sekedar untuk menengok ke luar jendela. Paling jawabannya itu itu lagi setelah nanti aku menanyakan perihal kebutuhannya. Tak lain dan tak bukan mau ditemani ke toko outdoor untuk melengkapi alat mendakinya.
Tiga hari lalu aku rada jengkel, bisa-bisanya dia membatalkan rencana pendakian kami yang tinggal menghitung hari. Sebenarnya yang paling ngotot ingin mendaki sih dia. Aku hanya ingin menemani, tapi demi melihat foto-fotonya di atas puncak membuatku juga ingin merasakan berada di atas awan. Mungkin akan sangat menyenangkan, apalagi setelah hampir dua tahun aku tidak menapaki jalan-jalan terjal menuju sebuah puncak gunung.
Dia masih memanggilku dari bawah sana. Sudah tiga hari ini dia melakukannya sejak pembatalan sepihaknya soal pendakian kami. Aku tahu, dia sedang merayuku agar tidak marah padanya. Tapi aku sudah terlanjur kecewa. Dan sekali lagi aku berhasil mengacuhkannya setelah tidak ada lagi suara teriakannya yang membuat telingaku hampir tuli selama satu jam. Aku mendekati jendela dan berniat melihat ke bawah apakah dia benar-benar sudah pergi setelah kutunggu lima menit sesaat setelah suaranya menghilang. Dan benar, tidak ada lagi sosok dengan tinggi 178 cm di bawah sana. Namun, kemudian aku harus memicingkan mata untuk melihat sesuatu yang sepertinya sengaja dia tinggalkan. Sebuah kertas kecil yang berada persis di atas sekuntum mawar merah. Setelah membuka jendela lebar-lebar dan menundukkan kepalaku agak ke bawah, aku dapat membaca sebuah tulisan di kertas kecil itu. "Sorry, *sad*"

Minggu, 16 April 2017

Kau yang Sedang Sakit di sana

Hari ini aku mendengar bahwa kau sedang sakit. Parah? Semoga tidak. Jikapun iya, semoga Allah segera angkat penyakitmu, semoga dengannya pula berguguran dosa-dosamu. Berbahagialah, Allah sedang mengelus lembut kepalamu sekarang. Dia ingin kau lebih lama mengingatNya, menyebut namaNya, juga berlama-lama dalam sujud-sujud panjangmu kepadaNya. Kau harus yakin, Allah tak pernah meninggalkan hambaNya sekalipun. Mendengar engkau sakit, aku sungguh sangat sedih sekaligus tiba-tiba mengingat sebuah kisah luar biasa. Mau kuceritakan? Semoga setelah ini, kaupun yakin bahwa segala apapun yang terjadi di dunia ini, ada campur tangan Allah di dalamnya.
Ada seorang dokter, namanya Dr.Ishan, dia berasal dari Pakistan. Dia seorang ahli syaraf terkemuka, sangat terkenal, dia salah seorang dokter terbaik di negaranya. Untuk berobat kepadanya, kau harus menunggu waktu berbulan-bulan untuk bisa membuat janji dengannya. Sangat sulit ditemui. Sebab dia adalah dokter yang mempunyai jam terbang yang sangat padat, hampir setiap hari dia harus berkunjung dari satu kota ke kota lainnya, banyak kota, bukan hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri.
Suatu hari, saat sedang berada dalam sebuah penerbangan ke sebuah kota. Tiba-tiba langit mendung, awan hitam membesar, kilat menyambar-nyambar dan hujan mulai turun. Keadaan itu membuat banyak goncangan dan salah satu mesin pesawat terkena petir. Keadaan yang sangat menegangkan. Pesawat yang mereka tumpangi adalah pesawat berkapasitas kecil, hanya memuat beberapa orang saja. Mesin pesawatpun rusak dan membuat mereka harus melakukan pendaratan darurat di sebuah bandara kecil terdekat. Mereka ternyata mendarat di sebuah daerah terpencil, pedalaman yang jauh dari kota. Sehingga untuk memperbaiki pesawat ini dan kemudian melanjutkan penerbangan sangat mustahil dilakukan.
Dr. Ishan yang mempunyai urusan penting, mungkin untuk memenuhi janji melakukan pengobatan kepada pasiennya pun menanyakan hal ini kepada sang pilot. Sang pilot hanya menggeleng dan mengatakan bahwa butuh waktu lama untuk bisa sampai di kota yang hendak dokter ini tuju dan memberi masukan agar menaiki mobil. Mereka butuh waktu tiga jam untuk sampai di sana. Dan Dr. Ishan akhirnya menaiki sebuah taxi yang sekiranya membawanya ke kota sebelah dari daerah terpencil di Pakistan itu. Sesaat setelah menaiki taxinya, tiba-tiba langit kembali mendung, kilat menyambar, petir bersahutan dan hujan deras mengguyur. Hal itu membuat taxi itu tidak bisa bergerak oleh karena jalanan yang berlumpur tinggi dan air yang membanjir. Mereka kemudian sadar bahwa mereka tengah berada di area terbuka yang terbentang sawah-sawah dan mereka tidak bisa kemana-mana. Dalam kekalutan mengingat mereka terjebak di sana, tiba-tiba sang dokter melihat ada sebuah rumah kecil di tengah-tengah sawah. Diapun berujur kepada teman perjalanannya untuk singgah di rumah kecil untuk bisa sholat dan istirahat sampai hujan redah.
Mereka akhirnya memutuskan untuk mendatangi rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Sungguh daerah yang sangat jauh dari perkampungan, tempat terpencil. Rumah kecil itu bahkan satu-satunya rumah yang ada di tengah-tengah sawah tersebut. Dr. Ishan kemudian mengetuk pintu rumah tersebut dengan tetap membawa tas kecil peralatan medisnya. Setelah beberapa saat, seorang nenek tua membuka pintunya dan dokter kemudian menceritakan apa yang sedang mereka alami dan memohon izin untuk istirahat dan juga sholat sambil menunggu hujan deras itu redah. Nenek itu berkata, "Tidak masalah, engkau boleh masuk." Nenek itu mempunyai mushollah kecil yang dilengkapi oleh sajadah. Di sana juga ada seorang anak kecil yang sedang terbaring. Dan setiap beberapa waktu, sang nenek mengecek keadaan anak itu. Nenek itu duduk di mushollah, berdo'a dan menunaikan sholat.
Dr. Ishan dan temannya akhirnya selesai menunaikan hajatnya, menyelesaikan sholat dan keperluan lainnya. Ketika mereka hendak pergi, mereka mengucapkan terimakasih dengan tulus dan tidak lupa menanyakan tentang apa yang terjadi dengan anak kecil yang terbaring di Mushollah itu. Mereka meyakini bahwa anak itu sedang sakit. Nenek itu menjawab bahwa anak itu seorang yatim dan anak itu sedang sakit, sakit yang sangat parah. Nenek itu menceritakan perjuangannya mengunjungi semua dokter yang ada di daerah tersebut guna menyembuhkan anak kecil yang adalah cucunya sendiri. Nenek ini berkisah bahwa tidak ada satupun dari dokter itu yang dapat menyembuhkan penyakit cucunya. Dan kata dokter-dokter tersebut bahwa hanya ada satu dokter spesialis yang dapat menolong cucunya. Nenek ini bahkan sudah membuat janji bertemu dengan sang dokter, akan tetapi butuh waktu enam bulan lagi untuk bisa menemuinya dan juga tempat praktek dokter tersebut sangatlah jauh. Maka, setiap hari apa yang dilakukan oleh nenek ini? Sholat dan berdo'a tiada henti, memohon agar dimudahkan bertemu dengan dokter tersebut, memohon agar anak ini segera disembuhkan oleh Allah, memohon dimudahkan dan dimudahkan segala urusannya.
Dokterpun bertanya, "Siapakah nama spesialis itu?"
"Dia adalah Dr.Ishan." Mendengar itu, Dr.Ishan langsung menangis, seketika itu juga ia menjadi sesenggukan pun temannya. "Mengapa kau menangis?" Tanya nenek heran melihat orang di depannya menangis.
"Do'amu baru saja dijawab oleh Allah." Ucap Dr. Ishan mencoba menahan air matanya. "Karena do'amu untuk cucumu, petir menggelegar, hujan turun seketika, kilat menyambar, sambarannya mengenai mesin pesawat. Kami akhirnya harus mendarat darurat, memaksa kami menaiki taxi agar dapat sampai di kota sebelah. Dan lagi Allah mengirim kilat dan petir serta hujan yang deras hingga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami dan sampailah sekarang kami ada di rumahmu." Dr.Ishan menyeka air mata yang masih mengucur deras di wajahnya.
"Aku adalah Dr.Ishan." Tahukah kau? Hujan deras langsung berhenti saat itu juga. Sang nenek langsung bersujud dan menangis penuh haru. MaasyaaAllah. Lagi, bentuk cinta Allah sangat lembut, cinta yang luar biasa. AllahuAkbar!
Kau yang sedang sakit di sana. Yakinlah, tentara Allah tiada batasnya. Allah punya kuasa atas segala yang terbentang di alam semesta ini. Jika Dia menghendaki sesuatu terjadi, maka tentara-tentaraNya ini akan bergerak memudahkan urusan-urusan hambaNya yang berpenuh harap padaNya. Maka, kau yang sedang sakit di sana, aku turut mendo'akan kesembuhanmu. Jangan lupa untuk selalu memohon kesembuhan dariNya, dimudahkan segala urusan. Ingatlah, tak ada satu kejadianpun yang menimpa kita tanpa ada campur tangan Allah. Syafakallahu thohurun insyaaAllah..

Sakit

"Udah dulu yah, perutku sakit sekali." Ucapku menahan sakit seraya berniat memutuskan sambungan telepon darinya.
"Ntar, kamu ke toilet aja, pasti mau buang air kan?"
"Nggak..." Kali ini jawabku sambil meremas seprei kasurku. Sakit yang melilit di perutku makin menjadi.
"Aku tahu kamu, kamu kan suka buang air pas habis makan, kamu juga suka kentut di mana-mana. Hahahah.." Laki-laki di ujung telepon ini malah cengengesan bahkan masih saja ngotot. Sambungan telepon langsung kumatikan. Sakit di perutku sudah menjalar sampai ke belakangku, hingga ke pahaku.
Seminggu kemudian aku mendapati wajahnya dengan ekspresi yang sulit kuterka. Entah sedang memikirkan apa sesaat setelah melihat aku didorong keluar dari ruang bedah.

Sakau

Suara kipas angin memecah sepi sedari tadi. Lemari beraroma lembab serta gantungan baju yang sesekali bergerak tertiup angin. Sore-sore begini, keriuhan anak-anak telah hilang. Tidak seperti tadi siang, mereka memenuhi ruang yang berukuran 5 kali 4 meter ini. Mereka sedang mengantri untuk menelpon ke rumah orang tuanya masing-masing. Aku menjadi fasilitatornya. Kurasa jika aku berada di posisi mereka, aku akan tidak tahan. Selama sepekan hanya diberi waktu berbicara dengan orang tua lewat jaringan transmitter satelit hanya dua kali seminggu, dengan berebut antrian hampir 250 anak. Tapi, aku yang melihat mereka kadang turut bersedih demi melihat mereka berurai air mata dan ini yang kebanyakan terjadi. Mungkin sedang rindu, mungkin juga marah karena belum dikunjungi, dan mungkin juga sedang merajuk dibelikan beberapa kebutuhan, atau sedang meminta uang jajan. Jika sudah seperti itu, maka tidur siangku tidak bisa terpenuhi. Dan memilih membaca buku, setidaknya menghibur diri atau sengaja menghindari berbagai rengekan. Karena buku-bukuku tidak aku bawa serta ke sini, jadilah aku berencana membaca via online saja. Dan mendapat satu bacaan, sebuah novel berjudul "Beb, aku sakau." Aku memutar bola mata sambil bertanya kepada adik-adik yang sedang mengantri. "Ada yang tahu 'sakau' itu apa?" Jujur aku yang katro atau memang nggak gaul atau apa yang jelasnya jawaban anak-anak berhasil membuatku tertawa "Sakau itu kak, sakit karena kau."

Jumat, 14 April 2017

Pesan Rindu

Hey, kemarin aku bertemu dengan ayahmu. Katanya kamu sedang berada di kampungku. Dapat kubayangkan malam-malam begini, kamu sedang menarik selimut atau memasang jaket tebal oleh sebab dingin yang menusuk sampai ke tulang-tulang. Sekarang kau akan yakin dengan ceritaku tentang betapa hawa di sana akan sangat dingin jika malam hari.
"Apa yang dia lakukan di sana?". Aku mulai penasaran. Ayahmu hanya mengangkat bahu sambil bergumam "Anak muda."
Hah, belum tamat juga ternyata episode perjalananmu. Aku ingat, kita bertemu di sebuah agenda menjelajah alam yang saat itu kita sama-sama datang di akhir waktu, beruntung bus belum berangkat dan kita akhirnya bisa duduk di bangku paling belakang. Sambil mengatur nafas baik-baik yang serasa masih diburu-buru oleh waktu, kita akhirnya berkenalan dengan tanpa salaman. Kau sepertinya paham hanya dengan melihat jilbab dan rok yang kukenakan. Mana ada perempuan yang akan menjelajah alam dengan berpakaian seperti itu? Protesmu beberapa saat setelah bus berangkat. Kau yang menganut paham safety segala-galanya ketika hendak mengenal alam lebih dekat, membuatku harus mendebatmu dengan prinsip-prinsip yang kupegang. Dan di ujung perdebatan, kau angkat tangan dan mengutarakan pasal umum tentang wanita. "Wanita tidak pernah salah."
Mungkin sebab kaulah orang pertama yang kukenal dalam rombongan, maka banyak hal kemudian yang tidak kupahami selama perjalanan itu, kutanyakan padamu. Yah, dengan mendengar ocehanmu tentang ilmu perjalanan yang kau miliki, maka aku yakin kau lebih paham dan lebih berpengalaman dibanding aku yang baru sekali itu melakukannya. "Naif" katamu, setelah mendengar alasanku ikut dalam agenda ini. "Hanya untuk menghindari skripsi?". Dan lagi, aku akan sangat capek berdebat denganmu dan membiarkanmu menceramahiku. Hey, kau orang yang baru kukenal belum satu jam dan sudah menceramahiku banyak hal selama perjalanan? Terlalu. Maka, kupilih bermain gadget sambil sandaran dan berniat mengacuhkanmu.
"Facebook?"
"Hm." jawabku ogah-ogahan.
"Jika kau terlalu larut dalam dunia maya, maka dunia nyatamu tak ada artinya sama sekali." Kau mulai lagi ceramahmu, membuatku harus mengumpat dalam hati "Sok tahu."
"Lihat saja, berapa banyak anak yang diacuhkan oleh orang tuanya karena sibuk dengan apa yang ada dalam genggamannya, berapa banyak teman yang berniat curhat pada temannya dan kemudian tidak puas oleh karena teman curhatnya hanya menanggapi ah, oh, iyyah, karena sebenarnya dia tidak mendengar, hanya duduk menemani." Wah, hebat, hanya dengan mendengar kau bertutur seperti itu, membuatku memasukkan kembali HPku ke dalam tasku dan berniat membaca buku saja. Tapi urung oleh sebab ceramahmu masih panjang. Aku hanya tidak ingin disangka tidak menghargai lawan bicaraku.
Dan jelasnya, setelah perjalanan selesai, kita tidak saling berteman di FB meski kita sama-sama tahu alamat FB masing-masing.
"Buat apa berteman di sosial media jika hanya berhaha hihi di sana, dan setelah bertemu, tak ada apa-apa." Aku hanya bengong sesaat mendengar alasanmu, sungguh aku tidak mengerti dan lagian, aku juga tidak berniat amat ingin berteman denganmu. Tapi, dari sekian banyak cerita dari perjalanan kita waktu itu, aku sungguh banyak berterimakasih atas ceramah-ceramahmu yang panjang dan kadang-kadang memaksa. Kau seperti menyuruh adik perempuanmu jika menyuruhku ini itu, dengan muka sangarmu dan nada suaramu yang kau besar-besarkan. Hey, sekali lagi kita baru bertemu sekali ini kan, kemarin-kemarin tidak kan, kenapa kau bisa secerewet itu padaku?
Dengan kelakuanmu yang seenak jidatmu itu, entah mengapa kita akhirnya menjadi begitu dekat. Bukan dekat karena ada hubungan yang 'begitu' tapi lebih kepada, kau saudara tanpa darah yang selalu ada di saat aku sedang kepayahan menjalani hidup. Dan dengan segudang kesibukan kita masing-masing, aku yang sedang giat-giatnya menyelesaikan skripsiku saat itu, dan kau yang sedang kuat-kuatnya menyelesaikan proyek-proyekmu. Kita akhirnya jarang bertemu. Hingga kini, sejak tiga tahun yang lalu. Dan kau sekarang ada di kampungku? Luar biasa, aku mengangkat topi untukmu. Kau memang rajanya penjelajah. Nanti kalau kita bertemu, aku sangat ingin mendengar pengakuanmu tentang kampungku yang sejuk, indah dan menyenangkan. Bukan seperti kotamu yang penuh polusi, warganya yang pecicilan dan kurang bersahabat. Dan mendengar cerita tentang wanita-wanita di kampungku yang cantik-cantik dan putih-putih. Meski dulu saat aku menceritakan itu, kau mengangkat satu alismu dan menohokku dengan "Eh eh, kau kan nggak cantik apalagi putih." Kaupun meringis oleh ujung kertas gambarku yang mendarat di kepalamu dengan keras. Aku hampir lupa, kalau aku juga perempuan yang berasal dari kampungku.
Malam ini, meski kau tak membaca pesan ini, dan pasti tidak akan membacanya sebab, ehm, aku sudah memblokir akun facebookmu sudah lama. Kita memang tidak berteman tapi dulu aku lupa, kenapa tiba-tiba saja ingin memblokirmu. Mungkin karena dulu isi akunmu semuanya pecicilan atau isinya ceramah-ceramah membosankan yang sering kau lontarkan padaku yang satu-satunya jama'ahmu. Atau isinya rayuan gombal yang kau akui sebagai puisi-puisi isi hatimu, yang hampir membuatku muntah membacanya. Atau entahlah, aku lupa. Dan malam ini aku ingin bilang, aku merindukan ceramah-ceramah konyolmu, merindukan protes-protes tidak jelasmu dengan apa-apa yang kulakukan. Merindukan, ah, mungkin juga dirimu? Entahlah, dan tiga tahun ini banyak hal yang terjadi dan menyesakkan, dan semua tanpa ada kau dengan segenap ceramah yang sebetulnya kurasa adalah bentuk perhatianmu padaku. Maka, nanti jika kau kembali dari perjalananmu, mungkin kita bisa menikmati sepotong sore di penghujung senja sekedar berbagi kisah perjalanan masing-masing kita.

Rabu, 12 April 2017

Setia

Jika setia adalah bentuk lain dari rasa terima kasih, maka akan kulakoni sepanjang waktu. Hingga pada satu titik dimana kau akhirnya pulang pada rumah yang ada aku di dalamnya dan sejenak membuat kita yakin bahwa ada ribuan syukur pada bahagia yang di titipkan Tuhan selama kita sama-sama bersabar dalam ruang tunggu tempat kita saling memantaskan diri di hadapanNya.

Alunan Subuh

Adalah rembulan dengan pijar mempesona mengintip di balik jendela kaca. Dua tiga anak berteriak meneriakkan nyanyian sendu di bawah sana. Sesubuh ini tuntas tugas mereka, sujud-sujud di selayaknya sepi pertiga malam telah tunai oleh wajah-wajah pendamba indah keimanan. Lantunan ayat masih mengalir deras dari beberapa bibir mungil yang tengah meroja'ah. Tinggal menggenggam piala kemenangan atas lelah yang berharap Lillah. Fajar sebentar lagi menyapa, subuh sebentar lagi mengalun, ada wajah-wajah kantuk yang siap tersucikan wudhu. Maka, adakah dua rakaat yang lebih mulia selain dua rakaat sebelum subuh yang lebih baik dari bumi, langit serta segenap isinya yang menanti untuk ditegakkan? Dan para pendamba indah keimanan, telahkah bangkit dari dalam selimut yang penuh godaan? Ataukah masih enggan dan menanti saat cahaya rembulan tergantikan cahaya sang surya yang masuk menyeruak kamar-kamar melewati kaca jendela? Dan hidup di dunia hanya sekali, hidup kekal telah menanti, maut akan dilewati, surga atau nerakakah tempat kembali.

Hadiah dari Do'a

Sudah sampai di mana perjalananmu? Apa semakin jauh dan berat? Tenanglah, begini, aku pernah mendengar nasihat baik yang sangat indah soal 'perjalanan yang berat?'. Sini saya bisikkan, ehm, di manapun sekarang kakimu berpijak, di manapun punggungmu sedang rebahan yakinlah bahwa itu adalah buah dari do'a-do'a yang kau panjatkan atau do'a orang-orang yang terpanjatkan untukmu. Dan jika langkahmu semakin berat oleh medan yang rasanya begitu sulit kau taklukkan, maka yakinlah bahwa itu adalah ruang yang semestinya kau lewati dahulu untuk menuju puncak yang menjanjikan keindahan. Sebab, barangkali dahulu ada do'a yang begitu indah dan luar biasa yang kau panjatkan pun yang terpanjatkan untukmu yang sekiranya hendak dikabulkan oleh Sang Pengabul Do'a, namun kau harus melewati beberapa fase yang berat bahkan menyakitkan sekalipun. Jadi, intinya nikmati saja pedih-pedih itu, sesak-sesak itu karena di ujung setiap ujian telah menanti takdir indah yang siap kau syukuri dengan sangat. Sampai, ketika kau telah mendapatkannya, air mata harumu akan menjadi saksi betapa kau adalah orang terbahagia setelah apa-apa yang menimpa dan menempa hati rapuhmu kemarin. Bukankah memang kepedihan itulah yang mempertegas betapa indah bahagiamu hari ini, betapa kuat kau mengucap syukur hari ini, betapa elegannya takdir yang menari-nari di hadapanmu kini, iyyah kan, bukan begitu?

Ada Rindu

Ada yang tumpah ruah karena sudah terlalu penuh dari dalam hatiku yaitu rindu.
Ada yang menyesak mencoba meloloskan diri menembus dinding-dinding sukmaku yaitu lagi-lagi rindu.
Ada yang kelelahan bahkan berpeluh-peluh tak beraturan menyisakan detak kencang yang saling bersahutan dan itu sekali lagi adalah rindu.
Dan ada yang tetap bertahan tak ingin berhenti, walau akal selalu menyerangnya dengan logika yang paling mematikan sekalipun, yaitu keyakinan yang bermesraan dengan pengertian.
Mereka selalu memaksa dan menyuruh untuk berharap meski dengan teganya menciptakan air mata. Herannya, pada setiap waktu yang bersarang kata tunggu masih juga tak mau mengalah hanya karena marah dan cemburu.
Kekuatan apa yang hati miliki sehingga begitu perkasa menjaga percaya meski tak pernah ada kata "jangan menyerah"...darimu. Sekali lagi aku bertanya kekuatan apa, hm?

Minggu, 09 April 2017

Menahan Diri

Tadi siang sempat emosi, walau tak sampai ngomel ngedumel nggak jelas yang ujung-ujungnya bakalan menambah hati yang terluka. Hanya helaan nafas panjang ditambah pengumuman kecil yang sedikit mengarah ancaman. Hal sepele memang, HP terreset ulang yang membuat segala data yang tersimpan hangus, hilang tak berjejak disertai semua aplikasi ludes yang butuh didownload dan diinstal ulang. Penyebabnya sederhana, seorang eh, tidak beberapa orang adik di sini yang memang tangannya super jahil, akibat tidak mendapat izin mengeksplor isi dalam smartphoneku. Maka, mereka mencoba berbagai pola pada sistem keamanan untuk mencoba membuka kuncinya. Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang suka membuat pola, sandi, pin dsb untuk mengamankan smartphone yang ujung-ujungnya sebenarnya bikin rempong diri sendiri. Tapi, di sini ada beberapa aturan yang memaksa untuk membuat pola-pola rumit tersebut. Dan hasilnya, hari ini harus mengelus dada berkali-kali, bukan adegan sedang menenangkan diri untuk menguat-nguatkan hati. Tapi memang belakangan jika sedang marah besar, serasa ada yang menekan aorta jantung, membuatnya berdebar begitu kencang dan menyisakan denyut kecil di dada. Eh, agak lebay, tapi sepertinya hal itu yang membuat tak bisa melakonkan peran mak emak yang harus volume besar saat ingin memarahi anaknya yang sedang berbuat ulah.
Tapi, di balik peristiwa tidak mengenakkan, selalu ada hikmah yang tersembunyi di sana. Hanya kita saja yang harus jeli menemukannya. Jadi begini, akibat smartphone yang tiba-tiba tereset tadi, maka semua aplikasi yang sudah terinstal ulang adalah bentuk perbaikan terbaru yang kemarin-kemarin ingin saya perbaharui tapi tidak bisa dikarenakan tidak ada lagi ruang penyimpanan. Masalah data yang hilang, yah palingan cuma foto produk yang ingin diiklankan yang besok-besok juga bisa dilakukan lagi prosesi pemotretannya, dan bisa jadi menghasilkan foto yang lebih bagus. Positif thinking ajalah. Yang bikin sedih mungkin adalah beberapa episode terbaru Naruto yang sudah saya download dan belum dipindahkan ke laptop juga raib. Eh, eh kan masih bisa download ulang ding, haha.
Yah, poin pentingnya adalah dikasih kesempatan untuk belajar menahan diri untuk tidak mencak-mencak di hadapan adik-adik yang bertangan jahil. Kan, setiap orang adalah ujian bagi orang lain yah. Jadi yah nikmati saja dan kalau perlu tertawai saja kejahilan mereka. Toh, mereka kan juga masih anak-anak. :D :D :D

Kau

Kau yang ambil paru-paruku. Kau juga yang bertanya kenapa aku tercekik kehabisan napas.
_Brian Khrisna, Merayakan Kehilangan

Gamang

Pada satu waktu tertentu, tiba-tiba ada keadaan dimana hanya bisu dan khawatir berlebih yang tidak tahu asalnya dari mana. Mau bilang "Apa kabar, semua baik-baik saja?" rasanya gagu. Sekiranya ketika kening menyentuh lantai surau dan membisikkan pada diri bahwa semua baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja, itu membuat sejenak resah hilang bersama hembusan angin di sela-sela raka'at. Sebab pada Dia tempat mengadu, kita yakini bahwa setiap waktu Dia mencurahkan penjagaannya pada tiap jiwa yang hamba.

Jumat, 07 April 2017

Mama, Bagaimanalah Bentuk Baktiku Padamu?

Mama, apa kabarmu di sana? Mungkin jika kau sedang menghubungiku dan ingin menanyakan kabarku melalui pesan singkat ke nomor teleponku, maafkan aku. Sebab dari dua hari yang lalu handphoneku ketinggalan di suatu tempat, dan sepertinya sudah kehabisan baterai, tapi tenang saja, kecerobohanku yang selalu kau khawatirkan tentang barang-barangku yang mudah sekali hilang, kali ini aku sedikit berkabar bahwa semuanya aman. Mungkin besok aku akan mengambilnya. Mama, sehat? Sungguh aku ingin sekali menelponmu malam ini. Sekedar berbagi bahwa aku di sini sehat, atau sekedar menerangkan bahwa aku sungguh sudah sangat baik-baik saja di sini.
Mama, maafkan jika belum menjadi anak yang berbakti seutuhnya padamu. Masih jauh dari yang kau harap. Mama, ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Harits Nu'man namanya. Suatu hari ketika Rasulullah sedang berada di surga, Rosulullah mendengar sebuah bacaan Al-Qur'an yang sangat merdu, kemudian beliau bertanya.
"Siapa yang membacanya?".
"Ya Rosulullah, ini adalah bacaan Harits Bin Nu'man."
"Harits?" Tanya Rosulullah heran. "Bukannya dia ada di Madinah, dia belum meninggal tapi bagaimana bisa bacaannya bisa terdengar sampai di surga?."
"Yaa Rosulullah." Jawab malaikat. "Dia berbakti kepada ibunya, sehingga Allah ridho bahwa ketika Harits membaca Al-Qur'an, semua penduduk surga akan mendengarnya." MaasyaaAllah.
Maka, bagaimanalah aku yang kadang masih membuatmu darah tinggi karena ulahku, kadang masih menoreh luka dan membuatmu harus berlinang air mata. Bagaimanalah aku mama, bagaimana?
Mama, suatu hari Rosulullah SAW bersabda seperti ini kepada Umar RA. "Umar, dalam hidupmu akan datang seseorang bernama Uwais, sukunya adalah Amir, keluarganya adalah Qarni, warna kulitnya hitam, tingginya sedang, dan di punggungnya ada titik putih. Ketika dia datang, maka mintalah do'a padanya. Kau, Umar, andaikan ada Nabi lagi setelahku, maka dialah orangnya Umar." Dan kita tahu bersama mama, siapa orang-orang mulia yang selalu bersama Rosulullah, Abu Bakar dan Umar. Dua sahabat yang berada dalam genggaman tangan Rosulullah kelak ketika mereka berdiri saat hari pembangkitan. Dan Uwais, siapa sahabat mulia ini mama?
"Umar, mintalah do'a pada Uwais."
"Yaa Rosulullah, mengapa aku harus meminta Uwais melakukan itu?" Tanya Umar sedikit heran.
"Dia memperlakukan ibunya dengan sangat baik sehingga ketika dia mengangkat tangannya, Allah tidak akan mengembalikannya dalam keadaan hampa." Sabda Rosulullah.
Maka datanglah zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Ketika berhaji, ia berseru "Adakah Uwais Al Qarni dari suku Amir?". Uwais tidak ikut berhaji. Pada suatu riwayat pada tahun itu, Uwais seharusnya berangkat haji namun ibunya memintanya menemaninya. Maka Uwais memilih tinggal di rumah melayani ibunya, tidak meninggalkannya meski untuk sebuah ibadah haji. Maka tahun berikutnya Umar kembali berhaji, dia mengumpulkan seluruh jamaah di depan gunung Abi Qubais.
"Semua penduduk Yaman berdiri, yang lain duduk." Serunya kemudian. Maka penduduk Yaman tetap berdiri.
"Semua penduduk Yaman silahkan duduk kecuali ibnu Amir."
"Semua Ibnu Amir duduk, Al-Qarni tetap berdiri." Maka hanya ada seorang Al-Qarni yang berdiri yang lainnya duduk.
"Kau Qarni"? Tanya Umar. "Ya"
"Apa kau kenal Uwais?"
"Ya, dia keponakanku. Putra dari saudara kandungku. Tapi dia gila, kenapa kau menanyakan tentangnya?". Mendengar itu, Umarpun menangis.
"Dia tidak gila, kaulah yang gila. katakan padaku, apakah dia berhaji?"
"Ya, dia datang" Jawab lelaki yang adalah paman Uwais.
"Di mana dia sekarang?"
"Dia menuju Arafat, membawa untanya merumput di sana."
Mandengar itu, Umar RA dan Ali RA langsung berlari menuju Arafat. Sesampainya di sana, mereka menemukan seseorang sedang berdiri dalam sholat di bawah sebuah pohon sedang di sekitarnya ada unta yang sedang merumput. Umar dan Ali lantas duduk di dekatnya menunggu lelaki ini selesai sholat. Menyadari ada orang, Uwais memperpendek sholatnya. Setelah selesai, Umar langsung bertanya padanya. "Siapa dirimu?".
"Aku seorang pekerja, hamba Allah". Jawab Uwais
"Maksudku nama yang diberikan oleh ibumu, siapa?" Tanya Umar penuh rasa ingin tahu.
"Mengapa engkau mewawancaraiku?" Tanya balik Uwais yang tidak mengatahui jika yang ada di hadapannya adalah dua orang Sahabat Rosul yang seorang di antaranya adalah seorang Khalifah. Uwais adalah seorang penduduk Yaman yang baru sekali ini menginjakkan kakinya di Mekkah. Mana dia tahu wajah mereka, yang dia tahu hanya nama mereka.
"Dia adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab dan aku adalah Ali bin Abi Thalib." Ali yang menjawab kemudian. Mendengar itu, seketika tubuh Uwais gemetar dan lantas memohon maaf dan mengucap salam kepada mereka berdua.
"Nama yang diberikan oleh ibuku adalah Uwais." Ucapnya mengenalkan diri.
"Tanggalkan pakaian dari punggungmu." Seru Umar. Uwais pun membuka bajunya dari punggungnya dan di sana ada titik putih.
"Yaa Uwais, angkatlah tanganmu dan berdo'alah untuk kami berdua." Pinta Umar setelah meyakini bahwa laki-laki di depannya adalah laki-laki yang pernah dinubuatkan oleh Rosulullah.
"Aku?" Tanya Uwais seakan tak percaya "Aku bahkan tak sebanding dengan debu yang ada di kakimu." Lanjutnya dengan haru. "Bagaimana mungkin aku mendo'akan kalian yang lebih mulia dariku." Air matanya tak mampu lagi dibendungnya. Permintaan sang khalifah seketika mengharukan batinnya. Ia merasa tidak pantas. Seorang yang bahkan disangka gila oleh pamannya sendiri.
"Kau harus melakukannya. Rosulullah memberitahu kami bahwa baktimu kepada ibumu telah meninggikan derajatmu. Jika kau berdo'a, Allah berfirman 'Labbaik' ". Maka dengan penuh haru menyelimuti hatinya, Uwais mengangkat tangannya dan mendo'akan dua orang sahabat Rosulullah yang ada di hadapannya, Umar dan Ali. MaasyaaAllah.
Mama, bagaimanalah bentuk bakti yang bisa kupersembahkan padamu. Bahkan aku sangat jarang menanyakan kabarmu di sana. Apalagi sekedar pulang dan mencium punggung tanganmu. Dan ketika aku di rumah, justru aku lebih banyak mendapat pelayanan darimu. Kadang malah menyusahkanmu dan hanya malas-malasan. Bagaimana aku mendekati surga, jika surgaku di bumi yang adalah engkau saja jarang kusambangi. Mama, maafkan aku. Sungguh anakmu ini masih banyak belajar dan berusaha sebaik mungkin menjadi anak. Sedang engkau, meski tak kuminta. Kau selalu ada untukku. Selalu ada. Mama, aku ingin mencintaimu seutuh kau mencintaiku. Aku ingin selalu ada di sampingmu saat kau butuh, seperti engkau yang siap meninggalkan apapun yang kau kerjakan demi hanya untukku. Tapi aku di sini bahkan kadang lalai menyebutmu dalam do'aku. Do'a yang sejatinya berharap mampu melipat jarak yang memisahkan kita. Dengan menyebut namamu dalam do'aku setidaknya kumohon kepada Allah agar dengan itu, mampu mendekatkanku sedikit saja menuju surgaNya.
Mama, baik-baiklah di sana. Aku malam ini sebenarnya sedang merindumu. Rindu yang selalu malu-malu kusebut saat kita berbicara dalam ruang udara. Do'akan aku agar bisa melakukan bakti sebaik mungkin padamu. Selalu. Hingga nanti kita berkumpul kembali di Jannah.

Rona Jingga

Matahari begitu bersyukur hari ini, awan membantunya, teriknya tak terlalu menyiksa manusia. Dan selepas sore, dia bertanya-tanya telah tertunaikankah dengan baik tugas dari Tuhan untuknya. Pada jedah menunggu hingga beberapa detik kemudian untuk terbenam di ufuk barat, dia masih merasa legah setelah menggores kaki langit barat dengan sinar orange yang memesona. Kita kadang lupa berterimakasih padanya. Kadang malah merutuki teriknya yang tak terlalu menyiksa. Bahkan hadirnya telah menyinari kehidupan seluruh makhluk bumi bukan? Dan hingga detik-detik kepergiannya yang perlahan-lahan dan menyisakan takjub pada penghuni bumi, ia mampu menyadarkan kita bahwa ada Zat Maha Kuasa Yang memperjalankannya dengan sangat teratur.

Rabu, 05 April 2017

Hakikat Umur

Dan kadang kita bertanya bahkan meragukan atas mengapa Tuhan hanya menciptakan waktu 24 jam sehari semalam. Mengingat begitu banyak pe er yang menunggu untuk diselesaikan. Nyatanya adalah kita saja yang tidak cakap mengatur waktu. Pada 24 jam itu, telah sempurna pembagian waktu yang Allah siapkan bagi sesiapa yang pintar memanfaatkannya. Maka, tentang umur atau udzur atau mungkin kita mengenal kata "ajal", kemarin dulu saya dapat materi menarik soal ini. Mungkin kita akan sering mengucapkan doa semoga dipanjangkan umur pada yang sedang milad. Dan pertanyaannya adalah, apakah ketika misalnya doa kita terijabah, betulkah umur kita akan diperpanjang? Contoh: umur kita sudah ditentukan sejak kita masih dalam kandungan 60 tahun, dan setiap tahun begitu banyak yang mendoakan agar dipanjangkan umur bahkan malaikatpun mengaminkan. Jika terijabah apakah akan bertambah setahun sehingga umur kita menjadi 61 tahun? Dan kemarin dulu misteri pertanyaan ini terjawab.
Dengan sebuah hadis yang berbunyi "Barang siapa menyambung tali silaturahim maka akan ditambah rezekynya dan dipanjangkan umurnya" si ibu yang memberi materi membuka kajian. Dan memberi pertanyaan seperti pertanyaan saya di atas. Kami yang sedang melingkar ada yang menjawab sekenanya, menebak dan menerka bahwa mungkin saja, karena Allah Maha Segala. Pun dalam soal umur, Allah mudah saja akan menambahnya.
Dan inilah jawaban sang Em Er yang bikin saya juga akhirnya ber "ohhhh" yang sangat panjang. Semoga saya tidak lupa kata-katanya soalnya belakangan seperti sedang diserang malas menulis di setiap pertemuan pekanan. #JanganDitiru.
"Udzur atau umur atau waktu hingga ajal datang adalah sebuah perjalanan diri. Bukan lamanya kita hidup di dunia tapi sepanjang apa perjalanan yang kita telusuri." Masih bingung? Saya pada poin ini pun sedikit bingung. Biar lebih mudah mungkin seperti ini. Umur kita telah tercatat jelas di lauh mahfudz dan beserta catatan sehari-hari kita. Nah umur yang sebenarnya adalah bukan pada angka hari tapi pada angka sejauh mana tapak kaki, sejauh mana kebermanfaatan tiap detik itu. Sebagai contoh, mungkin ada yang seharian tidur saja di rumah hingga malam lagi. Tanpa berbuat apa-apa. Tanpa melakukan kebermanfaatan. Nah, maka catatan kehidupannya pada lembar-lembar diarynya sangat pendek. Misalnya tertulis tanggal 5 april si fulan tidur sampai siang, bangun makan tidur lagi hingga malam. Malam hari begadang nonton film korea sampai subuh. Nah, inilah udzur yang dimaksud betapa pendek catatan hidupnya. Berbeda mungkin bagi yang bangun sebelum subuh melakukan ini itu, selesai subuh langsung berangkat menunaikan kewajiban, silarurahim kesana kemari, menyapa si ini si itu. InsyaaAllah catatan kehidupannya panjang sekali kan? Nah, inilah umurnya, umurnya sehari itu berlembar-lembar.
Nah, jika kita memikirkan hal ini, maka akan sinkronlah dengan hadis pembuka tadi "barang siapa yang menyambung tali silaturahim akan ditambah rezekynya dan dipanjangkan umurnya." Maka, sesiapa yang menyambung tali silarurahim, setiap hari bertandang ke sana ke sini, menyapa si itu si ini. Jelaslah, umurnya panjang.
Bukan mau menceramahi yah, semoga saja ada manfaatnya. Waktu memang seperti anak panah, melesat begitu cepat dan tak terasa umur kita sehari telah ditebasnya. Maka panjangkan langkah-langkah, sambungkan berbagai bentuk silaturahim. Semoga dengan itu, catatan kehidupan kita kelak, ketika dibuka, begitu panjang berisi kebermanfaatan.
Wallahu'alam bisshowwab.