Rabu, 19 Desember 2018

Jawaban Atas Doa-doa

Suatu hari sehabis sholat berjamaah berdua dengan seorang Ummi di sebuah pesantren. Dengan menahan-nahan air mata untuk jatuh (lagi). Lagi? Iyyah, karena kemarin-kemarinnya puncak dari kemewekan saya yang kalau masih diingat sih kadang masih sesak.

Saya bilang begini sama Ummi
"Ummi, orang-orang di sini kuat-kuat yah. Kok saya kayak lemah sekali di antara mereka. Ummi, ria harus bagaimana?" dan mengalirlah curhatan saya yang gag panjang-panjang amat sih karena takut air mata saya jebol. Hehe, cengeng beudh gue yak.

Lalu ummi bilang gini
"Ria harus sabar dan yakin bahwa ini adalah yang terbaik dari Allah. Bisa jadi, dengan di sini salah satu doa ria terkabul." Lalu saya mikir kerasssss sekali, doa saya yang mana yang dikabulkan Allah? Lah, hampir setiap hari di sini saya kayak mau nangis saja. Bahkan mau melarikan diri (ihhhh ketahuan) 😝😝

"Iyyah, karena kita kadang tidak tahu, doa kita yang mana, atau doa orang yang mana untuk kita yang terkabul sehingga kita diperjalankan Allah ke suatu tempat." Ummi seperti membaca pikiran saya yang masih merenung.

"Jangan salah, kalau misalnya ria menganggap bahwa ini semua beban. Bukan, ini bukan beban. Ini adalah salah satu cara Allah untuk menguatkan. Menguatkan ummi-ummi di sini"

Maka saya teringat dengan doa yang hampir tak pernah luput dalam sujud "Allah kuatkan hamba, Allah kuatkan hamba"

Lalu, apa dengan berdoa seperti itu lantas bisa langsung kuat? NOOOO... Kamu harus melewati banyak ujian, memikul banyak beban, ditempa banyak rasa (cemas, takut, sesak, sedih, kecewa, marah, dll). Barulah kamu setelah lulus dari itu semua menuai sesuatu yang namanya "strong"

Selain itu, kamu harus bisa keluar dari zona nyamanmu. Selama ini, saya hidup di antara orang-orang baik. Yang suaranya lembut, sikapnya baik sekali, setiap hari bareng mereka saya bisa bebas berhaha hihi. Bebas jadi diri sendiri.

Dan keluar dari sana. Bertemu dengan orang baru. Dengan orang yang suaranya keras banget (sumpah, hati saya dulu rapuh betul ketemu sama orang kayak gini, kayak dimakan setiap hari hiks). Ketemu sama tipe manusia yang suka melempar kata-kata pedas (gag sepedas mie pedas level 10 sih) tapi bikin jantung deg deg an, bukan karena jatuh cinta yek, tapi perasaan yang kayak diperas peras. Duh, curhat bu? Dan pelakunya adalah anak-anak. Tambah kerdil gueh.

Nah, kira-kira begitulah hukum doa berlaku. Sunnahtullah gays, gag instan juga. Kayak kamu minta uang yang banyak, yah usaha dulu. Kayak, kamu minta jodoh, yah jemputlah ehmmm.

Tapi satu yang pasti Allah Maha Mengabulkan. Minta aja terus, minta aja lagi, minta minta minta sama Allah. Dan yakin saja kalau di tempatmu sekarang berdiri adalah salah satu proses yang harus kamu lalui untuk menuju doamu itu. Atau bisa jadi, kamu sedang berdiri di atas doamu yang telah terkabul.

Yah karena ternyata bukan doa yang kita panjatkan saja yang akan balik sama kita. Tapi ada doa doa orang baik juga yang terselip, maka jangan ragu minta didoakan.

Seperti kalau ada yang lagi safar, saya suka minta oleh-oleh. Oleh-olehnya apa? Do'a. Suatu hari teman saya nanya "Loh, kok oleh-oleh do'a, yang lain kek"

"Lu kayak orang kaya aja mau beliin gue macam-macam. Doain ajalah, kan do'a orang yang lagi safar itu makbul, kudu diijabah sama Allah"

Atau saya bilang gini
"Wah, lagi jalan-jalan. Oleh-oleh yah. Satu karung. Isinya doa semua. Macam-macam, pokoknya mereknya ada nama saya di dalamnya"

As simple like that. Makanya, kalau mau mengeluh kenapa Allah kirim saya ke sini? Di sini hanya ada bla bla bla. Ingat lagi sama pesan ummi "Mungkin itu adalah jawaban atas doa doamu. Berprasangka baik sama Allah. Allah sesuai prasangka hambaNya"

r.i.a

Minggu, 16 Desember 2018

Crazy Rich (Orang kaya yang gila atau orang gila yang kaya?)

Jangan tanya apa yang terjadi di sini jika siang-siang. Cuacanya ekstrim gays. Alhamdulillah panas, kalau gak kipasan, banjir keringatlah. Punya mimpi bakalan tidur nyenyak sih, masih bisa, kalau ukuran saya yang nempel di bantal melayang sudah hehe. Yah, karena siang tadi benar-benar panas alhamdulillah lagi yah. Dan saya tidak kebagian angin dari kipas ukuran sedang, jadi saya memilih menonton film saja. Menikmati hidup.

Crazy Rich Asians. Filmnya sudah lama rilis, termasuk yang punya rating hight juga. Tapi sebagai pecinta film family romance, menurut saya sih biasa-biasa saja. 🤗🤗

Nick adalah pria tiongkok yang memiliki saham di mana-mana. Keturunan orang tajir pake banget. Kalau ditaksir hampir sebagian besar bisnis di cina adalah milik keluarganya. Hotel, maskapai penerbangan service VVIP, bungalow, travel dll dsb.

Ada satu kesalahan yang dilakukan Nick. Dia bertemu dengan seorang wanita di New York, Rachel namanya, keturunan tionghoa juga sih dan dia jatuh cinta padanya. Nick tidak menjelaskan asal usul keluarganya dengan gamblang kepada Rachel sebelumnya. Yah, sesederhana itu kesalahannya.

Hingga suatu hari ketika mereka sudah memiliki cinta yang dalam satu sama lain. Nick mengajak Rachel bertemu keluarganya di Singapura. Sekalian menghadiri pernikahan sahabat Nick. Salah satu pernikahan terwah, terglamor dan orang-orang yang diundang di sana hanya orang-orang kalangan atas.

Skip skip skip yah. Panjang kalau mau direview di sini mah. Pegel ntar jempol saya. Singkat ceritalah. Akhirnya Rachel bertemu dengan keluarga besar Nick yang saat itu juga tengah melakukan party (semacam pertemuan keluargalah) tapi yahh, sekali lagi glamor.

Beruntung Rachel memiliki seorang teman yang membantunya fitting baju, make up segala macamnya. Membuatnya tidak malu-malu amat hadir di party itu.

Ini tidak beda jauh dengan roman picisan ala ala romeo and julietlah. Yang ternyata mencintai orang tajir tidak mudah dan bikin rempong. Meski Rachel adalah seorang profesor di New York dan mengajar di kampus ternama. Itu belum cukup untuk diterima dengan baik oleh kekuarga Nick terutama oleh ibunya.

Mana lagi komentar netijen dengan segala kemaha benarannya. Di dunia dengan tingkat penyebaran info dengan sangat cepat, maka berakhirlah Rachel dengan banyak cap negatif. Bahkan dibully ketika menghadiri party lanjang teman Nick yang mau merid itu. Ah, ribet ey.

Ada satu kisah yang menarik dari film ini. Menurut saya. Aduh saya lupa namanya, kakaknya Nick yang cewek. Ah, dia memiliki suami, anak-anak yang lucu dan kekayaan yang melimpah, tentunya. Tapi ternyata itu belum bisa membuatnya bahagia dan ujung-ujungnya dia mengetahui kalau suaminya selingkuh. Demi apa? Suaminya merasa tidak dihargai, secara dia dari golongan biasa-biasa saja. Dan dia mengetahui bahwa istrinya kalau belanja yang mahal-mahal pasti diumpetin di mana-mana. Di lemari lemari kecil di dapur, di laci-laci yang gak bakalan ditemukan suaminya.

Ini yang membuat suaminya tersinggung. Eh, gimana yah jelasinnya. Pokoknya harga dirinya merasa gimana gituh, kenapa istrinya harus sembunyi-sembunyi segala macam kalau shopping sesuatu yang mewah-mewah.

Dan ternyata, niat istrinya baik loh. Buat menjaga harga diri si suami. Tapi yah, sudah dicurigai duluan jadinya mereka broke. Uh sakit. Tapi si cewek akhirnya bisa jadi dirinya sendiri. Akhirnya bisa make perhiasan senilai milyaran milyaran itu tanpa takut harga diri suaminya terlukai. Yah, terlukailah, itu uang istrinya dipake beli. Bukan uang dari dia. Gengsilah yau. Kira-kira begitu. Hah.

Gak ada yang salah dengan menjadi kaya, tapi yang salah kalau sudah menjadi gila karena kaya. Dan orang di sekitarnya menjadi gila karena kegilaan kekayaannya. Lama-lama orang gila ini jadi oranf kaya. Ngelanturrrrr, maap.

Hiii, ngeri review saya sampai sepanjang ini. Yang baca pasti orang kuat. Dan maaf kalau ada yang gak sesuai. Nonton film yang sama dengan penilaian yang beda, hal yang lumrah kan?

Kalau masih mau lanjut baca silahkan, gag mau juga gak apa-apa. Poin penting buat diri saya sih sehabis ini.

Jadi semalam itu kembali saya meet bareng mbak mbak solihah 3M. Kenapa 3M? Sederhana sih. Nama mereka dimulai huruf M dan masih single single, cantik lagi, awalnya saya merasa heran napa mereka masih betah menjomblo yah? Dan setelah lama suka nongkrong bareng mereka dan mengetahui seluk beluk kehidupan mereka. Jadinya saya faham alasannya. Ini kayaknya nanti mau saya tulis deh dengan judul "Alasan cewek-cewek belum merid". Maafkan mbak mbakku 😉😝

Setiap ketemu mereka pasti ada saja oleh-oleh cerita, motivasi, inspirasi, macam-macamlah. Dan semalam sepertinya pembahasannya tidak jauh dari crazy rich dan crazy poor seperti review di atas.

Dan kubah mesjid sepertinya selalu menjadi saksi ngalor ngidul kami. Karena kita kalau habis sholat di masjid bawaannya mau cerita apa aja sampai malam.

Ada kisah seorang 'pemulunglah' mungkin istilahnya. Mbak M1 (sebut saja begitu dulu yah) baru beberapa hari yang lalu dari samarinda menghadiri wisuda adik perempuannya. Mbak M1 ini orangnya lembut, suaranya halus betul, kentara banget melankolis.

Jadi, kalau dia keluar buang sampah sama adiknya, dia melihat bapak bapak pemulung yang ngorek-ngorek sampah. Mbak M1 ini sama adiknya tidak tahan sampai mewek-mewekan melihatnya sampai dibilangi ibu kos "Loh, pergi buang sampah aja pulang-pulang nangis?"

Karena hari itu Mbak M1 dan adiknya beberes kamar kos karena sudah mau pulkam sekalian, jadi setiap buang sampahnya di depan, bapak-bapaknya pada sumringah kalau dapat barang bekas yang masih layak pakai. Ada sendal sebelah putus, si bapaknya bilang "masih bisa dijahit" dapat yang lain lagi "masih bisa dibawa pulang"

Dan akhirnya mbak M1 ini mengumpulkan semua boneka bonekanya dari jaman kuliah kuliahnya dulu untuk dikasih bapak bapaknya. Dan amat sangat bersyukur bahagia bapak-bapaknya terima. Soalnya ada anak perempuannya di rumah. YaaAllah. Kalau kita mah pasti mikirnya itu barang lama, barang bekas juga. Tapi bagi si bapak, hal luar biasa yang bisa dia bawa pulang untuk putri tercintanya. Cerita mbak M1 lebih sendu sih sebenarnya. Dia cerita sampai berderai-derai dan bikin ikutan mau mewek, tapi ditahan-tahan. 😭😭😭 Masalahnya hari itu bapaknya masih menunggui mbak M1 beberes sampai jam 1 malam dan berharap masih ada yang bisa dia bawa pulang. Akhirnya mbak M1 ini terpaksa bilang sama bapaknya "Pak, ini barang terakhir yang kami punya. Gag apa-apa kalau bapaknya mau pulang." YaaAllah, gag kebayang kalau ada di posisi itu.

Terus ada kisah seorang wanita, pekerjaan keren, gaji 30 jeti sebulan, golongan 4, pertamina gays. Belum honor kalau dinas, dapat belasan sampai puluhan jeti. MaasyaaAllah gaji sebulan kayak gaji guru honorer ditabung bisa sampai 2-3 tahun. Dia temannya mbak M2 (sebut saja sebgitu). Mereka pernah serumah berdua jadi tahu banyaklah. Data akurat nih.

Apa gaji segede itu sudah bikin dia puas? Jawabannya NEHI. Selain itu, dia punya lahan sawit, lahan nanas, usaha ini itu. Sampai masih berharap mau punya ini lagi, ini lagi, ini lagi.

Dan keinginannya yang bikin kita  melongo adalah dia pengen punya suami, gaji di atas gajinya yang 30 jeti itu. Demi apa? Dia berharap suaminya kelak bisa kuliahin adiknya.

"Mbak M2, emang 30 juta itu gag cukup biayain kuliah adiknya?" kalau menurut pikiran sederhana kita nih yah, pasti yah bisa, lebih malah. But why? Entahlah, cuma dia yang tahu dan kita wajib berprasangka baik. Dan akhirnya suatu hari mbak M2 bertanya karena penasaran.

"Emang adiknya mau kuliah dimana mbak?"
"Aku mau adikku kuliah di luar negeri ambil jurusan musik."

Sumvah, sudah yah, otak sederhana kita gag bakalan sampai. Yah sih, dia hidup di keluarga yang berpenghasilan fantastis, elastis, atlantis. Bapaknya kerja di cevron, gajinya lebih gila dari temannya mbak M2 ini. Punya usaha golf segala. Kalau mau haji kapan aja bisa. Haji plus malah yah.

Gays... Kepuasan hidup ternyata terletak pada rasa "cukup". Qona'ah yah. Kalau kita bandingkan sama bapak-bapak pemulung. Timbang bener kan hidup mereka. Tapi tingkat kepuasan hidup, tingkat kecukupan, si bapak pemulung masih juarak.

Saya pernah membaca "Jika qona'ah sudah dicabut dari hati, maka hidup tidak akan kita nikmati"

Qona'ah itu berbanding lurus sama syukur. Makin banyak syukur kita, makin qona'ah kita. Makin gag bersyukur, hidup kita tidak akan kita rasa ada cukup cukupnya walau saldo di rekening bengkak sebengkak bengkaknya.

Seberapapun yang kamu dapat. Sekecil apapun menurut penilaian manusia, tapi jika itu kau syukuri dan kau merasa sangat cukup dengan itu. Hidupmu, yakin deh, HAPPY. Bismillah, semua akan terasa indah saja.

Jangan sampai kita kufur nikmat yah. NGERI. HOROR pokonya mah.

Ada seorang penulis ternama suatu hari menjadi pemateri di sebuah seminar, dia berkata "Bahkan satu nafas kita, sehirup  saja, sudah cukup membuat kita memuji kebesaran Tuhan"

r.i.a

Jumat, 30 November 2018

Perpisahan

Di sebuah padang rumput. Dandelion tumbuh indah memenuhi rerumputan. Ada air mata yang menetes. Lalu angin bertiup. Seketika menerbangkan serbuk putih dandelion beserta titik-titik air mata. Mereka menyatu, berkilauan di antara cahaya matahari. Menari diiringi lagu kesedihan. Sebanyak dandelion yang beterbangan, air mata tak berhenti berderai. Padang rumput yang luas itu diguyur kesedihan dan kehilangan.
.
.
Sungguh, perpisahan terjadi untuk menemukan pertemuan yang baru.
.
.
Kereta datang, dia menoleh ke belakang untuk terakhir kali. Melihat sisa air mata yang telah mengkristal. Air mata perpisahan. Sekali lagi, dia memeluk sesak, mengendapkan kenangan di bagian terdalamnya hati.
.
.
Sungguh, perpisahan akan menuntun dirinya menemukan sebuah pertemuan yang baru.
.
.
Kereta menjauh, mendekati takdir baru. Mungkin akan ada tawa bahagia. Tapi semesta tidak selalu berpihak padanya. Pada akhirnya, perpisahan kembali terjadi. Dandelion akan bertemu dengan bulir air matanya. Sekali lagi. Lalu, berkali-kali.
.
.
Sungguh, perpisahan membawanya pada pertemuan demi pertemuan yang baru.
.
.
Juga, sakit yang baru.
.
.
r.i.a

Rabu, 28 November 2018

Berat Badan

Kadang kita punya kabar bahagia tapi bagi sebagian orang adalah kabar buruk bagi mereka. Pun sebaliknya, kabar bahagia bagi orang lain, ternyata ketika ada di pihak kita menjadi kabar yang tidak bahagia lagi.

Kemarin saya sedikit berbahagia. Maunya tidak berlebihan jadi pake kata "sedikit" yang padahal kabar itu membuat saya ketawa ketiwi sendiri kayak orang gila plus senyum-senyum sampai hidung kayaknya ikut mekar. Mhehehehehe

Jadi ceritanya kemarin ketika mengantar ponakan ke sebuah puskesmas ketika kami sudah berada di UGD. Dan saya lagi dalam keadaan kuker pake banget. Iseng-iseng saya naik ke sebuah timbangan berat badan. Dan seperti mendapat kejutan luar biasa, sambil menutup mulut yang bibir sudah membulat lirih mengucap "Oh", saya seketika berasa berbunga-bunga. Berat badan saya naik 6 kilo. Enam kilo gais. YaaAllah.

Padahal ketika baru datang ke sini, di puskesmas yang sama saya menimbang berat badan yang buat ekspresi saya masih seperti dulu-dulu. Ekspresi "Kapan naik nih berat badan?" Nah, belum juga 2 bulan saya di sini, bisa naik sedrastis itu. Fantastis, elastis, atlantis woy. 😆😆

Jadi, di puskesmas itu sembari menunggu si fifo fifo ditangani para suster yang memasang infus yang bikin fifo nangis sedih banget, mana tidak sedih, sakit ey disuntik di dua punggung tangan dan tidak berhasil juga si susternya (eh, suster jugakah kalau perawatnya cowok?). Yah, pokoknya setelah 3 kali disuntik, akhirnya selang infus afifa berhasil setelah ditusukkan di kaki dekat mata kaki.

Jadi, saya sedihnya pas di situ aja. Abis afifa sudah ditangani, dan mengingat timbangan saya yang naik, saya kembali senyam senyum dan berkata lirih "Timbanganku naik-timbanganku naik-timbanganku naik". Kakak, si bunda fifa langsung bilang "Kayak gimana aja?" Menurutnya ini hal biasa aja. Saya langsung kepikiran. Baru dua bulan kok bisa naik. Saya jadi bertanya-tanya apa jangan-jangan timbangannya salah atau saya salah lihat. Tidak menunggu waktu lama, mumpung masih di ruang yang sama, sekali lagi saya naik ke timbangan pelan-pelan sambil memperbaiki posisi kaki benar-benar. Waktu itu pagi, saya belum sarapan sama sekali, sudah B*B juga, jadi badan dalam kondisi stabil. Dan hasilnya sama. Saya turun dan senyum sekali lagi sama kakakku dan dia meyakinkan kalau timbangannya tidak rusak, lah itu tadi yang dipakai afifa dan beberapa pasien kok.

Saya kemudian mengelus-elus perut, biasanya lemak akan bertumpuk di sana dan membuat berat badan naik. Tapi perut saya masih sama, kayak papan seluncuran. Rata. Saya lalu duduk dan memegang perut. Gag ada lipatan yang berarti. Jadi, di mana letak penambahan berat badan saya? Ah, serahlah yang penting beratnya naik. Titik.

Ngh, padahal malam sebelumnya saya yang diajak makan sama geng 3M, yang akhirnya berganti jadi geng MR karena ada nama saya jadi tambahan hihi. Berusaha untuk tidak lagi sesemangat dulu berharap BB naik. Waktu pesanan kami sudah datang, salah satu teman ternyata tidak pesan makanan. Dan dia mengaku sudah 3 hari gag makan nasi. Saya langsung syok.

"Diet?" Tanya saya sungguh-sungguh. Melihat teman saya badannya bagus, tinggi, berisi dan jauhhhhhhh dari kata "gemuk", "Buat apa diet segala?" tanya dalam hati doang.
"Udah bagus loh badannya"
"Iyyah mbak, tapi BB sudah bla bla bla"

Saya jadi merenung, ada yang susah-susah loh turunin berat badan, ngapa saya harus frustasi setiap dibilangi "Kurus, ringkih, rata" dsb. Dan mengingat pertanyaan mama ke kakak kalau nelpon "Bagaimana ria, masih kurus?" dan tahulah habis itu mereka membahas soal pola makan saya yang kadang cuma sekali, kadang malam doang, yang bagus kalau saya milih puasa saja. Hehe.

Ngh, yah gitu yah. Hidup cuma gitu gitu aja. Kalau gag bisa bersyukur dengan keadaan diri, maka kita akan berharap berada di posisi orang lain. Yang ternyata orang itu menginginkan berada di posisi kita.

Ada seorang ibu yang mengeluh setiap hari stres menghadapi anak-anaknya dengan segudang pekerjaan rumah. Lalu di sudut rumah yang lain, ada seorang wanita yang mendamba segera diberi amanah juga berupa anak.

Ada seorang anak yang ngedumel setiap hari dapat omelan dari orang tuanya. Lalu, di sudut rumah yang lain, ada seorang anak yang menginginkan ada yang mengajarinya banyak hal meski diomeli karena dia sebatang kara.

Ada seorang istri yang mengeluh suaminya bla bla bla. Lalu, di sudut rumah yang lain ada seorang gadis yang merintih kepada Tuhan segera dikirimkan jodohnya.

Ada seorang lelaki yang mengeluh soal pekerjaannya yang segunung. Lalu, di sudut rumah yang lain, ada seorang laki-laki yang menatap sendu berkas lamaran pekerjaannya yang tidak juga memberi kabar baik.

Kalau kita mau saja, menerima keadaan kita apa adanya. Merasa bahagia dengan yang kita punya dan tidak berandai-andai dengan hidup orang lain. Maka, kita akan menikmati hidup dengan lebih bermakna.

Yah, seenggaknya kalau kita kemudian naik level seperti misalnya naik berat badan. Kita akan menemukan sebuah level kebahagiaan baru. Yang kadang menurut orang lain sepele. Tapi bagi kita sangat cukup untuk menambah rasa syukur kita kepada Sang Pemberi Hidup.

r.i.a

Mimpi

Seperti menonton sebuah layar. Ada aku yang menatapmu dengan linangan air mata. Setelah sekian lama. Waktu yang terus masih saja tak bersahabat. Di mimpiku semalam, kita dipertemukan. Tidak dengan keadaan baik-baik saja. Semua penuh drama. Jarak kita begitu dekat. Tapi aku masih sama seperti di mimpi-mimpi sebelum ini, tak bisa menggapaimu.

Bahkan untuk sebuah kata "Hay". Tidak. Kau tidak mengatakan apa-apa. Kau seolah sengaja menjauh. Lalu aku mengejarmu. Langkah yang tak pernah berhenti. Semakin kukejar semakin melesat kau dariku. Menciptakan jarak yang semakin lebar. Kupaksa kaki-kakiku melaju. Kau akhirnya berhenti. Membalikkan wajah dengan gurat yang tidak bisa kueja.

Kusebut namamu, bibirmu berkedut seolah ingin membalas menyebut namaku. Tapi kau menahannya, dengan sekuat tenaga yang kau punya. Aku terisak, kau hanya memandangku (tanpa iba). Aku terduduk, isakanku semakin dalam. Kututupi wajahku yang sudah memerah, sedih, berderai air mata. Kau akhirnya ikut berjongkok. Tapi tak sedikitpun usahamu membuatku merasa lebih baik.

Aku terbangun, untuk kesekian kali. Mengutuk malam yang menghadiahiku mimpi buruk. Sama persis dengan mimpi-mimpi yang hadir sehabis kau mengabaikanku. Mengabaikan perasaanku. Aku paling benci berada di posisi ini. Kau tahu. Ketika aku sudah yakin tidak akan merana ketika mengingatmu lagi. Tapi di sisi lain di hatiku, aku sakit, hanya karena sekali lagi mengingatmu. Mengingat bagaimana tak acuhnya kau padaku. Lebih acuh dibanding dirimu yang ada di mimpiku.

Lalu aku bertanya-tanya pada gelap sisa semalam. Apakah ada sedikit saja waktu, seperti sisa malammu, kau ingat padaku. Sekali saja. Dan kau merasakan hal yang sama. Merasakan ngilu di dada. Perih sampai ke tulang-tulang. Kemudian bibirmu kelu, lirih mengucapkan namaku. Nama yang tak pernah sekali saja kudengar kau menyebutnya. Bahkan dalam sebuah mimpi.

Rabu, 21 November 2018

Papa (2)

Ini sudah tidak bisa terkata. Sungguh, rintik itu begitu memilukan. Menetes di sela tawa, di sela senyum getir. Tanpamu memang aku begitu rapuh. Papa.

Papa

Papa. Selalu ada bagian yang sakit ketika mengingatmu.
Selalu ada titik yang mengalir setiap memandang fotomu.

Papa. 3 tahun ini, adalah tiga tahun terberat dalam hidupku.
Dan aku masih bertanya-tanya "Mengapa engkau pergi secepat itu?"
Aku tidak tahu papa. Tapi aku sangat rindu. Sangat rindu.

Sabtu, 17 November 2018

Hapus Kenang

Kadang. Kita memang harus menyesalkan sebuah pertemuan. Kenapa? Karena terlalu banyak meninggalkan kenangan. Kenangan yang sulit sekali dihapus padahal setiap hari hobbynya menyakiti. Lalu, kita membiarkan saja sakit-sakit itu karena kita tidak tahu cara mengobatinya. Kita tidak tahu cara melupakannya. Kita hanya membiarkannya. Lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai suatu hari, akan datang sebuah kenangan baru yang tugasnya mereset sakit-sakit itu. Mengajarkan cara menerima dan memaafkan keadaan. Bisa jadi menggantinya dengan cerita yang lebih baik. Namun, kita juga harus waspada. Bisa jadi, yang datang adalah kenangan yang lebih buruk dari kemarin.

Betah?

Udah betah?

Belum

Kenapa?

Belum ketemu alasan kenapa Tuhan kirim aku ke sini.

Rabu, 07 November 2018

Mencari(mu)

Aku pernah menemukanmu tapi sebentar saja lalu kamu menghilang. Lagi. Kususuri kota, kubentangkan peta. Nihil. Bukan. Bukan karena ingin mengajakmu kembali. Aku hanya butuh sosok. Kamu. Denganmu, rangkaian kata selalu mudah tercipta. Juga kisah-kisah yang kau ceritakan adalah susunan tangga yang membuatku semakin tinggi. Aku sekali lagi mencarimu. Di antara serak-serak buku kenangan. Di jelajah-jelajah situs pencarian. Sampai pada sebuah bukit tandus juga gersang. Dan kamu? Kamu tidak ada di sana. Tuhan sedang mengujiku barangkali. Atau sedang menasihatiku banyak-banyak. Tentang, betapa kamu sebenarnya tidak perlu kucari sedemikian rupa. Kamu ada bersama jejak-jejak sneakerku. Berebut jalan. Perihal siapa yang paling jauh langkahnya. Siapa yang paling kuat bertahan. Siapa yang paling jago melewati bukit dan lembah. Akhirnya, kita tidak pernah bertemu. Lagi. Sebab jalan yang kita pilih ternyata jauh berbeda. Jauh berbeda. Kawan, di ujung jalan kita masing-masing, ayo saling menyebut nama. Dengan keras. Dengan lantang. Dan katakan bahwa "Tidak ada yang perlu disesalkan. Kau telah memiliki segala yang kau inginkan". Begitu saja. Yah, begitu saja.

r.i.a

Surga Firdaus

Kita hanya makhluk kecil yang singgah sementara di antara luasnya langit dan bumi.

Dan surga, adalah tempat yang melebihi luasnya langit dan bumi. Betapa tidak berartinya hidup kita ketika di akhirat kelak tak secuilpun tempat kita di sana.

اَللَّهُمَّ إنّيْ أَسْأَلُكَ الفِرْدَوْسَ أَعْلَى الجَنَّة
Allahumma innii asaluka al firdausa a’la al jannah

“Ya Allah hamba meminta dan memohon kepadaMu al firdaus, surga yang paling tinggi.”

Jumat yang Milik Kita

Hari ini hari jumat dan aku merindukanmu dek. Kita akan bahagia bersenandung lagu gubahan kita sendiri.
"Hari jumat, hari jumat, hari jumat sekarang..
Sekarang hari jumat, hari jumat sekarang.."

Dan malamnya kita akan berlomba membaca al-kahfi sampai selesai. Siapa yang duluan, akan mentraktir besoknya. Lalu, saling membangunkan di 1/3 malam. Ini adalah malam yang paling kita paksakan lagi, setelah 6 hari kita tidak bangun-bangun tahajjudan, paling tidak jumat adalah hari di mana kita tercatat sebagai makhluk yang bersujud di malamnya.

Duha pun datang. Apa yang sering kamu bilang? Kak riaaa, nambah 2 rakaat aja lagi yah, biar genap 6. Biar beda sama hari-hari yang lain. Kamu memang teman surgaku dek.

"Kak ria, kak ria ada cogan lewat" serumu di pinggir beranda.
"Ih, godhul bashor dong." kamu lalu tertawa
"Yang mana emangnya? Haha" lalu kamu semakin keras tawanya sambil menunjuk seseorang yang berjalan memunggungi. Kita tidak tahu dia siapa yang jelasnya kita sepakat bahwa laki-laki akan meningkat kadar kegantengannya ketika berpeci, berbaju koko, dan sarungan. Tertunduk melangkah cepat-cepat ke mesjid. Sholat jumat.

"Minta apa kamu dek jumat ini?"
"Jodoh" katamu sambil nyengir
"Ih, jodoh lagi jodoh lagi" sahutku ambil geleng-geleng kepala.
Tapi setelah itu kita heboh soal calon imam rumah tangga.
"Kak, aku mau yang khotbah jumat"
"Kalau yang khotbah kakek-kakek?"
"Mm, yang imamnya aja deh"
"Kalau dia bapak-bapak sepuluh anak gimana?" tanyaku lagi sambil menahan tawa
"Yang datang cepat dan duduk di shaff pertama"
"Kalau semua yang di shaff pertama gabungan kakek-kakek dan bapak-bapak beranak banyak gimana?"
"Ahahaha, pokoknya yang hadir jumatanlah kak."
Lalu kita sepakat lagi bahwa jumat hari terijabah do'a dan kita meminta kebaikan dunia akhirat dengan khusyuk.

Dan jumat memang adalah hari kita yah dek. Hari kamu. Hari kamu dilahirkan di dunia ini. Dan kamu berseru.
"Ulang tahun aku yah kak, sama dengan ulang tahunnya alam semesta. Kan sama-sama dilahirkan di hari jumat. Surga juga dibuat di hari jumat kan. Nabi Adam diciptakan di hari jumat. Dikirim ke bumi juga hari jumat."
"Kiamat juga nanti hari jumat dek."
"Iyyah kak, aku mau mati di hari jumat juga kak. Doakan yah." kamu memang adek sholpicanku.

Sepanjang hari bahkan kamu suka komat kamit sendiri. Lagi bersih-bersih, lagi masak, lagi jemuran, lagi apa ajah.
"Sholawatan kak, sholawatan."
Katamu tegas saat aku memandangimu penuh tanda tanya.
"Oh, kirain doa minta jodohhhh sepanjang hari."
"Ihhh, kak ria toh. Haha. Sholawatan sana."
"Haha"

Begitulah jumat kita, hebohhh sekali dulu yah. Sampai rebutan gunting kuku segala. Secara kan meni pedi cure kita itu hari jumat. Bahkan sudah dilist segala, acara sisiran juga di hari jumat. Dan kita bahagia sekali kalau bisa one juz di hari jumat.

Sehat selalu kamu di sana dek. Kita memang sebentar sekali ketemunya. Tapi rasanya surga begitu dekat ketika kita bersama.

Hari ini hari jumat, dan kita akan tetap mencintainya seperti kita mencintai surga.

r.i.a

Pilihan

Seperti senja yang datang di ujung petang lalu serta merta membawa sinar kehidupan
Meninggalkan hitam pekatnya malam dan tak sekalipun melihat ke belakang

Hanya Tuhan yang tahu kapan kita harus pergi
Perihal kembali, itu hanya pilihan ketika semua sakit telah sembuh

Lalu pilihan lain yang lebih masuk akal adalah melanjutkan langkah
Sebab, di ujung jalan kadang banyak pekerjaan soal membuka rahasia dari tujuan kita dilahirkan di dunia

r.i.a

*Sayonara

Seperti apa warna hidupmu?
Genre apa yang sedang kau mainkan?
Musik apa yang sedang kau dengarkan?
Buku apa yang sedang kau baca?

Yang mana kau suka, gunung atau laut?
Apa mimpi-mimpimu?
Semanis bagaimana wajahmu ketika kau tersenyum?
Apa yang membuatmu bahagia?

Doa apa yang kau panjatkan?
Seyakin mana kau bahwa doa itu telah sampai di langit?
Bagaimana rupamu ketika kau sedang sakit?
Kau lebih suka pagi atau sore?

Apa aku terlalu ingin banyak tahu?
Maafkan aku
Bahkan untuk menanyakan semua itu, aku tak bisa

Kau tahu, aku takut Tuhan marah
Lalu melenyapkan senyummu
Juga bahagiamu

Dan biarkan saja begitu
Sampai aku pergi
Jauh dan tak kembali

Sayonara
Sayonara kehidupanku yang lama
Aku sungguh sangat menyukai semuanya
Sangat menyukainya
.
.
.
*Sayonara adalah ungkapan perpisahan dalam bahasa Jepang yang mengisyaratkan akan pergi ke tempat jauh dan butuh waktu yang lama untuk kembali. Yah, kira-kira begitulah.😁😁😁
.
.
r.i.a

Perihal Kemarin

Kemarin aku melihatmu
Berdiri gagah di sebuah jalan
Setelah sekian lama, hatiku berdegup bahagia sekali lagi
Seperti seorang gadis kecil yang diberi permen raksasa oleh ayahnya

Di perjalanan pulang aku menerka-nerka
Soal takdir apa yang sedang membuntutiku
Pertanyaan seputar mengapa banyak yang pergi darimu
Sedang aku masih saja berusaha mencarimu dan mengenalmu, sekali lagi

Kemarin, saat aku melihatmu
Aku pulang dengan senyum lebar di bibirku
Sudut-sudutnya tidak berhenti terangkat
Lalu, aku bahagia menceritakan bahwa aku melihatmu kemarin

Malam harinya, aku berusaha menghubungimu
Bahwa kini, aku juga ada di sini
Berharap kita punya janji, lalu bertemu dan kembali meramu mimpi
Tapi aku tidak melakukannya
Kepalaku penuh pertanyaan, apa yang akan aku katakan padamu

Namun hari ini, aku sudah berjanji
Bahwa sebelum matahari terbenam di barat
Aku akan mengabarimu
Dan besok mungkin kita bisa bertemu

Sungguh, kejutan tak pernah berhenti
Ketika yang aku khawatirkan
Berbulan-bulan lamanya bahwa aku tidak akan bertemu denganmu di sini
Kemarin, semua cemas itu sirna
Pergi bersama datangnya bayangmu

Kini, di sepotong sore ini
Aku tak berhenti mendoa
Akan esok yang baik-baik saja
Bahwa kita akan berjumpa sambil saling membawakan bunga mawar merah

Seorang sahabat yang berharap menjadi candu akhiratmu selamanya

r.i.a

Berserah

Mencintai takdir adalah cara mencintai Tuhan
Menikmati hidup adalah cara mensyukuri hidup

Hidup itu sederhana
Paralel kuat dengan bahagia
Yang juga amat sederhana

Hey aku, terimakasih telah sudah kuat selama ini
Terimakasih sudah mudah sekali bahagia selama ini
Juga mudah sekali berserah diri

Kita harus lebih dan lebih banyak bersyukur yah
Kita kan tidak tahu, kejutan apa lagi yang akan Allah kasih

r.i.a

Jalan Lurus

Akan ke mana kita?
Ke jalan yang penuh cinta, juang juga kesetiaan

Jalan yang seperti apa itu?
Nak, suatu hari ketika engkau berjalan di atasnya
Keringatmu bercucuran, nafasmu kadang tersengal bahkan engkau akan berdarah-darah

Apa tidak ada kebahagiaan di sana?
Berlelah-lelahlah karena tempat istirahat terbaik adalah surga

Lalu, bagaimana kami melewatinya?
Mintalah petunjuk:
"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat"

r.i.a

Senja

Senja dengan getar takbir berwarna derai air mata.
Luruh bersama bening air surgawi.
Do'a ada pada tempat yang tidak pernah berubah.
Dekat erat dalam dekapan Illahi.

Jarak dan waktu memang kadang tidak pernah berlaku baik.
Tapi Allah Maha Tahu lagi Maha Baik.
Di antara jarak dan waktu Ia selipkan jutaan kisah yang baik.
Seperti rindu yang berjanji akan bertemu di waktu yang baik.

r.i.a

Kita

Matahari berkilau indah di balik awan
Percakapan manis seorang ayah kepada putri kecilnya

Suasana hening di sebuah beranda
Ada air mata yang menetes di dagu

Hidup terus bergulir
Suka, duka
Tawa lalu tangis
Dan dunia harus tumbuh dengan gembira

Kata seorang alim
Allah tersenyum ketika ada seorang hamba yang meminta ampunan
Yang larut dalam istighfar
Berucap, berulang-ulang sambil mengingat dosa yang malu dihadapkan pada Tuhannya
Lalu kita akan mencintai surga, sangat mencintainya

r.i.a

Kembalilah

Inilah air mata yang mengaku paling rindu itu
Tapi ialah yang paling banyak berkhianat
Seolah sedang bertobat tapi sedang menambah puing-puing maksiat
Sangat enggan beristighfar padahal dosa sedang ditabungnya

Di mana sajadah suci tempatmu bersujud itu pergi?
Di mana letak iman yang kau bangga-banggakan selama ini?
Di mana ilmu yang sering kau pamerkan itu?
Di mana wajahmu yang basah oleh wudhu di sepertiga malam?

Ke mana hilangnya mereka semua?
Apakah diganti oleh pekerjaan yang semakin menumpuk?
Diganti smartphone di genggaman yang tak mau lepas?
Diganti oleh tawa anak kecilmu yang sangat menggemaskan?
Diganti istrimu yang sangat elok rupanya?
Diganti suamimu yang penuh wibawa?

Kembalilah wahai jiwa yang merindukan ketenangan
Kembalilah pada Tuhanmu yang Maha Pengampun
Dan dengarlah betapa indah lantunan ayat suci yang dibaca dengan serak tangis rindumu

r.i.a

Pengampunan

Surat itu masih tergeletak di atas meja
Sudah lama bahkan telah berdebu ia
Kesepian dan hampir saja menangisi dirinya yang seolah terbuang
Siapa yang tega membiarkannya seperti itu?

Isinya memang banyak yang tidak begitu memahaminya
Bahkan kesulitan membacanya
Penuh teka teki di setiap kata perkatanya
Apa itu alasan yang tepat untuk mengabaikannya?

Bukan, bukan itu
Bukankah sudah banyak yang mengingatkan untuk senantiasa membacanya?
Bahkan setiap detik seharusnya surat cinta yang penuh romansa itu menjadi oksigen di tiap hirup nafas kita

Lalu, imanlah yang semakin tergerus
Sujud-sujud yang sudah tidak lagi panjang
Do'a-do'a yang sekenanya saja terucap
Malah banyak yang tidak lagi melafalkan baris-baris pinta

Sang Penulis Kehidupan, yang merindu
Yang tetap menunggu
Yang tidak berhenti kasih sayangNya
Yang telah dulu memgampuni sebelum istighfar terucap

Yang setiap nafas hidup kita Dia belai dengan sangat lembut
Menuliskan surat cinta itu untuk menghibur hati yang sedang bersedih
Yang memberi petunjuk bagi yang sesat
Yang mengobati si sakit
Merahmati siapapun yang membacanya

Ampuni lalai yang sangat tega ini
Ampuni cinta yang hanya mengaku saja
Ampuni rindu yang tiada lagi tersedu
Ampuni lisan yang tiada lagi basah oleh dzikir
Ampuni mata yang tiada lagi menangisi dosa
Ampuni tangan yang tiada mendekap surat cintaMu
Ampunilah dosa-dosa yang memenuhi hati
Sungguh, hanya Engkau Yang Maha Hebat mengampuni lalai dan segala dosa-dosa.

Lalu jadikanlah kami hambaMu yang paling mencintaiMu
Allahu Robb semesta alam.

r.i.a

Duka itu seperti apa?

Seperti meramu sesuatu pada sebuah wadah ada kadarnya masing-masing, tidak bisa kurang karena tidak pas, tidak bisa berlebih karena akan tumpah. Mungkin seperti itu sebuah duka. Diberi kepada sesiapa sesuai kadar kesanggupan menghadapinya.

Tadi pagi sehabis membaca postingan beberapa teman di fb saya langsung ngomong sama kakak "Masih ingat teman saya yang ngajak ke Toraja dulu? Yang singgah di rumah.  Yang satu-satunya perempuan." Kakak masih ingat. "Hari ini dia menikah, tapi sedihnya pagi ini juga mamanya dipanggil Allah" Saya tidak kuat melanjutkan dan hanya berkaca-kaca. "Wiii, kodong." Lalu kami berdua hanya bisa saling memandang, kakak saya ikutan berkaca-kaca tapi saya sudah tidak kuat, air mata luruh seketika. Beberapa waktu kemudian, ada yang memposting foto di bawah. Saya kembali ke kamar, kembali berderai, dada sesak, membayangkan bagaimana perasaan kakak yang memiliki senyum paling cemerlang ini, punya tawa yang merdu, binar mata yang selalu tersenyum tapi tidak kali ini. Saya sebenarnya sudah siap bilang "Ciye, akhirnya jadi istri" dengan emot mengejek hari ini. Seharusnya di grup "Enrekang Troop" Penuh bullyan ciye ciye tapi kami tahu ini tidak tepat. Kami lalu bingung harus mengatakan apa.

Dia adalah kakak perempuan semesta. Kak Atun. Kami mengenalnya sosok yang kuat. Saya sebenarnya satu almamater dengannya tapi ajaibnya kami baru akrab selepas jadi alumni. Semenjak kuliah saya sudah mengidolakannya sebenarnya. Dari jauh. Dia memiliki tulisan-tulisan yang keceh badai. Pertama kali bertemu ketika ada agenda pengolahan data di dpd, saya malah surprise. Kirain kak Atun orang yang kaku dan semacamnya. Tapi jauh bedaaaa, orangnya humble, rame dan asik. Siapapun yang dekat dengannya akan merasa sangat disayang olehnya.

Sekitar 2 tahun lalu kembali kami dipertemukan dalam sebuah proyek. Sekantor dengan orang-orang hebat lainnya. Beberapa saat kemudian kami yang cuma bertiga perempuan di proyek tersebut memutuskan untuk tinggal bersama. Ah, narasinya tidak begitu. Saya bersama seorang adik partner si Muz yang nebeng di kosan kak Atun dan seorang teman kosnya. Kos pelangi, di tamalanrea. Kami lalu lebih mengenal satu sama lain. Lebih memahami satu sama lain. Sayalah yang paling banyak menyusahkan sebenarnya, paling malas dan paling suka-sukanya. Meski begitu, mereka masih saja sayang. Ada kak Mitha di sebelah. Mereka berdua semacam kakak juga mama. Suka menyuruh-nyuruh sesuatu yang untuk kebaikan saya. Nyuruh mandi, nyuruh sikat gigi sebelum tidur dengan tertib. Kak Atun selalu bilang "Kalau malas dari sekarang sikat gigi, nanti kalau tua baru tau rasa". Nyuruh minum air putih yang banyak. Nyuruh makan, walau saya suka lebih memilih tidur ketika dihadapkan pada dua keadaan, lapar dan ngantuk. Mereka tidak mengizinkan saya tidur kalau belum makan. Bahkan mereka siapkan segala. Hidup hampir 3 bulan bersama lalu mengerjakan hal yang sama dan kemana-mana bersama rasanya kita lebih dari seorang adik kakak saja. Di sebuah kamar di kos pelangi itu setiap hari tawa kami meledak. Saya tidak pernah membayangkan akan hidup dengan seseorang yang dulu adalah idola saya.

Beberapa waktu yang lalu kakak keceh ini menyebarkan undangan pernikahannya. Alhamdulillah. Tidak lupa undangan spesial untuk "Enrekang Troops" itu untuk member yang jalan-jalan ke enrekang dan toraja sekitar 3 bulan lalu. Kami lalu mencie ciekan. Secara, grup itu kakak ini yang paling ditunggu undangannya. Tepat hari ini akadnya.

Tapi apa yang membuat cie cie itu tidak lagi menerbitkan tawa dan serasa hambar bahkan getir? Duka itu. Duka itu datang tepat beberapa jam saja sebelum akad. Pukul 06.30 mama kak Atun, orang yang disayanginya dipanggil oleh Allah selama-lamanya. Membuat ijab kabul itu terasa getir. Bergema di antara isak tangis, di depan jenazah sang mama. 😭😭😭

Kak Atun, perempuan semesta yang kami kenal adalah perempuan yang kuat. Sangat kuat. Yang punya senyum paling cemerlang, tawa yang merdu, binar mata yang selalu tersenyum. Saya pernah mendengar, cobaan besar diberikan kepada orang yang besar, cobaan hebat diberikan kepada orang hebat. Sesuai wadahnya. Kami menyayangimu, tapi Allah Yang Maha Pengasih lebih menyayangimu dengan ujian ini.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wafuanha untuk mamata.

Kakak Atun, selamat sudah jadi istri. Barokah kehidupan baruta. Sakinah mawaddah warohmah. Walau tidak akan sama tapi Allah menghadirkan seseorang yang menyayangimu seperti mama menyayangimu. Uhibbukifillah.

r.i.a

Dukanya pada Idul Adha

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un

Sudah beberapa hari ini langit di atas rumah begitu cerah dan saya sangat suka melihatnya. Tapi tidak sore tadi, tidak sama sekali. Bahkan udara di sekitar tampak begitu berkabut, hujan masih turun rintik-rintik. Sangat nyaman untuk terlelap. Saya sedang bersembunyi di balik selimut tebal ketika tiba-tiba hape saya berdering. "Ada telpon ria, dari Marha" sahut si bontot yang sedang memainkan sebuah game ofline di smartphone saya. Telepon dari seorang ukhty yang suka sekali menanyakan "Sudah makan?" ketika sedang menelpon. Tapi tadi saya tidak mendengar pertanyaannya itu. Dia sedang menangis pedih di ujung sana. Dengan menguat-nguatkan diri dia memberitahu kabar duka itu. Bapaknya dipanggil oleh Allah SWT selama-lamanya. Sejenak saya hanya bisa tertegun, kerongkongan yang tercekat, hampir bingung harus mengatakan apa. Sangat sedih rasanya, kalau bisa saya ada di sana sekarang juga untuk sekadar memeluknya dan memberi kata-kata penguat lainnya. Walau itu tidak banyak membantu, tapi keadaan mengharuskan saya hanya bisa mengatakan beberapa patah kata bela sungkawa dan kata-kata penguat lainnya lewat udara.

Lalu saya sibuk mengabari teman-teman kami tentang berita duka ini. Memohon do'a agar Pak e diterima di sisi Allah, di tempatkan di tempat terbaik. Sungguh, beliau adalah orang yang baik. Sangat baik. Saya tidak mengatakannya begitu saja tanpa merasakan kebaikannya. Ketika Marha saudariku ini menikah awal tahun lalu, saya datang ke rumahnya di Bone-bone. Saya datang lebih dulu, 3 hari sebelum hari H. Saya disambut dengan sangat baik. Diperlakukan seperti anak sendiri, bahkan mereka tidak keberatan ketika saya panggil mereka pak e dan mak e. Sepersis panggilan bapak dan ibu sohib saya ini kepada mereka. Selain mereka begitu takjub, bisa-bisanya kami sangat mirip. Ah, bukan rahasia lagi bahwa saya dan teman saya ini selalu disangka saudara kembar oleh beberapa orang. Lalu, di rumah seketika menjadi heboh, bukde-bukdenya Marha selalu tertawa renyah ketika ada yang salah mengira kalau saya Marha. Saya hanya senyum-senyum malu-malu. Yang lebih parahnya adalah ketika sehari sebelum hari bahagia, kami sedang belajar wedding make up. No no, bukan kami, hanya Marha, make up seadanya, karena di akadnya, dia memoles wajahnya sendiri. Dan ketika hampir selesai memoles wajahnya. Mak e datang. Dan langsung mengajak saya bicara, dikiranya saya Marha dan yang make up an adalah saya. Lalu Mak e tidak berhenti tertawa ketika mengetahui yang mana kami sebenarnya. Mak e dan semua orang di rumah yang ramai waktu itu sangat baik kepada saya. Selalu menyuruh makan, tidak menganggap orang lain dan bahkan ketika saya sudah pulang ke makassar, beliau mencium kedua pipi saya sambil mengucapkan banyak terimakasih padahal saya tidak banyak membantu, membantu mengahabiskan makanan iyyah. Dan saya yakin, sekarang mak e sangat sedih kehilangan pak e. Rasanya ingin kesana sekarang juga dan memeluk mak e biar tidak sedih lagi dan lagi.

Lalu Pak e. Beliau tidak pernah menyangka saya marha. Sepertinya beliau sangat tahu yang mana anak kandungnya. Dan suatu pagi setelah acara pernikahan telah selesai, Pak e sedang makan pisang masak di meja makan. Saya dipanggilnya untuk ikut makan. Saya lantas makan dan dengan bahagianya berkata kalau pisang itu enak sekali. Lalu apa yang dilakukan pak e? Besoknya ketika saya sudah mau balik ke makassar, beliau sibuk memasukkan bersisir pisang teman yang kami makan di meja makan kemarin bersama kue-kue yang disiapkan mak e ke dalam kardus dan membungkusnya sambil berkata "Ini untuk ria" untuk sejenak hati saya begitu hangat dan tidak terasa mata saya berair. Saya mengingat almarhum bapak yang juga suka sekali mengemas apa-apa di kardus untuk saya bawa ke makassar. Dan melihat Pak e melakukannya untuk saya, saya seketika sangat bahagia. Allah, Engkau yang paling tahu seberapa baiknya sosok Pak e, Engkau yang paling tahu di tempat terbaik mana beliau layak ditempatkan.

Dan saya jadi mengerti kenapa langit di atap rumah tiba-tiba berubah menjadi kabut.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihiwa'fu'anhu. Yaa Allah, terimalah segala amal beliau, ampuni dosa-dosanya, lapangkan kuburnya, terangilah dengan cahayaMu dan penuhilah dengan kenikmatan. Allahumma aamiin.

Catatan Sebelum (menuju) Pernikahan

Marriage is a little bit like gambling, isn’t it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. Waktu kita duduk di depan meja poker atau blackjack atau dice, kita bisa memilih ingin mempertaruhkan seberapa banyak. Sedikit, sepertiga, setengah, atau semua. Kemenangan yang bisa kita
peroleh atau kekalahan yang harus kita tanggung semua, tergantung dari seberapa besar risiko yang berani kita
ambil. Tapi pernikahan tidak begitu. Saat kita duduk di depan meja penghulu dan melaksanakan ijab kabul, semua kita ”pertaruhkan”. Cinta, hati, tubuh, pemikiran,
keluarga, idealisme, masa depan, karier, setiap sel keberadaan kita sebagai manusia. Tidak bisa setengah-setengah. Saat menang, kita memang bisa memenangkan jauh
lebih besar daripada yang kita pertaruhkan. Cinta yang kita rasakan bisa berlipat-lipat, tubuh kita tidak lagi satu tapi sudah bisa melahirkan keturunan yang lucu-lucu. In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that.

Note: Kata-kata di atas jelas bukan buah tangan saya. Saya dapat dari catatan yang entah dari mana saya copy. Kalau nggak salah ingat dari novelnya Ika Natassa, yang critical eleven atau antologi rasa. Entahlah. Tapi, jelasnya, saya copy bukan tanpa alasan. Menjadi catatan penting untuk para single. Bahwa hey, nikah gag segampang itu yehhh. Kita kayak mempertaruhkan banyak hal yang kita miliki. Makanya, sebelum deal dealan, lihat-lihat dulu dia kualitasnya kayak gimana. Dannnn, kualitas kita kayak gimana juga. Wajar aja mengharapkan yang sekelas Nabi Muhammad SAW uhuk, tapi apakah kita sudah sebaik Ibunda Khodijah? Nah, lalu bagaimana biar nggak rugi ketika sudah mempertaruhkan segalanya dan nggak menyesal di kemudian hari? Dari diri kita bos. Kalau kita baik, kita akan mendapatkan yang baik pula. Sudah sering dengar kan firman Allah "Wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik dan sebaliknya". Tugas kita setelah mengajak diri kita baik adalah very very believe bahwa Allah gag akan ingkar janji. Jodohmu sesuai dirimu. Itu aja sih. Ahhhhh, maafkan saya yang belakangan ini suka tulis yang beginian, padahal masih unyu-unyu. Peace. Cuma sekadar alarm buat diri, biar makin baik. Etapi, tujuan utama menjadi baik bukan itu yah, tapi mengharapkan ridho dari Allah. Semangat para singlelillah. 😊😊

r.i.a

ISTRI BAHAGIA ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN PERKAWINAN

Saya tidak tahu apakah nanti akhirnya saya bertemu dengan seseorang dan menjalani sebuah pernikahan. Siapa yang tahu. Tapi, sebagai seorang perempuan yang juga mendambakan sebuah ikatan dan menjalankan ibadah yang disebut pernikahan, adalah hal wajar mengetahui ilmu-ilmu seperti ini. Sebenarnya, ini sangat cocok untuk yang sudah menikah. Saya copy dari fb pak Cahyadi Takariawan. Penulis hebat tentang wedding, parenting dan apapun. Bahkan berkali-kali mengadakan seminar tentang itu. Bagi yang sedang galau tentang pernikahannya, bagus membeli bukunya atau paling tidak membuka fbnya beliau saja. Banyak nasihat pernikahan diposting di sana. Dan ini salah satu postingan beliau, baru saja saya baca. Cocoknya buat bapak-bapak sih. Tapi gag ada salahnya semua pihak membacanya.

ISTRI BAHAGIA ADALAH KUNCI KEBAHAGIAAN PERKAWINAN

Ketika Harry Benson  melewati 8 tahun kehidupan perkawinan, Kate, sang istri mengatakan bahwa dia tidak bahagia dalam pernikahannya bersama Harry.

"Kau tahu aku mencintaimu, Harry. Namun setelah kita memiliki anak, aku semakin sulit untuk bicara denganmu. Kita punya hidup yang nyaman, dan kau adalah ayah yang baik. Namun, kelihatannya kau sama sekali tidak tertarik padaku. Kita bukan lagi teman. Aku merasa kesepian dan tidak berharga. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan dalam keadaan ini."

Itulah yang dikatakan Kate pada Harry. Dan hal ini menyadarkan Harry, bahwa hubungan pernikahan mereka berada di ujung tanduk.

"Semua orang tahu bahwa sebuah pernikahan yang berjalan baik, bisa saja memburuk. Tapi kami berpikir bahwa hal tersebut tidak akan terjadi pada kami. Tetapi, secara tidak sadar kami semakin menjauh dari satu sama lain, dan perlahan-lahan mulai menuju ke ambang perpisahan," ungkap Harry.

Istri yang bahagia kunci pernikahan yang sehat

Saat itulah, Harry memutuskan untuk mengutamakan istrinya. Dan ternyata, dia berhasil menyelamatkan pernikahan mereka.

Harry dan Kate melakukan survey pada 300 ibu rumah tangga untuk membuat sebuah buku berjudul What Mums Want (And Dads Need to Know). Mereka menemukan bahwa mayoritas ibu rumah tanga, mengatakan bahwa persahabatan, suami yang perhatian pada istri dan anak-anak adalah sikap terpenting yang mereka hargai dari pasangan.

Harry juga menambahkan, bahwa jika dalam sebuah rumah tangga ada istri yang bahagia, maka seluruh anggota keluarga juga akan bahagia. Itulah mengapa dirinya selalu mengutamakan kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Karena Harry tahu, istri yang bahagia akan membuat rumah tangga berjalan lancar dan langgeng.

Harry mengatakan, "Seperti halnya Kate, kebanyakan wanita menginginkan adanya persahabatan dari sang suami, melebih hal lainnya. Itu saja. Saya belajar cara mencintai Kate dengan benar, dan dia membalas cintaku. Itulah yang benar-benar diinginkan para istri, dan para suami harus mengetahuinya."

Sumber : The Asia Patent online

Senin, 23 Juli 2018

Akhirnya Gatal Juga

Sudah seminggu sejak peristiwa terseret motor sendiri di depan rumah yang mengakibatkan kaki sebelah kanan saya pada luka. Tidak separah yang dibayangkan sih, hanya beberapa titik yang akhirnya perih sebab meluncur sedemikian rupa dan tergores jalan beton. Hari-hari pertama setelah itu adalah betapa tersiksanya saya lalu berpikir sejenak "Banyak dosa nih, makanya dikasih cobaan kayak gini." duh, sadar juga ternyata 😅😅. Tidak ada yang kritis memang, Alhamdulillah, tapi satu luka di lutut yang entah bagaimana begitu lebarnya dan membuat saya harus meringis setiap permukaannya mengenai kain gamis yang saya kenakan. Juga ketika menekuk dan meluruskan kaki adalah semacam penyiksaan yang tiada berujung, ah, lebay deh. Tapi begitulah, ketika waktu sholat tiba, saya harus pakai mode slow motion gitu kalau lagi mau sujud dan si bontot yang sedang nonton korea di sebelah saya malah cekikikan dan mati-matian menahan tawa oleh karena betapa gelinya dia melihat aksi saya. Dan dia semacam menemukan senjata ampuh ketika saya sedang menjahilinya dan saat emosinya memuncak, dia dengan kejengkelan yang telah penuh akan mencoba membalas dengan menyerang lutut saya. Maka jejeritanlah saya berusaha menghindari tangannya yang hampir mendarat di luka, walau saya yakin dia tidak akan setega itu. Lain cerita dengan si mamak. Ketika tengah asyik bercerita di samping, dan hal lucu mulai jadi perbincangan, oh Allah, tiba-tiba saja dengan refleksnya memukul-mukul lutut saya yang sedang terluka, duh, jangan dibayangkan, antara geli dan perih. Dan beberapa adegan besok-besoknya yang dengan tangan lebarnya selalu entah bagaimana menyambar lutut saya. Dan parahnya, si bontot malah ikutan tertawa melihat penderitaan saya. Mereka memang jahat euyyy 😅😅.

Meski begitu, si bontot suka sekali, entahlah, semoga saja, memperhatikan luka saya. Ketika suatu hari, saya dengan cengengnya meniup-niup lutut saya karena sedang perih-perihnya, dia lalu bertanya "Belum gatalkah?". "Belumlah, orang lagi ditiup juga, artinya masih sakit." Arti pertanyaan "Belum gatal?" adalah pasti semua sudah pada mengerti bahwa, ketika kita memiliki luka dan telah berada pada fase luka itu telah gatal, maka itu berarti bahwa sebentar lagi luka itu pasti akan sembuh. Dan hari ini, setelah genap seminggu, Alhamdulillah luka saya telah gatal, yeyhhh, gitu aja bahagia yakh? Sudah bisa berjalan leluasa bahkan bisa meladeni afifa, ponakan saya berlari kesana kemari tadi sambil teriak-teriak "Kekuatan.....super" lalu tangan mungilnya memukul saya dan langsung terbirit-birit ketika saya pura-pura berlari kencang mengejarnya.

Well, pada hakikatnya "Akhirnya gatal juga" adalah semacam simbol dari sebuah babak awal dari bangkitnya kita dari sebuah luka yang baru saja kita alami. Luka akibat "jatuh" secara harfiah dan membuat kita perih a.k.a galau dengan sangat parah. Entah jatuh dari sebuah karier yang bagus, terperosok ke dalam kenestapaan sebab yang diinginkan akhirnya terlepas, atau jatuh lalu patah pada sebuah kisah percintaan. Dan kisah "jatuh" lainnya yang membuat kita akhirnya hanya bisa mengurung diri di kamar dan membiarkan bantal menjadi basah oleh air mata kesedihan. Duh, segalau itukah? Lalu pada satu titik, ketika akhirnya waktu mencoba mengambil bagian sebagai obat dari luka-luka itu, membuat kita "akhirnya gatal juga" untuk segera bangkit dan berlari menggapai yang belum kita gapai. "Akhirnya gatal juga" untuk segera move on dan mencari hal baru yang lebih membahagiakan. Meninggalkan bantal-bantal kesedihan, meraih berbagai harapan baru. Lalu menunggu kita benar-benar telah pulih dan siap untuk memulai pertarungan yang baru. Dan mungkin, di antara waktu menunggu itu, kita bisa menghibur diri dengan menertawakan diri yang terlalu cengeng memanjakan luka selama ini, yang terlalu cengeng ketika ada yang tidak sengaja menambah lukanya. Padahal kita sebenarnya mampu bangkit lebih cepat dari yang kita lakukan. Dan ketika kita telah merasa bahwa luka kita telah betul-betul sembuh, melangkahlah dan yakinlah bahwa Allah telah mempersiapkan hal yang lebih baik dari yang kita lepaskan. Lebih baik dari yang telah kita usahakan dulu. Sebab, setiap takdir detik demi detik kita, telah Allah jaminkan kebaikan di dalamnya. Bahkan untuk sebuah "luka" yang "akhirnya gatal juga" 😅😅

r.i.a

#maafkanAkuYangCurhatIni
#jugaKesimpulanLukaYangApaAdanya 😁😁

Sabtu, 10 Maret 2018

Tunggu

Perihal tunggu menunggu yang membuat kita kadang terjebak dalam roda-roda waktu yang tak menentu itu adalah semacam bias maya-maya yang entah bagaimana bisa memporak-porandakan keyakinan. Keyakinan bahwa sebagai makhluk yang segala jiwa ada dalam genggaman Penciptanya, hanya Dia menjadi tempat menggantung segala apa yang ditunggu dan menunggu. Maka, tak perlulah terlalu atas hal-hal yang belum menjadi milik kita. Sewajarnya saja, jika sudah berada dalam zona waktu yang mengizinkanmu untuk meraihnya, di situlah tugas dan amanah baru menantimu. Yaitu...menjaganya tetap utuh terutama (b)utuh kepada Tuhannya.
.
.
.
Jadi,, siapami?? (look the picture) #ehhhh

r.i.a

Pergi

Ketika kutahu kau akan pergi, jiwaku yang sedang rapuh seketika menangis dan hanya mampu berbisik dalam hati "Jangan pergi, jangan pergi" berkali-kali. Namun sungguh ironis. Aku malah memasang wajah ceria dengan senyum cemerlang yang dibuat-buat dan berkata "Pergilah, temui takdirmu. Aku tak usah kau khawatirkan." Lalu justru itulah yang sekarang aku inginkan. Aku ingin kau mengkhawatirkan seberapa menderitanya aku karena telah menabung jutaan rindu yang telah tumpah-tumpah di dada. Membuat segalanya menjadi perih, nafas yang tercekat, jantung yang seolah tak kuasa berdetak dan pandangan nanar melihat kenyataan bahwa kau sudah tidak ada di sini lagi.

r.i.a

Perkataan adalah Do'a

"Berhati-hatilah dengan perkataan, karena perkataan bisa jadi sebuah do'a". Itu adalah kalimat pembuka di status seorang akhwat yang sedang viral. Sewaktu kecil ketika orang-orang bertanya "Kakak-kakak kamu kan mau jadi dokter kalau besar nanti, terus kamu mau jadi apa? Jadi pasiennya?" begitulah kalimat orang-orang itu meluncur lancar dibarengi tawa tanpa berpikir bahwa suatu saat perkataan mereka benar-benar menjadi kenyataan. Dan kita tahu setahun belakangan ini ukhty ini beberapa kali keluar masuk rs bahkan sampai di meja beda sekalian. Innalillah. Semoga penggugur dosa.

Saya jadi teringat obrolan saya dengan teman di telpon. Biasa, sahabat yang carenya gede banget sama saya itu gemes sekali mau lihat saya cepat-cepat bebas dari status 'jomblo'. Maka, setiap ngobrol saya akan 'dihasut' untuk segera menggenap. Yang benar saja, kata saya, emang segampang balik telapak tangan? Dan dia dengan sibuknya menjodoh-jodohkan saya dengan entah teman, entah kenalannya dan memaksa saya mempercayai bahwa salah satu dari mereka adalah bisa saja jodoh saya. Well, beberapa waktu terakhir  saya agak-agak sensi dengan bahasan seperti itu. Saya sepertinya sedang mengalami trauma akibat mendengar begitu banyak kisah pernikahan yang 'gagal' di mata saya. Dan membuat saya balik nanya sama teman saya "Emang orang habis nikah bahagia yah?" Skeptis amat yah? Ketika emosi kadang yang keluar hal-hal serem memang. Lalu teman saya menjelaskan bla bla bla tentang pernikahan, suka duka dan kawan-kawannya. Dan tetap ngotot 'maksa-maksa' saya menyegera, hehe. Dan saya yang masih dalam mode 'trauma' tadi dan dalam rangka menghentikan rayuan yang terkesan 'pemaksaan' saya berujar
"TIDAK MAUKA MENIKAH"
"Eh, perkataan adalah doa loh"
"Eh, gag deh, gag deh. Para malaikat-malaikat yang lewat. Jangan dicatat yang tadi, bercanda. 😂😂" Keder juga gueh. Nikah itu ibadah, itu poinnya dan itu yang sukses buat saya kembali berkata "baiklah, baiklah, jika Allah berkehendak".

So, jaga ucapan, jaga lisan. Kata adek-adek di sini, kak..ada malaikat di sekitar kita, semua dicatat, nanti diaminkan.

Dan, setiap manusia punya air matanya sendiri. Semoga tidak menjadikan saudari yang terkena berbagai penyakit itu menjadi menyalahkan keadaan begitu saja. InsyaaAllah penggugur dosa jika ikhlas. Syafakillah, semoga dikuatkan kesabarannya.
Ada Allah yang begitu penyayang sedang membelaimu dengan lembut, sedang mengatakan sayang lewat ujian yang Dia berikan. Sedang sangat pengampunnya dan menggugurkan dosa-dosamu melalui penyakit-penyakit itu. Believe Allah, everyting will be okay.

r.i.a

Senin, 19 Februari 2018

Teparrrr

Well, seharian. Eh, ralat. 1/4 hari di ujung sore tadi adalah satu dari kegilaan yang sepertinya entah harus disyukuri atau dipenati. Penat? Ah, tidak juga. Capek mungkin. Capek yang menyenangkan. Setelah mondar mandir beberapa instansi dari pagi (terhitung tempat kerja) dan berakhir ba'da ashar. Saya dengan segala dilema antara pulang lalu berhibernasi lagi seperti hampir seminggu ini atau menggerakkan tungkai yang sepertinya telah sangat kesemutan, akhirnya maybe karena setengah jengkel sama abang-abang di sebuah Bank, bapak satpam dan pegawai berdasi di kantor pajak. Ralat lagi. Bukan setengah jengkel. SEPENUH JENGKEL. Dan saya dengan menahan nahan diri, mengakhiri perjuangan hari ini dengan bersungut-sungut melenggang dari instansi-instansi itu sambil memberengut "I HATE ADMINISTRATION". Dan berujunglah saya dengan begitu khilaf "mentraktir" diri sendiri hingga hampir bangkrut kalau saja saya tidak ingat bahwa masih ada lebih 10 hari sampai waktu gajian datang. Tidak biasanya saya begini. Kecuali satu hari yang seperti sudah menjadi ritual saya. Yaitu ketika hari ulang tahun saya, dan saya akan "mentraktir" diri sendiri, membelikan kado untuk diri sendiri dan makan apa yang saya suka. Dan anehnya, hari ini, saya dengan segala sisa-sisa kejengkelan berusaha menikmati ujung sore dengan melakukan semua hal membahagiakan itu. Hey, siapa memang yang ulang tahun hari ini sehingga saya harus membuat senang diri sendiri? Well, whatever.

Tapi tapi tapi. Sukses besar membuat saya terkapar setelah sampai di rumah. Dan apa yang saya dapat setelah sampai di depan pintu? 2 jagoan menghadang saya yang sudah seperti orang mabok yang merindukan tempat tidur dengan menutup akses masuk, berkata kalau "oh, sudah maghrib tutupmi pintu" yang tahu betul saya berdiri di depan sambil menggeram kepada mereka, alhasil kotak besar hasil traktitan diri sendiri mendarat di perut satu satu di antara mereka. Kalau saya tidak ingat kalau anak SMP ini sudah baligh, meski sudah saya anggap adek sendiri, tetap saja bukan muhrim, tentu tinju saya yang melayang menghantam mereka. Dan lebih parah lagi. Setelah dua the boys go. The girls entah dari mana, enam enamnya menyerang saya sampai sempoyongan. Langsung merebut apapun yang ada di genggaman yang berhasil saya pertahankan, alasannya, saya malas membereskan barang belanjaan setelah mereka obrak abrik. Lalu bercerita tentang film yang sudah  ditonton sampai menangis bombay dan mengekspresikannya dengan memeluk badan saya yang sudah selembek jelly lalu sok sok menenangkannya dengan mengusap punggungnya. Dan saya akhirnya harus mengalah kepada mereka semua yang sudah mengelilingi saya dengan tatapan berbinar-binar penuh harapan sambil menengadahkan tangan. Oke, pembagian "sembako" dilakukan. Mereka happy, saya makin tepar.

Tidak sampai di situ. Satu hal yang membuat saya juga serasa mau meledak-meledak sejak dari pagi adalah ada satu anak laki-laki yang entah bagaimana bisa mengetahui sesuatu tentang saya yang saya rasa siapapun tidak akan mengetahuinya jika bukan saya yang memberitahu. Dan melihat wajahnya membuat saya kembali meradang dan langsung melakukan tindakan frontal dan memaksanya mengaku mengetahui hal itu dari mana? Kapan? Dan bagaimana caranya? Yang dengan begitu santai dengan wajah liciknya dan tingkah songongnya malah tertawa dan mengaku-ngaku punya kekuatan sendiri. Maka, aksi tanya jawab yang tidak akan menemukan titik temu itu lama-lama seperti interogasi tingkat tinggi di mana saya dengan segala kejengkelan harus memegang sapu sebagai ancaman dan sayangnya dia malah punya kelincahan yang kalau tidak segera menghindar akan merasakan pukulan sapu di punggungnya. Dan aksi interogasi ini sempat membuat semua orang menghentikan kegiatannya. Maksud saya mereka terdiam beberapa saat, mungkin menerka-nerka, ada apa, tumben sekali saya bersuara sekeras itu yang saya pelankan lagi setelah si adek badung ini mengeluh "Ih, langsung diam semua orang kak." Maka saya menyerah. Baiklah, saya sebenarnya tidak amat sangat marah, tapi penasaran tingkat dewa, bagaimana dia si adek yang mulutnya gag bisa berhenti bicara itu tahu tentang hal itu. Oughhhh, dan saya akhirnya dengan memohon, lebih tepatnya mengancam bahwa, jika ada orang lain yang mengetahui itu. Awassssss saja. Entah apa yang akan saya lakukan. Dan dia memang anak slengean yang menganggap semua hanya permainan, dan memang nih anak yang paling suka bikin jengkel. Maka dia hanya tertawa lagi dan lagi. Sebel. Hewhhh..

Tapi mengingat bahwa hari ini, saya melakukan satu hal yang menyenangkan hati dan melihat barang hasil traktiran diri sendiri, maka saya memilih tersenyum saja. Saya baru sadar seexcited inikah ketika perempuan habis shopping? Lalu dengan berbinar-binar menertawakan hari yang selalu menyenangkan begini. Yah yah, tidak semua menyenangkan tapi tetap patut disyukuri. Mensyukuri bahwa di sini meski kadang ada saja yang buat jengkel tapi selalu bikin kangen kalau mereka pulang ke rumah mereka. Dan yah, akibat pekan lalu mereka pulang dan membiarkan saya melewati malam dengan mata yang tak bisa terpejam sebab telinga yang begitu sensitif, menebak hal-hal aneh yang terjadi di luar sana. Maka semalaman di malam minggu, saya tidak tidur dan membuat pagi saya rasanya bumi berputar-putar dan hal itu terjadi selama sepekan kemudian. Yah, membuat pola tidur menjadi kacau karena siang hari setelah merasa pusing, sakit kepala yang begitu menyiksa, membuat saya tidur seperti orang pingsan dan malam hari malah berasa 100 watt saja. Dan hari ini saya membayar semuanya dengan, tidak tidur siang, malah keluyuran kemana-mana berharap tenaga habis dan sebelum waktu menunjuk pukul 10 sebentar saya berharap sudah tewas dengan damai. Hewwh, kayak horor. Ralat lagi. Tidur dengan nyenyak dan membiarkan saya kembali ke pola tidur sewajarnya.

Baiklah, mata sudah 5 watt rasanya. Semoga setelah menekan button share di sebelah kanan atas tulisan ini, saya bisa menemukan kembali damainya tidur lebih awal.

r.i.a

Minggu, 11 Februari 2018

Tears

Aku titipkan air mata pada doa yang menjuntai ke angkasa.  Berharap besok tiada lagi yang menangis selain langit yang menjatuhkan air membawa serta bahagia yang berlipat-lipat.

r.i.a

Weekend

Ahad. Hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh manusia yang punya kesibukan dari senin sampai jumat, serta tambahan kegiatan di hari sabtu. Orang semacam itu adalah saya salah satunya. Tapi tidak begitu menggembirakan ketika setiap dua ahad datang. Well, sedikit bocoran. I live with many people who make me happy every single day. Kecuali minggu seperti ini. Kenapa? Karena kemarin mereka, anak-anak setara SMP itu pada pulang ke rumahnya setiap dua pekan dan parahnya dengan tega membiarkan saya semalam dalam keadaan paling tidak tenang sedunia.

Oke, begini ceritanya. Hal paling tidak menyenangkan dalam hidup saya adalah ketika melewati hari-hari yang ramai dengan suara yang berisik setengah mati dan tiba-tiba dihadapkan pada satu momen yang hanya suara nafas saya sendiri yang saya dengar. Singkatnya feeling lonely. Ada sih satu keluarga dengan dua jagoan mereka yang masih kecil yang akan bisa dengan sangat menggantikan suara berisik-berisik kemarin hanya dengan teriakan mereka. Tapi, mereka pada malam harinya akan berada di lantai dua di gedung sebelah. Dan mungkin mereka tidak akan mendengar ketika saya berteriak minta tolong kalau ada apa-apa. Oke, itu sedikit lebay dan saya tidak berharap dalam keadaan seperti itu. Dan juga, sebenarnya masih ada satu keluarga yang punya anak kecil yang imut dengan segala kelucuan yang menambah betapa bahagianya saya hidup di sini. Tapi sebakda isya mereka pamit ke rumah kakek si adek kecil. Dan saya akan lebih bahagia jika mereka tinggal dan mendengar suara tangisan si adek kecil yang menembus dinding kamar kami yang bersebelahan yang selalu membuat saya gemes dan ingin cepat-cepat datang memeluk si adek imut itu dan sangat bahagia setiap dapat pelukan manja darinya daripada hanya bisa mendengar suara aneh di luar, yang dalam pikiran positif saya bahwa itu pekerjaan si ping dan pong, dua anak kucing yang lincah sana sini berlarian yang mungkin tidak sengaja menabrak piring dan menjatuhkan gelas dari atas meja. Dan mungkin mereka yang membuat suara gedoran di pintu dan bunyi kunci rumah yang diputar.

Dan saya dengan segala pikiran positif itu mati-matian menghilangkan perasaan cemas dan khawatir yang tiba-tiba datang menyerang dan membuat saya tidak bisa memejamkan mata dengan cepat seperti malam-malam sebelumnya. Satu-satunya cara membuat semua menjadi mudah adalah membiarkan lampu menyala terang benderang, memutar mp3 dengan suara Abu Usamah dan membaca buku tebal sampai hampir habis hanya untuk memicu kantuk yang sangat saya harapkan muncul dan menyelamatkan saya dari semua rasa-rasa tidak enak itu.

Well, sepagi tadi saya bangun dengan kepala berasa habis dijatuhi besi berton-ton akibat kekurangan tidur. Entah jam berapa semalam saya bisa tidur dan memaksa saya seharian hanya mengurung diri di kamar dengan perut keroncongan. Saya akan selalu memilih memenuhi rasa kantuk dibanding rasa lapar dan juga, saya sebenarnya tidak suka menyalahkan hujan dalam kondisi seperti ini. Salah sendiri juga, tidak punya payung jadi tidak bisa keluar beli sesuatu dan mie yang tergeletak di meja tidak bisa banyak membantu. Saya sudah berjanji tidak akan sering-sering makan makanan instan itu yang menurut dokter salah satu penyebab saya terkapar di meja bedah sekitar 2 tahun lalu dan saya tidak mau berakhir seperti itu untuk kedua kalinya. Jadi, makan siang saya apa coba? 3 bungkus chocolatos dengan segelas besar air putih dan teh.

Hari ahad yang menyenangkan bukan? Oke, saya berhenti pura-pura bahagia tapi mengingat sebentar lagi rumah akan kembali ramai, saya dengan segala sisa-sisa kekhawatiran masih menyunggingkan senyum ceria. Paling tidak, sebentar lagi ada anak-anak yang siap dibully atau teman berkelahi datang dan membuat keadaan rumah berisik dan membebaskan saya dari rasa berada di kuburan. Fiuhhh, ah baiklah kita kembali menghabiskan saja buku tebal yang bersisa dari semalam untuk diakhirkan sebelum tidak ada waktu untuk me time karena banyak anak-anak yang mengganggu atau siap diganggu. 😊😊

r.i.a

Jumat, 02 Februari 2018

Langit Merah

Ada setetes air jatuh di pipimu malam itu
Ketika langit sedang bahagia-bahagianya menyambut bulan yang sedang menikmati gerhana

Sesenggukan engkau akhirnya
Pada ayat pertama Al-Fatihah sang imam
Pada dua rukuk panjang dan syahdu
Juga di kala sujud-sujud sedang mendamba kabul do'a-do'a

Langit sedang memerah kala itu
Sedang hatimu tengah hangat memuja pencipta alam semesta
Dan setetes air mata yang jatuh tadi, berubah derai-derai deras menjejaki pipimu

Sungguh, ketika jagad raya bersenandung ayat-ayat KuasaNya
Kau wahai diri, beruntunglah
Sebab telah diberi nikmat melepaskan rindu pada tali kasih yang telah lama kusut bahkan tertelan akan dosa-dosamu

r.i.a
Maros, 2 Februari 2018

Kamis, 01 Februari 2018

Angin Mimpi

Tahukah kamu perihal angin yang menerbangkan mimpi-mimpi?
Kini ia tengah menari-nari dalam kotak hati
Meninggalkan jejak berbagai mimpi yang coba kita rangkai di waktu dulu
Kemudian memakunya
Sakit memang sebab mimpi-mimpi itu kini hanya jadi prasasti di sanubari

Apa yang selalu suka kukenang perihal kita?
Adalah berlembar-lembar mimpi yang telah kita pahat pada kulit pohon pinus
Lalu mengucapkan mantra dalam pejaman mata
Semoga esok ketika dewasa, mimpi itu hadir menghampiri kita

Lalu, satu tanya yang selalu merongrong kesadaranku
Bahwa pernahkah angin mimpi sekali saja singgah di hatimu lagi?
Mengetuk isi mimpi di kepalamu
Menyatukan kembali puzzle mimpi yang pernah kita rajut bersama
Perihal aku dan kamu yang menjadi kita
Pernahkah?

r.i.a

Jatuh

Beribu kupu-kupu menari-nari dalam perut
Sekejap serasa menggelitik namun juga memaksa berdegup-degup tidak karuan
Adalah matamu yang menyiratkan keagungan
Berkilau di balik pandang syahdu yang gagah

Jika sayang ini akhirnya hadir berlipat-lipat dengan hebatnya di dalam jiwa
Juga kasih yang tak mau berhenti berdendang kencang
Jangan salahkan hati yang mulai berharap banyak
Sebab jatuh memang tak pernah direncanakan

r.i.a
Maros, 30 Januari 2018

Titik

Lihat, pada akhirnya aku berada di posisi ini bukan?
Berhenti pada sebuah cerita yang berharap tidak akan terulang kembali

Telah kupadamkan binar mata yang berkilau rasa
Juga membunuh bermacam-macam kebahagiaan yang terbungkus dalam maya-maya
Dan membiarkan semua dalam koridor sebuah kewajaran

Tidak perlu lagi ada kisah berdarah-darah berbingkai drama
Berhenti dalam kedamaian sambil berpejam mata
Merasa bahwa betapa berdiri di sini, lepas sebentuk beban
Menguap bahkan menari dengan bahagia ke angkasa

Aku dan rasa yang tenggelam
Kini menjelma ikhlas berparas damai
Berhenti bukan berarti kalah
Tapi memulai cerita kemenangan

r.i.a
Maros, 1 Februari 2018

Dilatasi

Berderai
Berserak
Bergolak
Di sini

Hilang
Remuk
Kosong
Di sana

Janji dan ingkar
Temu dan pisah
Sekat dan dekat
Adalah aku dan kamu

r.i.a
Maros, 31 Januari 2018

Senin, 29 Januari 2018

Kehilangan Tawa

Aku terkapar di lantai sepi
Kedinginan menatap luka-luka yang menangis pilu
Meneriaki jalan panjang yang berlari menjauh
Meninggalkan berbagai duri kehidupan pada lelahnya jiwa yang meratap pilu

Kemana perginya segala tawa?
Di mana senyum-senyum cemerlang itu singgah dan lupa kembali pulang?
Sungguh, aku sedang rindu
Aku rindu tertawa dengan begitu bahagia
Waktu kau dengan ceria bercerita tentang rupa-rupa lelucon dunia

r.i.a
Maros, 29 Januari 2018

Sabtu, 27 Januari 2018

Titip Rasa


Ketika lengan malam mendekap dalam gelap
Aku meringkuk bersama sepi di lorong hampa yang dingin
Menyesap berbagai andai
Meraba berjuta harap
Menumpahkan bermacam lara yang tak mau pergi
Memutar ratusan memori tentang kita yang kini hanya bisa menertawai

Ada berapa banyak aku dalam kamu?
Sedang kamu tidak terhitung banyaknya dalam aku yang bertaruh dengan waktu
Pernah kudengar, aku tak lebih dari pandang sebelah matamu
Terusir bersama hening, terkoyak sepi pada labirin kenestapan
Yang sayang masih saja menyimpan banyak ingin jumpa di kedua bola mata

Pada apa harus aku titip rasa ingin temu?
Apakah pada air mata yang menggenangi sungai kesepian?
Ataukah pada do'a yang telah bosan menembus angkasa raya?
Ketahuilah, kau masih saja yang aku sebut

r.i.a
Maros, 27 Januari 2018

Jumat, 26 Januari 2018

Bisik Rindu

Di setiap nafas pagi matahari
Ketika deru suara angin lembut menerpa
Aku dan mata senduku tak pernah berhenti
Mengamati jejak-jejak langkahmu di balik jendela rindu.

Mata yang terpejam
Bibir yang membeku
Hanya mampu mengandalkan telinga
Untuk apa?
Meraba derap suara yang kau tinggalkan di setiap persimpangan-persimpangan canda

Sekali lagi, jatuh yang kesekian kali
Bersama pedih-pedih bisik merpati
Ada air mata yang menitik
Membasahi ujung-ujung terali besi
Tempat aku menabung rindu yang tak terperih

Tidakkah hatimu juga berkeluh
Perihal kangen yang buncah-buncah ingin menggerus
Pada setiap waktu yang begitu tega menggilas tunggu
Hanya sekadar satu kata "temu"?

Beranda ini tuan, telah lelah menjadi sandaran penantian
Telah koyak oleh tetesan kesedihan
Dan kini ia ingin menghilang
Karena tidak mampu menampung perih yang setiap hari tak berhenti tertuang

Jumat, 12 Januari 2018

Janji

Janji yang tak terkatakan begitu hebat menerjang keyakinan.
Jika bukan karena titah dari kerajaan hati,  maka lama sudah aku tumbang bersama puing-puing kenestapaan.

Lelucon

Terlalu banyak lelucon di dunia ini yang minta untuk ditertawakan. Tapi tak ada lelucon yang lebih konyol selain bahwa banyak yang tetap bertahan meski tak ada yang mencoba menahan. Banyak yang tetap menunggu meski tak ada yang berjanji untuk datang. Banyak yang tetap berharap meski tak ada yang pernah menanam benih asa. Yah, karena dunia tak lebih dari hanya sekadar senda gurau berpenuh lelucon yang siap ditertawakan.

Bidadari Kecil

Entah selalu harus bagaimana diri ini mengucap syukur. Di salah satu sudut rumah ini, Allah menitipkan ragaku untuk kembali mengecap cinta melalui deru nafas yang beraturan, melalui kelopak mata yang indah meski sedang terpejam, melalui gerakan slow motion memperbaiki posisi nyenyak yang mungkin terganggu oleh silau lampu kamar atau desir suara kipas angin.

Dua bidadari kecil dengan suara cempreng menyambutku pertama kali di rumah surga ini dengan penuh sayang. Suara cempreng yang berubah indah di kala sebakda subuh melalui tasmi' panjang sehalaman ayat suci keagungan Allah membuka hari dengan syahdu. Suara manja yang memintaku tidur di antara mereka di malam kali pertama mataku sukses terpejam bahagia dalam tenang. Tubuh mungil yang menggeliat kala fajar mulai tampak oleh tepukan lembut atau suara gedoran pintu. Wajah lucu yang tetap imut mencoba mengusir kantuk karena sempoyongan ke kamar mandi lalu membasuh tangan, wajah hingga kaki sampai suci.

Lalu harus bagaimana aku bersyukur bahagia sebab telah dikirim ke dalam kotak penuh sayang ini, dibungkus dengan canda dan tawa, lalu dihiasi pita-pita keberkahan. Lihatlah, dua makhluk kecil yang sedang berenang dalam kolam mimpi ini. Bidadari kecil yang Allah kirim sepaket dengan kelincahan kaki dan tangannya. Betapa aku yang tidur di antara mereka tiba-tiba terjaga oleh laku mereka. Seorang kakinya di atas perutku, seorang lagi kepalanya menggeser posisi kepalaku, membuatku kegerahan dan berakhir menertawakan diri di tengah malam.

Ah, bidadari-bidadari barunya kak Ria. Adik-adik lucu dan imut yang punya senyum bahagia. Ayo bekerjasama yah. Bahkan hari pertama kak ria masuk di rumah surga kita, kalian sudah memberi kak Ria pe er yang begitu banyak. Membuat kak Ria kembali menjadi sosok cerewet yang super bawel karena tidak tenang melihat banyak hal tidak pada tempatnya. Dan sekali lagi, kalian menggunakan senyum yang berkilau untuk menyihirku dan membuatku tenang menjalani hari-hari penuh sayang di tempat ini.

Sekali lagi kupandang wajah dua perempuan cilik ini dan berharap besok mereka masih ada di sampingku menemaniku mengusir gelisah akan kesendirian menyelam dalam mimpi.

Maros, 10 Nopember 2017
~*Hasdaria

Rindu Rosulullah

Wahai lelaki yang punya cinta untuk ummatnya yang luar biasa akbar.
Cinta yang jika ada cinta yang dikumpulkan dari seluruh umatnya tak mampu menyamai sedikitpun menyamai cinta yang ia miliki. #MuhammadSAW

Wahai lelaki yang punya tangisan rindu yang sesak kepada ummatnya. Yang jika ada rindu yang tiada bertepi ditujukan padanya, tak sedikitpun menyamai rasa rindu yang ia miliki. #MuhammadSAW

Yaa Rasulullah. Yaa Nabiullah..
Rindu yang kami miliki adalah rindu-rindu yang malu-malu tertuju padamu. Sebab, apalah rindu yang kami miliki ini, rindu yang dinodai berbagai dosa yang mengkhianati rindumu.

Rindu kami yaa Rasulullah.
Rindu kami, rindu yang walau malu-malu, tetap ingin kami kirimkan lewat dingin malam, lewat pecahan tangis yang bersujud. Karena Engkaulah cahaya firdaus yang dikirim ke bumi untuk menerangi kami.

Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

*Maulid Nabi Muhammad SAW 1 Desember 2017 M/12 Rabiul awal 1439 H

Denganmu, Aku

Bersamamu aku bisa memiliki senyum cemerlang.
Hanya mendengar suaramu aku bisa punya tawa yang paling bahagia.
Tapi pada sisi lain, denganmu aku punya tangisan yang sungguh menyakitkan.
Maka, melepasmu adalah caraku membiarkanmu menemukan bahagiamu yang paling berkilau.

r.i.a

Mencintai dengan Cara Ketiga

"Coba tebak tiga cara mencintai?" tanyaku mengujimu
"Pertama, seorang wanita yang menangis.
Kedua, seorang lelaki yang menghapus air mata wanita itu.
Yang ketiga...yang ketiga..."jelasmu menggantung.
"Yang ketiga?" Buruku penasaran..

Dan kau hanya tersenyum...

Lalu aku memandang wajahmu penuh tanda tanya. Menuntut diberi jawaban atas tiga cara mencintai yang masih engkau gantung.

"Hmmm, baiklah.." kau menarik nafas begitu dalam seakan jawabanmu begitu berat kau ucapkan.

"Yang ketiga adalah seorang lelaki yang menangis dan tak seorangpun yang menghapus air matanya." Kali ini kau menatap mataku lekat.

"Dan aku mencintaimu dengan cara ketiga"

r.i.a

Senyum

Sebaris duka yang menggelayut di permukaan wajah seketika sirna oleh satu senyum yang kau lempar ke kedalaman samudera jiwa.

Melepaskan

Sebab pada hakikatnya, cinta itu melepaskan. Melepaskan dan menyerahkan seluruh keputusan hanya di tangan Allah. Melepaskan dan menerima segala ketentuan yang berharap melimpah keberkahan hanya dari Allah. Memang benar, engkau akan bahagia jika berjodoh dengan orang yang kau cintai karena itu berarti nama yang kau sebut dalam doa panjangmu adalah yang bersisian dengan namamu di lauh mahfudz. Pun tentu engkau akan bahagia jika akhirnya dipertemukan dengan orang yang mencintaimu, sebab hanya namamu yang ada dalam doa panjangnya selama ini.

Dan adapun aku. Aku tidak ingin menyebut satu nama. Sebab, aku akan malu jika nanti ternyata Allah pertemukan dengan orang yang tak pernah kusebut namanya dalam talian doa-doaku. Juga aku akan begitu malu jika ternyata  kelak aku berjodoh dengan dia yang dengan khusyuk menyebut namaku dalam sujud panjang di antara rakaat sholatnya.

r.i.a

Rintih Hati

Lihatlah, hati masih saja mengaku pencari surga tapi di dalamnya bersarang ribuan dosa.
Kebaikan secuil serasa selangit, di antara mata manusia ia khusyuk tapi dalam sepi ia berkawan maksiat.
Sungguh, manusia telah banyak meninggalkan iman dalam lorong-lorong kemunafikan.
Diam-diam berharap neraka membeku bahkan hilang lenyap tak bersisa.
Waktu yang ia miliki, ia hambur-hamburkan dalam kedurhakaan kepada Tuhannya.

Tidak cukupkah peringatan yang sampai padamu wahai hati? Marilah kita kembali merengkuh do'a-do'a pengampunan dalam taubat yang sesungguh taubat.
Tidak cukupkah kabar gembira membesarkanmu wahai iman? Marilah kita kembali memeluk do'a-do'a harapan kepada Tuhan kita agar diberi surga.

Dari rintihan tetes air mata yang telah jarang menyentuh pipi tawadhu bersarang iman.

r.i.a

Pesan Rindu

Pesan rindu yang terangkai, kebingungan hendak bagaimana sampai pada pemiliknya.
Maka dia hanya mendekap dalam jeruji kesepian menelan pahit ketaksampaiannya.
Bertanya-tanya, kapankah waktu akan mengajaknya melepaskan bebannya.
Sekarang ia sedang tergugu sendu ingin meneriaki semesta. Meminta tolong agar ia diterbangkan segera menuju. Padamu..

r.i.a

Do'a Kecil

Mengiba kepada hujan untuk berhenti sejenak. Sekadar menyelamatkan ingatan akan percakapan manis dulu. Sebab kini, semua serasa...entahlah, antara legah dan sesak. Dan berada pada dua perasaan yang ambigu ini menimbulkan perasaan aneh yang begitu asing. Kemudian aku menengadah, ada ribuan malaikat yang dengan lembut membawa sisa-sisa air hujan. Di lengan mereka kutitipkan do'a, berharap menembus lapisan langit. Doa kecil perihal agar kau selalu bahagia.

r.i.a

Hidup yang Berwarna

Ada hitam ada putih.
Tapi di sana ada merah kuning hijau.
Di sebelahnya ada biru dan abu-abu.
Namun kaki hanya ada dua.
Sedang ingin begitu banyak.
Ingin menikmati semua warna warni kehidupan.

Allah, tolong panjangkan langkahku.
Karena tak mungkin kutambah jumlah kakiku.
Engkau telah anugerahi keluasan bumiMu untuk kujejaki.
Sehingga, merah kuning hijau serta biru dan abu-abu bisa kudekap begitu erat.

Ada yang bilang, hidup begitu singkat.
Hanya pada awal adzan berujung iqomat.
Lahir diadzani, mati diiqomati.
Maka, sepanjang adzan dan iqomat.
Izinkan aku menyelami aneka rupa warna dunia.
Untuk kubawa kebaikannya hingga ke akhiratku.
Sungguh, nikmatMu yang manakah yang akan terdustakan?

r.i.a

Biarkan Aku Pergi

Telah kutinggalkam sembilu di laci keheningan.
Telah kuusir duka yang mengambang di telaga kekosongan.
Juga telah kucerabut lara yang terus saja mengintai di balik jendela.
Bagiku hidup harus terus bernafas, meski telah kutinggalkan segala yang dulu mengukir cita di segala sudut harapan.
Maka, biarkan aku pergi ke segala penjuru mata angin.
Hingga nanti, kulupa bahwa kau pernah ada di kehidupanku yang telah usai.

r.i.a

Cangkir Rindu

Aku dan sepi duduk berdua menikmati secangkir rindu yang diseduh dengan air mata kehilangan..

r.i.a

Bisik Mata

Mata berbisik kelu perihal ia takut terpejam sebab jika ia terpejam, maka ia akan terjebak dalam bingkai yang penuh wajahmu

r.i.a

Singgahlah

Jika telah lelah, singgahlah sebentar

Sekadar menyapa jutaan kelip sayang yang ada di mataku

Dan, kemaslah kembali pecahan-pecahan rindu kita sebagai bekal dalam perjalananmu

r.i.a

Bahagiaku

Bahagiaku sederhana, sesederhana menghirup udara pagi dan menikmati segelas kopi di teras rumah. Melihat anak-anak kecil berlarian menggigil karena disuruh ibunya mandi sepagi buta di cuaca yang hampir minus derajat. Sebinar mataku dulu ketika bapak pulang sore-sore dari menyetir mobil angkutan umum dan sekali lagi menginjak rem hanya untuk membawa kami anak-anak sekompleks keliling desa sekali putaran yang berhasil memutar kebahagiaan itu berkali-kali dalam ingatan sampai mata terpejam malam harinya.

Dan aku sampai kini masih saja tersesat dalam labirin-labirin kebahagiaan yang sulit aku ungkapkan. Meski di mata orang begitu sepele. Semisal, hanya jalan-jalan ke pasar dan melihat berton-ton ikan segar, berkilo-kilo sayuran dan tomat yang memerah. Semisal menikmati masakan kapurung mama yang menjadi requestan pertamaku setiap kali pulang kampung. Seriang pendengaranku yang dijejali suara mama mengabarkan banyak hal di kampung jika sudah kembali ke kota, menghabiskan 200 menit talk mania yang dipakai untuk curhat apa aja. Seceria langkah kakiku yang tegap namun getar di antara kabut-kabut yang mendinginkan hampir seluruh saraf-sarafku, menghirup udara basah yang penuh kabut dan angin sepoi yang berhembus seakan menampar wajah berkali-kali di sebuah kaki gunung.

Sekali lagi, bahagiaku sederhana. Sesederhana menghabiskan berlembar-lembar goresan pena penulis hebat yang sukses membobolkan air mata saking sedihnya atau meledakkan tawa saking hancurnya. Dan temanku akan bergumam setelah melihat wajahku yang tertekuk atau sedang merenung karena terlalu menghayati isi cerita "Merasa sebagai pemeran utama lagi?" sambil geleng-geleng kepala dan sejurus kemudian melempar ledekan-ledekan jahat soal 'hey, kamu kan gagah, masak gitu aja nangis?' sedikit menjengkelkan tapi sukses menerbitkan kembali senyum yang sempat hilang.

Sesederhana menikmati kembali potongan-potongan kenangan masa lalu lewat beberapa lagu lawas "Hindi" yang aku sendiri kaget, masih hapal di luar kepala saja saya lengkap dengan kisah dan siapa-siapa pemerannya dan buat teman aku geleng-geleng kepala. Secara, entah bagaimana, dulu waktu kecil, di rumah kami yang ruweh setiap hari memutar dvd-dvd india dan ikutan joget nggak karuan. Tidak kehitung lagi berapa vcd yang disewa bapak cuma untuk membawakan hiburan untuk kami di rumah.

Dan ini, di hari pertama liburan yang dikasih ummi adalah sebagian dari banyaknya bahagia yang diturunkan Tuhan kepada hamba yang masih jauh dari ketakwaan dan ketaatan ini tapi selalu diberi dan diberi kejutan setiap saat. Membuatku sadar, untuk bahagia tak perlu mewah. Untuk bahagia tak perlu mapan, untuk bahagia tak perlu jauh-jauh mengejar sampai ke kutub segala. Untuk bahagia tak perlu menunggu siapa untuk membuatmu bahagia. Karena sebenarnya, bahagia itu, ada dalam hati yang bersyukur...

r.i.a

Pagi

Apa yang menerbitkan senyummu pagi begini? Sarapan yang enak? Mendengar lagu kesukaan? Melihat orang-orang tersayang masih dijaga Tuhan?

Aku? Aku melihat matahari terbit dan lengkungan di bibirkupun terbit dengan ceria..

r.i.a

Kenangan

Kenangan adalah hal termegah yang dimiliki setiap orang. Mampu meloloskan beberapa tetes air mata kesedihan. Juga dengan hebatnya bisa membuat lukisan senyum indah di bibir yang sedang bahagia.

Kenangan mudah sekali hadir di dalam kepala. Menari-nari, berputar-putar bahkan berlompatan dengan lincah. Apalagi ketika dihadapkan pada satu momen yang sepersis dengan isi memory kita.

Apa yang aku pikirkan duduk di depan air yang mengalir ini? Tidak ada sebenarnya. Hanya, beberapa kenangan muncul secara tiba-tiba di kepala. Melesatkan berbagai peristiwa-peristiwa hebat masa kanak-kanak.

Sungai, air yang mengalir, suara gemericiknya hingga bebatuan dan rumput-rumput serta daun dan tumbuhan yang begitu asri mengelilingi sungai. Di belakang rumah kami, sungai yang lebar teraliri air yang banyak, tumpah meruah. Salah satu anugerah Tuhan yang melengkapi kanak-kanak kami dengan begitu cerianya berlompatan, berkecipratan, berlarian, bermain apa saja di sekitar sungai dan terutama di dalam air sungai yang mengalir hebat jika sedang musim hujan dan tenang saat kemarau datang.

Aku pernah merasakan, betapa bahagianya ketika sepulang sekolah dan perut telah terisi makanan masakan mamak, teman-teman memanggil di kolong rumah, mengajak bermain di sungai. Berenang sambil main tangkap-tangkapan, membuat rumah-rumahan dari tumpukan batu-batu, saling bercanda, tertawa tanpa beban. Dan jika sedang deras-derasnya air sungai, maka siap-siap kena semprot atau pacutan kayu sebesar lengan orang dewasa ketika pulang dan ketahuan habis berenang. Mungkin karena dulu waktu kecil, saya lebih suka bermain dengan adik laki-laki yang beda usia setahunan, maka tingkahku agak tidak jauh beda dengannya. Nakal ala-ala anak laki-laki yang keluyuran entah sampai di mana. Tapi dulu, orang tua bukanlah orang tua model orang tua jaman sekarang. Orang tua jaman dulu tidak seprotek orang tua sekarang. Nanti kami dicari jika benar-benar sudah maghrib dan belum muncul di depan pintu. Maka, mamak dan bapak selalu percaya, kami akan pulang sendiri jika sudah lapar atau jika sudah sore kami akan kembali entah dengan keadaan baju basah, lumpur di mana-mana dan sukses buat mamak kecapekan hanya karena mencuci baju kami yang super kotor.

Dan di sinilah aku, di hari kedua waktu liburanku, aku kembali menapaki jalan yang sama di hari pertama, walau sedikit menanjak untuk bisa melihat sungai kecil di atas air terjun. Rencana yang tinggal rencana tentang pendakian ke lembah ramma tidak terlaksana sampai kami pulang sebab cuaca yang tidak mendukung. Inipun dari pagi hingga siang hujan mengguyur dan mencipta kabut dengan jarak pandang sekitar satu dua meter saja. Akhirnya, tanpa mengurangi kebahagiaan kami berjalan di antara semak-semak dan udara basah menikmati sepenggal tanah indah di kaki gunung ini. Bukannya sungai adalah salah satu ikon paling sering disebut dalam penggalan surganya Allah?

Maka, selalu ada banyak cara untuk menikmati hidup bukan??

r.i.a

Jika Kita Tersesat di Hutan

Jika suatu hari kita tersesat di hutan. Kau tak perlu susah payah menghiburku agar aku tidak takut. Sebab di dalam sana, ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan dengan lincah di antara bunga-bunga liar yang sedang mekar. Itu sudah cukup membuatku tertawa.

Jika kita akhirnya semakin jauh terjebak. Kau tak perlu takut bahwa aku akan bersedih hati. Tidakkah kau tahu, di sana berbagai warna dunia tercipta sempurna. Hey, kau tahu ada berapa jumlah warna capung? Aku pernah melihat berbagai macam warna. Hijau, kuning,  cokelat, merah dan biru. Dan kau mesti tahu aku suka melihat mereka hinggap di daun-daun rindang.

Jika hutan tiba-tiba menjelma gelap gulita, kau tak perlu cemas. Aku yakin, ribuan kunang-kunang akan menerangi jalan kita untuk kembali pulang. Lincah menuntun kita di antara semak belukar dan bebatuan. Dan yakinlah, aku tidak akan menangis jika kita belum juga berhasil menemukan jalan keluar. Karena, bersamamu sudah cukup menghentikan air mata yang ingin merembesi pipi.  Melengkapi lengkungan senyum di bibir, mencerahkan tawa yang berisik beradu desir angin, mendendangkan degup jantung bernada cinta yang mengusir segala rasa gulana.

Tapi pastikan satu hal saja. Bahwa kau menjaga dirimu baik-baik. Itu sudah cukup.

r.i.a

Cinta Seorang Wanita

Aku bertanya pada seorang wanita
"Mengapa masih bertahan saat telah begitu banyak disakiti?"

Jawabnya "Karena aku punya maaf yang lebih banyak dari sakit-sakit itu."

Dan aku bingung. Sekuat itukah orang yang sedang mencinta?

r.i.a

Tunggu Ibu, Salwa Ingin Pulang

Ibu, adalah surga yang selalu dirindukan. Hangatnya, kasihnya, cintanya, perlindungannya, semua hal yang tidak akan selesai kita hitung hanya menggunakan jari-jari tangan dan kaki kita.

Sudah hampir 2 bulan saya hidup di antara adik-adik yang ketemu gede di sini. Setiap hari  hidup serasa sangat berwarna. Kadang tawa selepas-lepasnya, sebel sesebel-sebelnya, haru seharu-harunya. Seharu malam ini ketika hampir seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam buaian mimpi-mimpi.

Sebakda isya ada seorang adik akhwat yang paling kecil di sini. Dia baru duduk di bangku kelas 4 SD. Memilih hidup di sini berarti anak-anak ini harus berani tanpa ibu dan bapaknya. Sama seperti adik ini. Salwa namanya. Diam, duduk di dekat pintu. Beberapa kali teman sekamarnya memanggilnya untuk tidur. Saya yang duduk di sekitarnya mulai bertanya "Ngapain duduk di situ dari tadi?" merasa heran karena hampir sejam saya duduk di ruang depan mengamati berbagai kesibukan penghuninya yang hiruk pikuk. Ada yang sedang makan, beberapa adik ikhwan menyetor hafalan, beberapa adik akhwat bercerita ngalor ngidul, seorang adik ikhwan menyetrika dengan serius, anak kecil sedang menangis karena ditinggal umminya barang sebentar dan abinya tidak berhasil menenangkannya, seorang bocah balita sibuk dengan mobil-mobilannya dan saya sendiri yang sibuk mengamati mereka satu persatu dengan berbagai ekspresi.

"Tunggu ibu kak" akhirnya Salwa menjawab dengan suara pelan. Dan aku kembali mengedarkan pandangan mengamati berbagai adegan kehidupan. Salwa duduk bersandar di dinding sepersis gaya saya.

Dari bakda isya tadi ibunya Salwa akhirnya datang pukul 22.00, membawakan kebutuhan adik satu ini. Sekejap saja, lalu pergi lagi. Adegan pertemuan mereka tidak sempat saya saksikan karena sudah sibuk bersih-bersih persiapan tidur. Lalu, saya dengar suara deru mobil bersamaan dengan ucapan "da da" dari Salwa. Namun belum beberapa detik setelah menutup pintu rumah, adik yang tadinya saya yakin pasti bahagia akhirnya bertemu ibunya malah kembali membuka pintu, berlari mengejar mobil sambil berseru memanggil ibunya. Suaranya mulai berubah bercampur isakan kesedihan.

Saya dan seorang adik akhwat yang lain ikut keluar rumah, berlari mengejar Salwa yang sudah berada jauh di ujung jalan. Saya percepat berlari takut-takut terjadi apa-apa dengan si kecil. Akhirnya kami bertemu dengannya dalam keadaan sudah berderai-derai. Air matanya jatuh begitu banyak disertai isakan menyedihkan.

"Loh, kenapa dek?" Saya termasuk tipe manusia yang susah sekali menghadapi orang yang sedang menangis. Karena adik ini suka bermain dengan saya, maka saya hanya tertawa melihatnya menangis.
"Mauka pulang kak"
"Kenapa mau pulang?" Saya rangkul menuntunnya kembali ke rumah.
"Rinduka mamaku."
"Kan barusan ketemu." Dia malah bertambah berderai lalu berlari masuk kamarnya menyembunyikam wajah di balik bantal.

"Sudahmi dih, besokpi lagi ketemu mamata, besok kak ria kasih pinjam hape buat telpon"
"Hiks,hiks" tangisnya sedikit redah tapi isaknya belum. Dan saya masih bingung bagaimana menenangkannya. Hanya bisa elus-elus kepalanya. Untuk pertama kalinya saya lihat dia menangis sesedih ini.
"Hmmm, bobo sama kak ria yuk, ntar kita nonton lagu india di kamar kak ria." Entah bagaimana, mungkin karena sudah hampir seminggu ini, dia suka ikut nonton youtube lagu india sama saya akhirnya ikutan suka juga dan seperti dugaanku, tangisnya sudah berhenti saat kami menonton soundtrack aashiqui 2. Tapi isaknya sesekali masih terdengar.

Baiklah, ini pengakuan saja. Lagu india itu sesuatu di hati saya jadi tolong dipahami. Hehe

Melihat Salwa yang akhirnya tertidur pulas sejak tadi setelah menonton sekitar 4 lagu india, juga menerbangkan ingatan saya ketika pertama kali berpisah dengan orang tua. Hampir seminggu kerjanya hanya menangis di kamar mandi karena malu dilihat teman-teman di asrama. Itu saat saya sudah kuliah. Sangat jauh lebih tua dibanding umur Salwa yang masih SD kelas 4 ini. Lalu saya sambil mengelus kepalanya bergumam.

"Dek, kamu lebih kuat dari kak ria sayang..."
Masih sekecil ini sudah mau jauh-jauh dari orang tua, sudah belajar mandiri. Saya salut melihat adik Salwa yang paling kecil ini ketika menjemur pakaiannya sendiri, mengambil pakaian dari jemuran lalu melipatnya, menyapu kamar, mencuci piring sendiri. Dan jarang sekali mengeluh. Paling rajin kak ria mintai tolong. Apalagi kalau sudah sakit sedikit, Salwa suka pijitin dari kepala sampai kaki kadang sampai tangannya sakit dan saya tidak tahu karena dia tidak mengeluh. Nanti kalau sudah lama saya sadar sendiri kalau sepertinya dia sudah capek. Paling suka temani ke warung depan beli apa saja walau tanpa iming-iming akan dibelikan permen atau makanan kecil lainnya. Paling enak diajak jalan-jalan sore keliling kompleks.

Dan meski ribuan tawanya terbit dan memecah rumah, namun hatinya tetaplah menjeritkan kata ibu, ibu, ibu.. Ibu, Salwa rindu.. Semoga makin solehah sayang, Allah sayang sekali sama kamu dek, di sini ibumu punya niat yang mulia. Melihat Salwa menjadi hafizah, penjaga ayat-ayat Allah. Menghadiahkan beliau mahkota kemuliaan di akhirat kelak. Maka semangat adikku. Semoga suatu hari bisa berkumpul lagi dengan ibu dalam keadaan sudah jadi hafizah. Allahumma aamiin

r.i.a