Jumat, 14 April 2017

Pesan Rindu

Hey, kemarin aku bertemu dengan ayahmu. Katanya kamu sedang berada di kampungku. Dapat kubayangkan malam-malam begini, kamu sedang menarik selimut atau memasang jaket tebal oleh sebab dingin yang menusuk sampai ke tulang-tulang. Sekarang kau akan yakin dengan ceritaku tentang betapa hawa di sana akan sangat dingin jika malam hari.
"Apa yang dia lakukan di sana?". Aku mulai penasaran. Ayahmu hanya mengangkat bahu sambil bergumam "Anak muda."
Hah, belum tamat juga ternyata episode perjalananmu. Aku ingat, kita bertemu di sebuah agenda menjelajah alam yang saat itu kita sama-sama datang di akhir waktu, beruntung bus belum berangkat dan kita akhirnya bisa duduk di bangku paling belakang. Sambil mengatur nafas baik-baik yang serasa masih diburu-buru oleh waktu, kita akhirnya berkenalan dengan tanpa salaman. Kau sepertinya paham hanya dengan melihat jilbab dan rok yang kukenakan. Mana ada perempuan yang akan menjelajah alam dengan berpakaian seperti itu? Protesmu beberapa saat setelah bus berangkat. Kau yang menganut paham safety segala-galanya ketika hendak mengenal alam lebih dekat, membuatku harus mendebatmu dengan prinsip-prinsip yang kupegang. Dan di ujung perdebatan, kau angkat tangan dan mengutarakan pasal umum tentang wanita. "Wanita tidak pernah salah."
Mungkin sebab kaulah orang pertama yang kukenal dalam rombongan, maka banyak hal kemudian yang tidak kupahami selama perjalanan itu, kutanyakan padamu. Yah, dengan mendengar ocehanmu tentang ilmu perjalanan yang kau miliki, maka aku yakin kau lebih paham dan lebih berpengalaman dibanding aku yang baru sekali itu melakukannya. "Naif" katamu, setelah mendengar alasanku ikut dalam agenda ini. "Hanya untuk menghindari skripsi?". Dan lagi, aku akan sangat capek berdebat denganmu dan membiarkanmu menceramahiku. Hey, kau orang yang baru kukenal belum satu jam dan sudah menceramahiku banyak hal selama perjalanan? Terlalu. Maka, kupilih bermain gadget sambil sandaran dan berniat mengacuhkanmu.
"Facebook?"
"Hm." jawabku ogah-ogahan.
"Jika kau terlalu larut dalam dunia maya, maka dunia nyatamu tak ada artinya sama sekali." Kau mulai lagi ceramahmu, membuatku harus mengumpat dalam hati "Sok tahu."
"Lihat saja, berapa banyak anak yang diacuhkan oleh orang tuanya karena sibuk dengan apa yang ada dalam genggamannya, berapa banyak teman yang berniat curhat pada temannya dan kemudian tidak puas oleh karena teman curhatnya hanya menanggapi ah, oh, iyyah, karena sebenarnya dia tidak mendengar, hanya duduk menemani." Wah, hebat, hanya dengan mendengar kau bertutur seperti itu, membuatku memasukkan kembali HPku ke dalam tasku dan berniat membaca buku saja. Tapi urung oleh sebab ceramahmu masih panjang. Aku hanya tidak ingin disangka tidak menghargai lawan bicaraku.
Dan jelasnya, setelah perjalanan selesai, kita tidak saling berteman di FB meski kita sama-sama tahu alamat FB masing-masing.
"Buat apa berteman di sosial media jika hanya berhaha hihi di sana, dan setelah bertemu, tak ada apa-apa." Aku hanya bengong sesaat mendengar alasanmu, sungguh aku tidak mengerti dan lagian, aku juga tidak berniat amat ingin berteman denganmu. Tapi, dari sekian banyak cerita dari perjalanan kita waktu itu, aku sungguh banyak berterimakasih atas ceramah-ceramahmu yang panjang dan kadang-kadang memaksa. Kau seperti menyuruh adik perempuanmu jika menyuruhku ini itu, dengan muka sangarmu dan nada suaramu yang kau besar-besarkan. Hey, sekali lagi kita baru bertemu sekali ini kan, kemarin-kemarin tidak kan, kenapa kau bisa secerewet itu padaku?
Dengan kelakuanmu yang seenak jidatmu itu, entah mengapa kita akhirnya menjadi begitu dekat. Bukan dekat karena ada hubungan yang 'begitu' tapi lebih kepada, kau saudara tanpa darah yang selalu ada di saat aku sedang kepayahan menjalani hidup. Dan dengan segudang kesibukan kita masing-masing, aku yang sedang giat-giatnya menyelesaikan skripsiku saat itu, dan kau yang sedang kuat-kuatnya menyelesaikan proyek-proyekmu. Kita akhirnya jarang bertemu. Hingga kini, sejak tiga tahun yang lalu. Dan kau sekarang ada di kampungku? Luar biasa, aku mengangkat topi untukmu. Kau memang rajanya penjelajah. Nanti kalau kita bertemu, aku sangat ingin mendengar pengakuanmu tentang kampungku yang sejuk, indah dan menyenangkan. Bukan seperti kotamu yang penuh polusi, warganya yang pecicilan dan kurang bersahabat. Dan mendengar cerita tentang wanita-wanita di kampungku yang cantik-cantik dan putih-putih. Meski dulu saat aku menceritakan itu, kau mengangkat satu alismu dan menohokku dengan "Eh eh, kau kan nggak cantik apalagi putih." Kaupun meringis oleh ujung kertas gambarku yang mendarat di kepalamu dengan keras. Aku hampir lupa, kalau aku juga perempuan yang berasal dari kampungku.
Malam ini, meski kau tak membaca pesan ini, dan pasti tidak akan membacanya sebab, ehm, aku sudah memblokir akun facebookmu sudah lama. Kita memang tidak berteman tapi dulu aku lupa, kenapa tiba-tiba saja ingin memblokirmu. Mungkin karena dulu isi akunmu semuanya pecicilan atau isinya ceramah-ceramah membosankan yang sering kau lontarkan padaku yang satu-satunya jama'ahmu. Atau isinya rayuan gombal yang kau akui sebagai puisi-puisi isi hatimu, yang hampir membuatku muntah membacanya. Atau entahlah, aku lupa. Dan malam ini aku ingin bilang, aku merindukan ceramah-ceramah konyolmu, merindukan protes-protes tidak jelasmu dengan apa-apa yang kulakukan. Merindukan, ah, mungkin juga dirimu? Entahlah, dan tiga tahun ini banyak hal yang terjadi dan menyesakkan, dan semua tanpa ada kau dengan segenap ceramah yang sebetulnya kurasa adalah bentuk perhatianmu padaku. Maka, nanti jika kau kembali dari perjalananmu, mungkin kita bisa menikmati sepotong sore di penghujung senja sekedar berbagi kisah perjalanan masing-masing kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar