Minggu, 16 April 2017

Sakau

Suara kipas angin memecah sepi sedari tadi. Lemari beraroma lembab serta gantungan baju yang sesekali bergerak tertiup angin. Sore-sore begini, keriuhan anak-anak telah hilang. Tidak seperti tadi siang, mereka memenuhi ruang yang berukuran 5 kali 4 meter ini. Mereka sedang mengantri untuk menelpon ke rumah orang tuanya masing-masing. Aku menjadi fasilitatornya. Kurasa jika aku berada di posisi mereka, aku akan tidak tahan. Selama sepekan hanya diberi waktu berbicara dengan orang tua lewat jaringan transmitter satelit hanya dua kali seminggu, dengan berebut antrian hampir 250 anak. Tapi, aku yang melihat mereka kadang turut bersedih demi melihat mereka berurai air mata dan ini yang kebanyakan terjadi. Mungkin sedang rindu, mungkin juga marah karena belum dikunjungi, dan mungkin juga sedang merajuk dibelikan beberapa kebutuhan, atau sedang meminta uang jajan. Jika sudah seperti itu, maka tidur siangku tidak bisa terpenuhi. Dan memilih membaca buku, setidaknya menghibur diri atau sengaja menghindari berbagai rengekan. Karena buku-bukuku tidak aku bawa serta ke sini, jadilah aku berencana membaca via online saja. Dan mendapat satu bacaan, sebuah novel berjudul "Beb, aku sakau." Aku memutar bola mata sambil bertanya kepada adik-adik yang sedang mengantri. "Ada yang tahu 'sakau' itu apa?" Jujur aku yang katro atau memang nggak gaul atau apa yang jelasnya jawaban anak-anak berhasil membuatku tertawa "Sakau itu kak, sakit karena kau."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar