Senin, 17 April 2017

Ngambek

Dengan terpaksa kututup wajahku dengan buku yang masih terbuka di tangan, mencoba memejamkan mata, tidur. Mungkin sudah 100 kali namaku dia sebut. Ah, bodo amat, hari ini aku lagi tidak mau diganggu oleh siapapun. Dan juga aku lagi malas bangkit dari kasur dan mengenakan jilbab sekedar untuk menengok ke luar jendela. Paling jawabannya itu itu lagi setelah nanti aku menanyakan perihal kebutuhannya. Tak lain dan tak bukan mau ditemani ke toko outdoor untuk melengkapi alat mendakinya.
Tiga hari lalu aku rada jengkel, bisa-bisanya dia membatalkan rencana pendakian kami yang tinggal menghitung hari. Sebenarnya yang paling ngotot ingin mendaki sih dia. Aku hanya ingin menemani, tapi demi melihat foto-fotonya di atas puncak membuatku juga ingin merasakan berada di atas awan. Mungkin akan sangat menyenangkan, apalagi setelah hampir dua tahun aku tidak menapaki jalan-jalan terjal menuju sebuah puncak gunung.
Dia masih memanggilku dari bawah sana. Sudah tiga hari ini dia melakukannya sejak pembatalan sepihaknya soal pendakian kami. Aku tahu, dia sedang merayuku agar tidak marah padanya. Tapi aku sudah terlanjur kecewa. Dan sekali lagi aku berhasil mengacuhkannya setelah tidak ada lagi suara teriakannya yang membuat telingaku hampir tuli selama satu jam. Aku mendekati jendela dan berniat melihat ke bawah apakah dia benar-benar sudah pergi setelah kutunggu lima menit sesaat setelah suaranya menghilang. Dan benar, tidak ada lagi sosok dengan tinggi 178 cm di bawah sana. Namun, kemudian aku harus memicingkan mata untuk melihat sesuatu yang sepertinya sengaja dia tinggalkan. Sebuah kertas kecil yang berada persis di atas sekuntum mawar merah. Setelah membuka jendela lebar-lebar dan menundukkan kepalaku agak ke bawah, aku dapat membaca sebuah tulisan di kertas kecil itu. "Sorry, *sad*"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar